: WIB    —   
indikator  I  

Bijak mengelola dana institusi

Bijak mengelola dana institusi
Staf Pengajar FEB-UI dan Penasihat Investor Institusi

Selain dibagi menjadi investor domestik dan asing, investor di pasar saham juga dikelompokkan menjadi investor institusi dan investor ritel. Investor institusi adalah perusahaan asuransi, dana pensiun, manajer investasi reksadana, holding company, perusahaan sekuritas dan hedge fund asing. Lainnya adalah investor individu atau investor ritel.

Sedikitnya ada enam perbedaan kelompok investor ini, seperti yang pernah saya tulis dalam artikel Investor Institusi vs Investor Individu di kolom ini tiga tahun lalu. Intinya, mengelola dana institusi tidak sefleksibel investor perorangan memutarkan uang pribadi.

Jika investor ritel boleh membeli saham bagus berkapitalisasi kecil dan tidak likuid yang diprediksi memberikan return tinggi, investor institusi tidak bisa menerapkan strategi itu. Perbedaan lain, jika investor ritel boleh tidak melakukan diversifikasi karena tidak perlu mempertanggungjawabkan ke pihak lain, investor institusi mesti melakukannya.

Memahami perbedaan ini, kita kaget ketika membaca berita di harian ini dua pekan lalu. Sebuah dana pensiun (dapen) BUMN dengan dana kelolaan lebih dari Rp 10 triliun membeli sebuah saham, yaitu SUGI hingga Rp 700 miliar.

Dengan belanja sebesar itu, dapen yang tahun lalu mencatatkan return 29,9%, menguasai 8,1% SUGI. Inilah susahnya mengelola dana besar. Berinvestasi sekitar 6%-7% dari total dana kelolaan, mendapuknya menjadi salah satu pemegang saham utama dengan kepemilikan signifikan. Jika dana ratusan miliar tersebut membeli saham-saham sekelas BBRI atau BBCA atau UNVR, dapen itu hanya mendapat 0,25%.

Keterkejutan kita bukan karena dapen ini memegang 8,1% saham emiten energi, tapi karena transaksi harian SUGI hanya Rp 15,3 miliar dan tak masuk kelompok 45 saham terlikuid (LQ-45). Rule of thumb banyak manajer investasi adalah memegang saham-saham LQ-45 senilai maksimal lima kali nilai transaksi hariannya. Tujuannya agar dapat keluar dari saham ini dalam sepekan jika sesuatu yang tidak diharapkan pada emiten terjadi.

Jika transaksi harian sebuah saham Rp 15 miliar, seorang manajer investasi akan mengoleksi maksimal Rp 75 miliar untuk saham itu. Praktiknya, dengan membeli sebuah saham hingga lima kali transaksi harian, investor perlu lebih dari lima hari bursa agar dapat keluar dari saham ini atau rata-rata dua kalinya, yaitu 10 hari agar harga tidak terjun bebas.

Dalam kasus investor mempunyai portofolio hingga Rp 700 miliar untuk saham dengan rata-rata transaksi harian Rp 15 miliar, dia memerlukan 47 hari perdagangan atau lebih dari dua bulan agar dapat menjual kepemilikannya.

Itu dengan asumsi, dia bersedia menerima berapapun harga di pasar dengan menawarkan 100% dari transaksi harian setiap hari. Jika hanya menjual separuh kapasitas harian, dia perlu empat bulan lebih pada harga yang hampir pasti merosot, karena penawaran melebihi permintaan.

Saham apapun turun jika investor besar keluar dari pasar dan sebaliknya. Harga pasar saham adalah keseimbangan permintaan dan penawaran. Inilah disebut market impact.

Berita di atas melengkapi berita di September, ketika dana pensiun yang sama membeli saham KREN Rp 200 miliar atau 5%. Rata-rata transaksi harian saham ini cuma Rp 6,8 miliar setahun terakhir dan meningkat menjadi Rp 13,2 miliar dalam 6 bulan terakhir.

Untuk saham dengan transaksi harian segitu, pembelian satu investor hingga Rp 200 miliar sangat besar, karena ekuivalen transaksi 15 hari-30 hari. Saham apapun yang nilai transaksi harian Rp 7 miliar-Rp 13 miliar naik kencang jika satu investor membeli Rp 200 miliar kurang dari 2 bulan.

Maka, saham KREN melesat 218% hanya dalam dua bulan, dari Rp 660 di awal Agustus menjadi Rp 2.100 di akhir September. KREN disuspensi September dan Oktober lalu.

Masih ada berita lain di harian ini pekan lalu. Perusahaan asuransi besar nyangkut Rp 1 triliun di saham sebuah grup yang harganya terus turun. Dengan kepemilikan 2 miliar lebih saham BUMI pada harga Rp 401, silakan hitung sendiri kerugian saat harga menyentuh Rp 50. Perusahaan asuransi itu juga memiliki 1 miliar saham di grup sama, yang harganya turun 35% sejak membeli setahun lalu.

Investor institusi sebaiknya tak mengejar saham bagus, yang diprediksi berkinerja bagus dan mengabaikan faktor lain. Tapi, fokus di saham perusahaan bagus, likuid dan berkinerja konsisten baik. .

Contohlah hedge fund dan investor asing yang hanya keluar-masuk 20 saham berkapitalisasi terbesar yang likuid. Di luar itu, terlalu tipis bagi mereka. Agar membantu pengambilan keputusan alokasi aset dan pemilihan saham yang bijak, pengelola dana institusi dapat meminta second opinion analis, manajer investasi atau penasihat investasi.


Close [X]