: WIB    —   
indikator  I  

Mari menabung saham

Mari menabung saham
Center For Finance & Investment Research Prasetiya Mulya Business School

Meskipun saham telah hadir sebagai alternatif investasi di Indonesia selama beberapa dekade, jumlah investor saham di negeri ini masih terbatas. Dibandingkan negara di Asean seperti Singapura, Malaysia dan Thailand, jumlah investor saham kita masih kalah jauh. Padahal saham menawarkan imbal hasil lebih tinggi daripada tabungan bank.

Tak heran, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bursa Efek Indonesia berupaya keras mensosialisasikan investasi saham. Salah satunya adalah dengan menggelar Investor Summit and Capital Market Expo.

Konsep acara tahun ini dibuat lebih menarik, dengan hari pelaksanaan lebih panjang, yakni 9 November sampai 13 November 2015 di Gedung BEI. Acara ini menghadirkan 81 emiten yang akan melakukan presentasi kepada publik (public expose).

Yang istimewa dari Investor Summit and Capital Market Expo 2015 adalah tema: Yuk Nabung Saham. Tujuannya tidak hanya menambah jumlah investor baru dan jumlah investor aktif, juga berupaya menanamkan kebutuhan berinvestasi di pasar modal (www.idx.co.id).

Sebuah terobosan yang kreatif dengan mengajak masyarakat menabung saham. Maksudnya adalah berinvestasi di saham dengan prinsip seperti menabung. Pada umumnya masyarakat menganggap, investasi di saham membutuhkan dana besar.

Kampanye ini ingin membangun kesadaran bahwa berinvestasi saham tidak perlu harus sekaligus banyak, yang penting rutin dan menjadi kebiasaan (habit). Saat ini dengan uang Rp 100.000 sudah bisa membeli saham. Sedikit demi sedikit, lama-lama menjadi bukit.

Konsep menabung saham ini mirip dengan strategi investasi klasik dollar cost averaging. Strategi ini memaksa investor menanamkan uang dengan jumlah yang sama secara teratur, misalnya setiap bulan atau kwartal.

Keuntungan strategi ini adalah, investor bisa membeli saham lebih sedikit saat harga sedang naik dan lebih banyak saat harga sedang turun. Semacam diversifikasi melalui waktu (diversification across time).

Dengan demikian, investor terhindar dari penyesalan membeli banyak saham pada harga selangit. Misalnya kita membeli saham Rp 100 setiap bulan selama 3 bulan. Harga saham di bulan pertama, kedua dan ketiga adalah Rp 20, Rp 100 dan Rp 50. Artinya, bulan pertama kita membeli 5 unit saham, bulan kedua membeli 1 unit, dan bulan ketiga membeli 2 unit. Total ada 8 unit saham. Harga rata-rata yang kita bayar adalah Rp 37,5 (dari Rp 300 dibagi 8). Ini lebih murah daripada rata-rata harga saham A sebesar Rp 56,67 (yaitu dari Rp 20 + Rp 100 + Rp 50 dibagi 3).

Coba kita bandingkan dollar cost averaging dengan strategi investasi lump sum dan market timing. Pada strategi lump sum, jika investor memiliki sejumlah dana, maka ia akan segera menanamkan semuanya sekaligus, tidak dibagi-bagi seperti dollar cost averaging. Harga dan saham yang diperoleh tergantung pilihan waktu membeli. Dibandingkan dollar cost averaging, strategi ini lebih berisiko. Kita bisa mendapat saham murah atau sebaliknya.

Sedangkan pada strategi market timing, investor membuat keputusan beli atau jual saham berdasarkan prediksi fundamental ekonomi dan pasar secara jangka pendek. Mereka berusaha mengantisipasi pergerakan harga, membeli saat harga naik dan menjual saat harga turun.

Mana yang lebih hebat: dollar cost averaging, lump sum, atau market timing?

Strategi dollar cost averaging amat populer di kalangan praktisi. Coba simak pernyataan berikut dari pengelola dana kelas dunia: Dollar cost averaging is a technique which enables investors to reduce the short-term impacts of market highs and low (www.vanguard.com) atau The use of dollar cost averaging is the second step in successful savings (www.merryllynch.com). Riset akademis (misalnya, Traynor Jr, 2005) mengamini, di AS, dollar cost averaging bisa lebih efektif dalam meminimalkan risiko sepanjang horizon investasi.

Bagaimana di Indonesia? Saya menganalis data IHSG dari tahun 2000-2009. Misalnya ada dana Rp 1,2 triliun. Skenario pertama, dana tersebut diinvestasikan bertahap sebesar Rp 10 miliar setiap bulan pada saham-saham pembentuk IHSG. Skenario kedua, kita tanamkan Rp 1,2 triliun sekaligus pada IHSG di awal tahun 2000. Kemudian dihitung total nilai investasi akhir tahun 2009. Ternyata skenario pertama (dollar cost averaging) memberikan rata-rata imbal hasil 21% per tahun, jauh di atas skenario kedua (lump sum) yang 14% per tahun.

Dollar cost averaging adalah strategi yang secara psikologis bisa membuat investor yang gampang galau menjadi lebih nyaman. Juga mendisiplinkan kita berinvestasi pada saham atau reksadana secara teratur (regular investing). Sesuatu yang amat penting untuk mewujudkan masa depan cerah.

Bagaimana market timing? Serpihan empiris mengindikasikan, ini bukan strategi investasi yang superior. Misalnya, Malkiel (1999) mengklaim, kemampuan fund manager di AS men-timing market sangat buruk. Buktinya, selama tahun 1970 hingga 1998 jumlah dana yang diinvestasikan oleh para fund manager pada saham mencapai puncaknya justru sebelum harga saham turun dan mencapai tingkat terendah justru sebelum harga saham naik. Kesimpulannya? Yuk, menabung saham saja.

 


Close [X]