Kontan Online
  : WIB    --   
indikator  I  

Mindful working

Mindful working
Pengamat Manajemen dan Kepemimpinan

Pembaca, Anda pasti pernah mengalami kebuntuan di tengah-tengah kesibukan pekerjaan. Kepala terasa begitu penat, jumud, dan hendak meledak. Akibatnya sudah jelas, mood menjadi jelek, pikiran jadi tak karuan, dan hidup seperti jalan tidak berarah. Suasana itu kerap muncul karena dipicu oleh faktor pekerjaan yang disebut kesibukan.

Setiap orang bisa saja memiliki definisi kesibukan yang berbeda, tapi umumnya merasakan pengalaman kesibukan yang serupa. Kita merasakan pengalaman sibuk saat harus berhadapan dengan tenggat waktu (deadline) pekerjaan yang mepet. Sama halnya, ketika juga kita merasakan suasana sibuk saat berhadapan dengan distraksi dari perangkat bernama gawai teknologi. E-mail, chat, SMS, dan panggilan telepon yang masuk secara bertubi-tubi (sekalipun tak berisikan pesan penting dan genting), tiba-tiba membuat pikiran gelisah, bola mata berkeliaran, dan tangan pun tak kuasa untuk tidak memainkan jari menanggapi pesan yang masuk itu.

Latar belakang seperti ini tanpa disadari telah membentuk kebiasaan kerja baru yang disebut multi-tasking alias mengerjakan beberapa hal pada satu saat yang bersamaan. Anda pasti pernah melihat (dan mungkin juga melakukannya), orang yang sedang membuat laporan sekaligus membalas e-mail serta berbicara dengan orang di depannya. Atau juga, seseorang yang sedang santap siang dengan tangan kiri sembari tangan kanannya aktif berselancar internet di gawai, sekaligus juga sambil bercakap-cakap di telepon lainnya dengan memakai head-set. Multi-tasking yang sempurna!

Sekilas, multi-tasking terkesan merupakan sebuah kemampuan kerja yang positif, karena bisa menyelesaikan beberapa tugas pada saat yang bersamaan. Artinya, multi-tasking mendatangkan efisiensi dan kecepatan. Namun, studi mutakhir neuroscience menunjukkan, bahwa otak manusia tidak dirancang untuk berpikir secara bercabang dan tak berstruktur. Memang, ada orang-orang tertentu yang sanggup merangkum dan memproses beberapa hal di benaknya saat yang bersamaan. Namun sesungguhnya, hal tersebut terjadi bukannya tanpa pengorbanan. Pengorbanan itu bisa berwujud keletihan kognitif (seperti perasaan penat dan jumud) juga kualitas pemikiran atau pekerjaan yang lebih rendah. Kalau sudah begini, apa yang mesti dilakukan?

Belakangan di kalangan penggiat diet makan beredar praktik diet yang disebut juga dengan mindful eating. Berbeda dengan pola diet makan lainnya yang lazim merujuk kepada urusan jadwal makan dan jenis makanan yang tepat, mindful eating mengajak orang untuk membangun suasana makan yang tepat. Mindful-eating mengajak orang untuk menghadirkan suasana makan yang sebaik-baiknya. Misalnya, dengan cara mengalokasikan waktu makan yang khusus (tanpa harus diganggu oleh aktivitas lain, selain makan itu sendiri), duduk dengan posisi yang senyaman mungkin, mencium aroma dan merasakan tekstur makanan dengan cermat, serta mengunyah makanan dengan perlahan. Intinya, berusaha menikmati makanan yang ada dengan sebaik-baiknya, detik per detik, menit per menit, hingga makanan itu habis disantap.


Monyet edan
Hal serupa sesungguhnya bisa kita lakukan dalam konteks pekerjaan, dengan melakukan apa yang saya sebut sebagai mindful-working. Istilah mindful dan mindfulness terutama dikembangkan para praktisi ajaran Zen-Buddhism, dengan salah satu penggiat utamanya Thich Nhat Hanh, mahaguru Zen keturunan Vietnam yang kaya dengan pemikiran kebahagiaan dan perdamaian.

Di Indonesia, banyak yang menerjemahkan mindful sebagai sadar penuh, yakni saat seseorang bisa menghayati pengalamannya secara sadar dalam kondisi kesinian dan kekinian atau here and now. Saat pikiran hanya tertuju kepada apa yang ada di dekat kita, bukannya sesuatu yang nun jauh di sana, itulah saat seseorang merasakan situasi here. Saat pikiran tak terjebak dengan kenangan masa lalu ataupun terpaut dengan rencana masa depan, itulah saat seseorang merasakan kondisi now.

Seorang manusia hanya bisa merasakan kondisi here and now, jika raga (fisik) dan pikiran (mental)-nya menyatu dan tersambung dengan baik. Di sinilah tantangan yang sesungguhnya dimulai. Mengapa? Karena pikiran manusia memiliki kecenderungan sifat nakal, liar, dan sulit dijinakkan.

Tak heran, ada yang menganalogikan pikiran manusia seperti monyet edan (crazy monkey), yang senang meloncat sana meloncat sini tak kenal henti. Suasana crazy monkey sangat mudah dijumpai saat kita sedang dilanda kegelisahan. Bisa saja, secara fisik badan kita sedang duduk di depan meja kerja, tapi pikiran pergi meninggalkan badan, dan melompat ke ingatan presentasi laporan pada hari kemarin ataupun gagasan proyek pada tahun mendatang. Atau, pikiran lagi asyik membayangkan suasana di rumah yang sedang kusut atawa melamunkan tempat liburan yang sangat indah.

Mindful working mengajak kita untuk menaklukkan crazy monkey, agar kita bisa bekerja dengan tenang, cermat, penuh konsentrasi, dan kedalaman. Intinya, bekerja dengan fokus yang sepenuh-penuhnya, tak tergoda oleh gangguan dari luar (semisal suara ataupun getar gawai), juga tak dialihkan oleh pikiran liar si monyet edan.

Daniel Goleman, psikolog Harvard University yang kondang dengan konsep emotional intelligence, tahun 2013 menulis buku bertajuk: Focus: The Hidden Driver of Excellence. Studi yang dilakukan Goleman menunjukkan, fokus adalah kekuatan utama yang memungkinkan seseorang berkarya dengan baik dan menghasilkan sesuatu secara excellent. Dan, tak mungkin kita bisa memiliki fokus jika pikiran dan raga tak menyatu baik alias mindful.