Kontan Online
  : WIB    --   
indikator  I  

Membantu proses tani via teknologi

Membantu proses tani via teknologi
Founder of Lightora UMN Incubator

Pernahkah Anda membayangkan apa jadinya teknologi sensor (IoT) dan software analisis data (big data) masuk ke pertanian? Apakah petani akan mengetahui tipe bibit dan pupuk tertentu yang dinilai paling cocok untuk lahan pertaniannya, sehingga dapat memberikan hasil maksimal dan sesuai dengan permintaan pasar? Lalu, kapan waktu yang tepat untuk menanam dan di mana?

Lalu, apakah berdasarkan data sensor yang didapatkan dari beratus atau beribu lahan pertanian, lembaga pendidikan tinggi seperti universitas atau perusahaan yang bergerak di bidang pertanian dapat mengembangkan bibit yang lebih unggul?

Tentu saja, sekarang ini solusi-solusi tersebut sudah ada dari pola musim tanam dan pengalaman dari pelaku (petani). Tetapi, jika teknologi dapat dimanfaatkan, tentunya solusi yang diterapkan akan lebih mudah untuk mengukur efektivitas dan efisiensi kita dalam melakukan cocok tanam dan berguna bagi banyak pihak.

Menurut Food and Agriculture Organization (FAO) atau Badan Pangan dan Pertanian Dunia, populasi di dunia pada tahun 2050 diperkirakan akan mencapai 9 miliar jiwa. Dengan populasi manusia sebanyak itu, produksi pangan dunia harus naik sebesar 60% dibandingkan saat ini.

Namun, dengan perubahan iklim yang semakin banyak berkontribusi ke gagal panen, maka penelitian dan pengembangan (litbang) di area ini semakin penting agar masalah dan konflik di masa depan tidak terjadi.

Jika janji teknologi yang dapat memberikan solusi seperti di atas dapat direalisasikan, tentu peranannya menjadi sangat strategis.


Solusi data pertanian
John Deere adalah perusahaan manufaktur pertanian di Amerika Serikat (AS) yang terjun untuk memberikan solusi Big Data di area ini. Melalui peralatan pertanian mereka yang dilengkapi oleh sensor, online, dan dapat berkomunikasi satu sama lain, petani bisa mendapatkan rekomendasi apa yang harus dilakukan dari data historis yang diperolehnya dan telah dianalisis. Rekomendasi yang didapatkan petani, antara lain, mengenai jarak bibit tanam, kedalaman lubang penanaman, dan pemupukan.

Selain itu, John Deere juga menyediakan satu portal bernama MyJohnDeree.com dimana pengguna dapat memonitor semua peralatan mereka, melihat perkiraan cuaca, dan informasi finansial terkait aktivitas mereka. Dengan demikian, petani disana dapat meningkatkan hasil pertanian dan keuntungan melalui perencanaan yang lebih baik.

Lalu, untuk Indonesia yang merupakan negara agraris dan belum banyak menerapkan teknologi dan infrastruktur, ini tentunya menjadi peluang dan kesempatan bagi pemerintah dan pihak swasta untuk secara bersama menggarap pasar baru ini sekaligus memecahkan masalah pangan yang sangat krusial.

Walaupun awam di agribisnis, yang dapat saya bayangkan adalah jika balon-balon internet dari Google benar-benar direalisasikan dan terbang di langit seluruh Indonesia, maka akses internet akan makin mudah. Tinggal kreativitas perusahaan-perusahaan lokal pertanian menggandeng perusahaan teknologi startup– yang lagi booming saat ini–untuk mengembangkan sensor-sensor tangguh yang dapat diintegrasikan ke berbagai mesin pertanian, seperti traktor.

Dari seluruh data terkumpul, kita dapat melakukan analisa data mining untuk menghasilkan koleksi panduan dan rekomendasi yang baik untuk para petani. Selain itu, mendeteksi wabah penyakit tanaman lebih awal dan mengantisipasinya. Terakhir, meningkatkan profit dengan perencanaan produksi yang tepat berdasarkan berdasarkan prediksi data permintaan pasar.