: WIB    —   
indikator  I  

Perencanaan ketidakpastian

Perencanaan ketidakpastian
Pengamat Manajemen dan Kepemimpinan

Sudah menjadi tradisi, menjelang akhir tahun semua perusahaan pasti disibukkan dengan urusan perencanaan tahunan. Bahasa kerennya: yearly strategic planning atawa perencanaan strategis tahunan. Melakukan strategic planning berarti memikirkan gagasan sekaligus langkah-langkah strategis untuk mengarungi masa depan, khususnya tahun yang akan datang.

Di dalam ilmu manajemen modern, kita diajarkan untuk bersungguh-sungguh dengan kegiatan perencanaan, karena nantinya menjadi landasan eksekusi sehari-hari. Bahkan, perusahaan-perusahaan di Jepang umumnya percaya bahwa good planning = 80% execution. Artinya, jika kita melakukan kegiatan perencanaan dengan baik, itu sama dengan sudah mencicil 80% proses eksekusi. Luar biasa bukan?

Persoalannya, saat ini kita menghadapi situasi yang penuh ketidakpastian, yang membuat proses perencanaan tidak mudah dilakukan dengan cermat. Belakangan kita mengenal dengan baik istilah VUCA, yakni volatile, uncertain, complex, and ambiguous, untuk menggambarkan situasi dan kondisi yang serba tak menentu dan penuh tanda tanya.

Sejatinya, istilah VUCA sendiri awalnya diperkenalkan oleh Pentagon, Departemen Pertahanan Amerika Serikat (AS), untuk menggambarkan suasana geopolitik dunia yang penuh dengan ketidakjelasan situasi dan kerumitan konstelasi. Namun, dalam perjalanannya situasi VUCA tak hanya melanda urusan politik, juga merambah ke segenap elemen peradaban manusia, termasuk urusan organisasi dan bisnis. Dalam konteks bisnis, ada tiga ketidakpastian yang potensial dihadapi sebuah organisasi.

Pertama, business model uncertainty atau ketidakpastian yang muncul dari dalam organisasi itu sendiri. Ketidakmampuan organisasi, baik dalam urusan penguasaan teknologi, mutu produk dan layanan, ketajaman strategi, maupun kerapian pengelolaan rantai proses bisnis, akan menciptakan ketidakpastian. Ketidakpastian ini bisa mendatangkan ancaman bagi kelangsungan hidup perusahaan.

Kedua, industry uncertainty atauketidakpastian yang muncul tak hanya di lingkup sebuah organisasi, namun terjadi di aras industri.

Perkembangan teknologi dan perubahan perilaku konsumen, acapkali mendatangkan ancaman yang tak hanya menyerbu satu organisasi, juga menghantam industri tersebut secara keseluruhan. Contohnya adalah kehadiran transportasi termasuk ojek berbasis layanan aplikasi online, belakangan menjadi penantang serius bagi skema industri transportasi tradisional yang selama ini sudah kita kenal dan kita jalankan.

Ketiga, environmental uncertainty atau ketidakpastian yang muncul akibat perubahan yang terjadi di tingkat kebijakan makro. Environment di sini bisa berupa lingkungan fisik, sosial, ekonomi, juga politik. Kebakaran hutan dahsyat yang terjadi baru-baru ini, yang mengakibatkan pemerintah mengambil kebijakan pelarangan penanaman pohon kelapa sawit di atas lahan gambut, adalah sekadar contoh environmental uncertainty yang bisa menghinggapi dunia usaha.


Scenario planning
Seorang sahabat bertanya masygul, jika derajat ketidakpastian semakin hari semakin tinggi, apakah aktivitas perencanaan masih relevan dilakukan? Bukankah perencanaan yang baik mensyaratkan stabilitas situasi dan kondisi? Apakah mungkin melakukan perencanaan yang cermat, sementara dasar dan asumsi perencanaan begitu tak menentu dan bisa berubah dalam sekejap?

Bagaimanapun, bekerja dengan perencanaan yang tak sempurna, tetaplah lebih baik daripada bekerja tanpa perencanaan sama sekali. Sama halnya seperti orang buta yang berjalan dengan tongkat jelek, yang niscaya dia akan lebih aman dan menuntun kepada tujuan ketimbang berjalan tanpa tongkat sama sekali.

Perusahaan langganan nomor wahid di Fortune Global 500, Royal Dutch Shell sangat menyadari potensi ketidaksempurnaan dari sebuah perencanaan, dan membuat mereka jauh-jauh hari telah menerapkan pendekatan yang dikenal dengan scenario planning. Scenario planning merumuskan masa depan sebagai kemungkinan-kemungkinan yang bisa terjadi, dan itu tak bersifat tunggal. Dalam hal ini, skenario bukanlah ramalan (prediction), namun gambaran-gambaran kejadian (stories) yang mungkin terjadi di masa datang.

Gambaran-gambaran kejadian (skenario) ini dibuat dengan maksud untuk menghentikan kebiasaan pola pikir para corporate planner, yang suka mengasumsikan gambaran masa depan bisa diramalkan secara statistik lewat telaah data masa lalu. Scenario planning membiasakan kita untuk melihat masa depan sebagai kondisi ketidakpastian (uncertainty), dan mendorong untuk adaptif terhadap kenyataan-kenyataan baru yang mungkin tak terpikirkan selama ini.

Pendekatan scenario planning adalah jalan tengah yang memungkinkan kita untuk menghadapi masa depan secara agile (bisa menyesuaikan diri secara lincah), tanpa merasa tak berdaya didikte oleh ketidakpastian. Pendekatan scenario planning memampukan kita untuk menyiasati perubahan situasi kondisi dengan sikap yang realistik. Tidak berharap tak tentu arah, juga tidak mengumpat tak karuan. Karena, seperti kata penulis inspirasional Amerika Serikat, William Arthur Ward: the pessimist complains about the wind; the optimist expects it to change; the realist adjusts the sail.


Close [X]