Kontan Online
  : WIB    --   
indikator  I  

Manifesto eksponensial

Manifesto eksponensial
Kolumnis Internasional dan Pengajar Bisnis, tinggal di California, AS

Saat ini, kita hidup di era luar biasa. Abad dimulainya perjalanan luar angkasa. Manusia pertama Neil Armstrong dan Buzz Aldrin telah menginjakkan kaki di permukaan bulan pada tanggal 20 Juli 1969.

Kini penerbangan ke luar angkasa semakin dimudahkan dengan kerja sama antara NASA-SpaceX dan Virgin Galactic. Menapakkan stasiun di planet Mars sudah bukan science fiction lagi, namun sudah menjadi fakta.

Richard Branson memulai petualangan entrepreneurship-nya ketika duduk di bangku SMA. Saat itu ia memulai dengan majalah sederhana di tahun 1968. Kini salah satu bisnisnya adalah tur ke luar angkasa bersama Virgin Galactic.

Larry Page dengan Google-nya juga telah memulai misi Google Lunar XPrize. Kemudian Elon Musk yang juga pendiri PayPal dan Tesla Motors punya SpaceX, dan Jeff Bezos pendiri Amazon dengan Blue Origin.

Tak hanya itu, Lockheed Martin dan The Boeing Company punya United Launch Alliance yang menerima outsource meluncurkan pesawat luar angkasa.

Kini telah tiba saatnya manusia untuk melakukan perjalanan antarplanet, antartata surya, antargalaksi, bahkan mungkin juga suatu hari dijalankan antardimensi ruang dan waktu. Berbagai teknologi telah memungkinkan untuk perkembangan peradaban bergerak secara eksponensial (dalam matematika, ini ditandai dengan tanda pangkat). Pergerakan linear telah lama uzur alias kadaluwarsa.

Dan ini tidak hanya terjadi di ruang industri teknologi. Apapun bisnis Anda dan di manapun Anda berada, siapa pun bisa menjadi kompetitor. Kuncinya adalah teknologi (tergantung industri dan Internet) dan sumber daya manusia progresif.

Planet Bumi semakin memerlukan disrupsidisrupsi yang dapat menyelematkannya dari berbagai masalah ekologi. Dan bisnis yang dapat bertahan dalam jangka panjang adalah bisnis-bisnis yang memberi jawaban atas masalah-masalah besar kemanusiaan, seperti energi pengganti minyak fosil, lingkungan hidup berkesinambungan, penyakit terminal, perpanjangan fase hidup, komunikasi instan lingkup planet, eksplorasi antarplanet, dan banyak lagi lainnya.

Velositas disrupsi dalam bisnis sedang bergulir secara eksponensial alias berkali-kali lipat kecepatannya dibandingkan dengan beberapa dekade lampau. Kodak merupakan salah satu kasus kegagalan dalam memprediksikan faktor eksponensial ini.

Sesungguhnya, pencipta kamera digital pertama adalah Steven Sasson yang bekerja sebagai insinyur listrik di Kodak Apparatus Division Research Lab. Dia menciptakan tahun 1976.

Digital kamera jadul tersebut menggunakan charge-coupled device (CCD) yang diproduksi oleh Fairchild Semiconductor. Hasilnya adalah kamera berkemampuan rekam 0,01 megapixel. terlalu rendah untuk dipasarkan.

Kodak sendiri didirikan sebagai perusahaan bahan kimia perfilman dan kertas foto, selain berbisnis film dan kamera. Karena ketakutan berlebihan akan potensi kanibalisme diri sendiri apabila digital kamera dikembangkan, maka Kodak menunda riset lebih lanjut.

Beberapa dekade berikutnya, teknologi digital kamera dikembangkan oleh para kompetitor hingga menjadi siap dipasarkan di awal tahun 2000an. Kodak kini telah terkalahkan dengan telak.

Kemampuan memprediksi secara eksponensial memang merupakan hal baru. Dan para mega inovator seperti Musk, Page, Bezos, dan Branson merupakan ujung tombak dunia baru ini. Kita perlu mempersiapkan diri untuk menganalisa berbagai kemungkinan produk baru yang hilang dan muncul sebagai akibat dari perkembangan peradaban manusia.

Perhatikan smartphone Anda. Sebenarnya ia telah menjadi substitusi puluhan instrumen yang di masa lampau bernama kamera video, global positioning system (GPS), alat perekam suara, jam digital, kamera digital, perpustakaan buku, video player, stereo music player, ensiklopedia, kamus, perangkat video games, lampu senter, cermin, kalkulator, kalender, album foto, peta, dan sebagainya. Dengan ribuan aplikasi yang bisa diunduh baik gratis maupun berbayar, Anda bisa bepergian ke mana saja hanya dengan membawa satu telepon genggam saja.

Faktor eksponensial ini didukung oleh kehebatan teknologi smartphone yang semakin menakjubkan. Dan Instagram mengambil kesempatan emas ini dengan membuat aplikasi yang mendukung kehebatan smartphone dalam mengabadikan dan menyajikan foto.

Selain itu, wearable technology seperti Google Glass dan aplikasi-aplikasinya serta teknologi Internet of things sedang membawa umat manusia menuju abad perjalanan luar angkasa. Indahnya, muara dari eksponensial ini bukan hanya bottom line alias laba bersih yang membengkak bagi perusahaan yang mengembangkannya, namun menyulut demokratisasi universal. Karena, siapa yang menguasai teknologi, ialah raja dan ratu dunia.