Kontan Online
  : WIB    --   
indikator  I  

Outlook 2016: Sulit bullish, lebih sulit bearish

Outlook 2016: Sulit bullish, lebih sulit bearish
Kepala Riset Universal Broker Indonesia

Kita mulai memasuki hari-hati terakhir di tahun 2015. Bagi pelaku pasar yang punya "posisi" di pasar modal, pertanyaan standar mereka: bagaimana outlook tahun depan? Bagaimanakah prediksi pergerakan IHSG tahun 2016?

Saya mencoba menjawab pertanyaan dengan pahit terlebih dahulu. Jika analis teknikal ingin memaksakan pendapat bearish, dia bisa menggunakan chart seperti di samping.

Menurut chart tersebut, berdasarkan pergerakan jangka panjang, IHSG sudah melewati beberapa fase. Yakni wave 1-wave 2, periode 1980-an-1997 adalah periode kelahiran. Presiden Soeharto memperkenalkan pasar modal. Perhitungan IHSG dimulai l tahun 1984 pada level 100, bergerak turun hingga titik terendah tahun 1986 di level 61,58. Setelah pemerintah melakukan berbagai paket kebijakan tahun 1987-1988, IHSG terus melejit, naik hingga 1.007,4% dan mencapai titik tertinggi di 681,94. Fase ini diakhiri dengan memburuknya ekonomi, diikuti kejatuhan Soeharto.

Fase berikut menggambarkan kondisi pasar modal pasca reformasi, diperlihatkan pada wave 3 dan wave 4. IHSG naik lebih dari 10 kali lipat (tepatnya 1.019,6%), dari titik terendah di 253,51 hingga tertinggi pada level 2.838,48, sebelum krisis subprime mortgage 2008 memangkas IHSG kembali ke 1.089,34. Setelah itu, kebijakan ekonomi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono melakukan subsidi BBM secara masif, mendorong IHSG menembus level 5.000. IHSG sempat mencapai level tertinggi di 5.524,04.

Sepertinya bagus, masuk akal dan sesuai teori. Tapi dari chart tersebut, kita bisa melihat, siklus jangka panjang tren bullish IHSG berakhir. Masa keemasan Indonesia selama 35 tahun terakhir, bakal diikuti masa kehancuran.

Dalam teori, jika sebuah impulse wave (wave 1 hingga wave 5 seperti di chart) berakhir, IHSG memiliki potensi koreksi hingga wave 4, di 1.089 2.838. Artinya ke depan, IHSG bakal terus bergerak turun dengan probabilitas cukup besar mengulang bottom di 1.089.

Sebentar. Tidakkah Anda merasa ada aneh dengan tulisan di atas? IHSG pada Jumat (4/12) masih di atas level 4.508,45. Tulisan di atas, memprediksi, IHSG terpotong hingga hanya tersisa seperempat di 1.089. Langkah rasional investor adalah beres-beres koper, jual semua aset di Indonesia, lalu pindah ke luar negeri.

Sekilas teorinya terlihat betul. Elliott Wave Theory, pemahaman koreksi hingga bottom dari wave 4 memiliki probabilitas yang tidak bisa dibilang kecil. Tapi, Elliott Wave Theory bukan harga mati. Apakah prediksi dengan teori yang benar tersebut masuk akal? Benar atau salah prediksi adalah milik masa depan.

Saya ingin memandang dari sudut pandang, jika IHSG ke level 1.089:

Apakah mengalihkan subsidi BBM ke pos pengeluaran lain yang lebih produktif itu salah?

Apakah pembangunan infrastruktur secara masif salah?

Apakah mempermudah perizinan salah?

Apakah yang dilakukan Pemerintahan Jokowi setahun ini semuanya salah?

Apakah efisiensi dengan Paket Kebijakan semuanya juga salah?

Reaksi pasar setelah kenaikan suku bunga The Fed sulit diprediksi. Apalagi Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus Martowardojo ketakutan terhadap langkah The Fed, sehingga tidak berani mengubah BI rate sejak awal tahun. Kalau IHSG tersungkur sebagai reaksi pasar atas keputusan The Fed, bisa saja. Ini menurut orang-orang yang masih ketakutan terhadap langkah The Fed.

Tapi, sejak akhir September 2015, Dow Jones Industrial tidak terlihat takut terhadap suku bunga Fed. Hanya, ketika quantitative easing Bank Sentral Eropa lebih kecil dari perkiraan, pasar terlihat ketakutan. Tapi Dow Jones Jumat malam lalu naik Kita sendiri masih ada dagelan konyol episode papa minta saham.

Jadi, outlook 2016 bagaimana? Saya saat ini menggunakan chart IHSG lain dengan potensi kenaikan 5.400-5.500. Kalaupun ada koreksi, 3.800-4.200 diperkirakan menjadi support kuat tahun depan.

Tapi, saya juga tidak mau mengumbar prediksi bullish, IHSG ke 6.000 tahun depan. Meski di atas 5.400-5.500 resisten selanjutnya di 6.500-6.800. Tapi, pemerintah belum memiliki track record bagus melakukan pertumbuhan ekonomi sesuai dengan harapan. Itu sebabnya, mau terlalu bullish untuk tahun depan, susah juga. Paling tidak, kita harus melihat angka pertumbuhan ekonomi hingga kuartal I-2016. Jika di atas 5,4% lagi, kita bisa melihat peluang apakah IHSG bisa ke 6.000.

So, mari kita nikmati pergerakan harga saham Desember ini. Satu hal menarik dari Desember adalah, terakhir kali IHSG terkoreksi di Desember 2000, sudah 15 tahun. Akankah tahun ini yang pertama? Semoga saja tidak.