: WIB    —   
indikator  I  

Kepemimpinan berhati nurani

Kepemimpinan berhati nurani
Pengamat Manajemen dan Kepemimpinan

Menjelang akhir abad ke-20, kapitalisme adalah ideologi ekonomi yang paling menggeliat di seantero dunia. Kata pasar merupakan mantra sakti yang menggerakkan roda perekonomian dunia. Korporasi bertumbuh subur, pendapatan perusahaan melaju kencang, dan persaingan pun menjadi begitu ganas.

Wall Street, bursa efek New York, menjadi arena transaksi finansial global yang memungkinkan uang dari seluruh dunia berlalu lalang dengan bebasnya. Bahkan, pada tahun 1987 silam Wall Street dibuatkan filmnya, dengan tokoh pialang utama Gordon Gekko yang diperankan dengan sempurna oleh aktor kawakan Michael Douglas.

Dengan penuh semangat, sang deal-maker Gekko memberikan khutbah yang berbunyi: “Greed is good. Greed is right. Greed works!” Singkat kata, kerakusan atau greed adalah kehendak manusia yang memungkinkan ideologi kapitalisme berfungsi dengan baik.

Namun, memasuki abad ke-21, kita pun menyaksikan bahwa kerakusan jugalah yang menjadi awal dari titik balik kemunduran ekonomi dunia, bahkan peradaban manusia. Pada tahun 2002 lalu, pasar modal dunia khususnya Amerika Serikat (AS) mengalami masa yang suram dan triliunan dollar AS kekayaan para pemilik saham menguap begitu saja, karena praktik tak bermoral para petualang saham.

Gubernur bank sentral AS, Federal Reserve, saat itu, Alan Greenspan yang sekaligus ikon kapitalisme kontemporer paling berwibawa, bahkan harus mengakui di depan Kongres AS bahwa kerakusan yang menjalar ke mana-mana (infectious greed) telah merampas banyak hal dari komunitas bisnis dunia. Pelanggaran dan manipulasi dilakukan sedemikian rupa. Laporan keuangan dipermak habis-habisan demi mendongkrak harga saham. Dan, semua itu berujung pada perapuhan struktur ekonomi, fondasi masyarakat, dan peradaban dunia.

Hampir bersamaan waktunya, lewat bukunya bertajuk Megatrends 2010, pemikir futuristik Patricia Aburdene meramalkan lahirnya bentuk kapitalisme baru, yang disebutnya conscious capitalism alias kapitalisme yang sadar diri. Kapitalisme yang tak melulu berbicara tentang kerakusan, kompetisi, dan perkara finansial. Tapi, juga menyeimbangkan dirinya dengan wacana kepedulian, kerjasama dan perkara nonfinansial seperti etika, budaya, serta pelestarian lingkungan.

Tapi, rasanya ramalan Aburdene tak berjalan semulus yang diharapkan. Wacana tentang kepedulian kepada sesama, kerjasama antarmanusia, pengembangan masyarakat, dan pelestarian lingkungan, memang sudah akrab di telinga masyarakat bisnis. Hanya, pada kenyataannya dianggap tak lebih dari sekadar urusan aksesori belaka, bukan bagian utama dari praktik bisnis yang ada.

Buktinya, key performance indicators (KPI) dari kebanyakan perusahaan masih berkutat pada angka keuangan yang bersifat jangka pendek. Bicara bisnis, ya, bicara pendapatan, biaya, dan keuntungan perusahaan. Tak lebih, tak kurang. Pengukuran-pengukuran terhadap pencapaian para pelaku bisnis pun berkutat pada urusan prestasi komersial. Mereka yang bisa mendatangkan pendapatan tinggi dan keuntungan besar, maka itulah yang dinilai sebagai pemimpin bisnis yang berhasil.


Elemen nonfinansial
Sangat menarik apa yang dilakukan oleh salah satu media bisnis paling bergengsi di dunia, Harvard Business Review (HBR). Setiap tahun HBR selalu melakukan pemeringkatan kinerja chief executive officer (CEO) perusahaan-perusahaan besar di seluruh dunia, yang disebut best performing CEOs in the world. Berbeda dengan pemeringkatan tahun-tahun sebelumnya yang semata-mata dilandaskan pada pengukuran elemen finansial (semisal pendapatan pemegang saham) dan peningkatan nilai pasar perusahaan (market capitalization). Pemeringkatan pada tahun 2015 juga mencakup pengukuran elemen nonfinansial, seperti aspek tata kelola perusahaan, pengelolaan lingkungan, dan kepedulian masyarakat.

Dengan menggabungkan kedua elemen pengukuran tersebut (finansial dan nonfinansial), peringkat pertama best performing CEO in the world ditempati oleh Lars Rebien Sorensen, CEO Novo Nordisk, perusahaan farmasi asal Denmark. Sorensen digambarkan sebagai sosok yang low-profile, sederhana, dan memberikan perhatian besar pada urusan corporate social responsibility (CSR).

Kata Sorensen, “CSR tampak seperti tak ada artinya. Namun, sesungguhnya itu akan memaksimalkan nilai sebuah perusahaan dalam beberapa tahun kemudian. Secara jangka panjang isu sosial dan lingkungan akan menjadi isu finansial pula.” HBR menyebut model kepemimpinan Sorensen sebagai leadership with a conscience, kepemimpinan dengan hati nurani.

Bagaimana dengan Jeff Bezos, taipan pemilik Amazon.com, yang pada tahun sebelumnya menduduki peringkat satu? Secara finansial, Bezos masih menempati posisi nomor satu. Tapi, dari sisi nonfinansial (sosial, lingkungan, dan tatakelola perusahaan), ia menduduki posisi yang relatif buncit, yakni 828. Dengan kombinasi kedua elemen tersebut, Bezos secara keseluruhan menempati peringkat 87, melorot 86 tingkat dari tahun sebelumnya. Penurunan peringkat ini semata-mata karena dunia (korporasi) membutuhkan genre kepemimpinan bisnis yang baru, kepemimpinan yang berhati nurani.


Close [X]