Kontan Online
  : WIB    --   
indikator  I  

Pengusaha dan industrialis

Pengusaha dan industrialis
Pengamat Manajemen dan Kepemimpinan

Ada tiga kategori sekaligus derajat usahawan (entrepreneur) yang kita kenal selama ini. Pertama, para usahawan yang perhatiannya sepenuhnya dicurahkan kepada urusan transaksional. Fokus mereka sederhana yakni bagaimana menjual kembali apa yang sudah dibeli, dengan harapan mendapatkan selisih keuntungan. Semua pekerjaan pengadaan, penjualan, dan tugas administratif lainnya dilakukan dengan pola serabutan, kalau perlu bahkan dilakukan oleh pemilik usaha itu sendiri.

Job-description dari kategori usahawan ini cuma satu, yaitu melakukan transaksi sesering dan secepat mungkin, demi mendapatkan keuntungan sebanyak mungkin. Kita menyebut kelompok tersebut sebagai pedagang atau trader, yang lazim beroperasi di wilayah-wilayah pasar tradisional.

Kedua, kaum usahawan yang tak lagi berpikir tentang dagang dan duit belaka. Jelas, dagang dan duit adalah esensi wirausaha yang tak terhindarkan. Tapi, kelompok ini mulai berpikir keberlangsungan usahanya. Bahasa kerennya: sustainability. Karena ingin usahanya berumur panjang, mereka mulai berpikir untuk membangun organisasi bisnis yang lebih mapan. Mulailah disiapkan organisasi yang tepat, baik sumber daya manusia, proses kerja, juga kultur organisasi.

Semua elemen bisnis pun dipikirkan dengan seksama, mulai strategi bersaing, manajemen pemasaran, pengelolaan keuangan, operasi produksi, hingga urusan hubungan dengan masyarakat sekitar. Struktur organisasi perusahaan juga tertata baik, dengan jumlah SDM yang cenderung masif dan menempati kantor ataupun pabrik yang cukup modern. Kelompok ini seringkali dikenal sebagai kaum pengusaha ataupun businessman, dan umumnya dikenal sebagai sosok-sosok yang profesional.

Bagaimana dengan ketiga? Nah, yang ini cukup unik dan mungkin jumlahnya pun tak banyak. Jika trader berkutat pada urusan mencari uang, sementara businessman fokus kepada perkara membangun bisnis, kelompok ini memiliki visi yang jauh lebih luas lagi. Visi bisnisnya tak hanya tertuju pada diri dan organisasinya sendiri (inward-looking), namun menuju ke lingkup yang lebih luas di luar dirinya. Mereka tak cuma mengurusi operasi bisnis di perusahaan, lebih jauh lagi terlibat aktif mengelola ekosistem di sekitarnya.

Ibarat menanam pohon, kelompok ini tak melulu berfokus kepada upaya perawatan dan penumbuhan pohon-pohon yang dimilikinya sendiri. Ia ikut memastikan bahwa lahan di sekitarnya memang cocok untuk ditanami pohon-pohon sejenis. Demikian pula cuaca di sekitarnya ikut mendukung kesuburan kehidupan pepohonan.

Saya menyebut kelompok usahawan ini sebagai kaum industrialis. Para industrialis tak hanya memikirkan keuntungan yang masuk ke kocek pribadinya, juga tak sekadar terpaku membesarkan perusahaan yang dibangunnya. Lebih jauh, ia ingin memastikan sebuah industri bisa bertumbuh subur, langgeng, dan mendatangkan manfaat nyata bagi masyarakat, bangsa, bahkan dunia.


Pola pikir sistematis
Saya akan mengambil almarhum William Soeryadjaja, pendiri perusahaan konglomerasi Astra Internasional, sebagai contoh kelompok ini. William Soeryadjaja tak hanya berpikir tentang uang yang masuk ke dalam saku pribadi dan keluarganya. Ia bahkan tak membatasi diri untuk hanya membangun dan melanggengkan perusahaan bernama Astra Internasional. Lebih jauh, dia ingin membangun ekosistem yang memungkinkan beragam industri (khususnya industri otomotif) bisa bertumbuh subur, dan pada akhirnya ikut menggerakkan roda perekonomian bangsa, menyumbang devisa kepada negara, sekaligus juga menciptakan lapangan kerja bagi sebanyak-banyaknya rakyat Indonesia.

Dengan menggunakan paradigma system-thinking (pola pikir sistematis), William percaya jika seseorang atau sebuah organisasi berpikir serta bertindak bagi kepentingan masyarakat dan bangsa, maka manfaat yang dipetik oleh masyarakat dan bangsa tersebut pada akhirnya akan menetes kembali kepada dirinya sendiri.

Roger Kaufman, pemikir di bidang perencanaan strategis, menyebut model pemikiran para industrialis di atas sebagai mega-thinking atawa mega-planning. Kaufman mengatakan, banyak model perencanaan organisasi yang dimulai secara keliru, dan akhirnya berujung tak tepat pula. Organisasi ini sekalipun berhasil menunjukkan kinerja internalnya, tapi mereka gagal menciptakan dampak dan manfaat bagi lingkup di luar dirinya.

Elemen-elemen semisal penjualan, keuntungan, dan pangsa pasar, memang merupakan ukuran yang penting bagi kinerja organisasi secara internal. Namun, hal itu sama sekali tidak mengindikasikan dampak dan manfaat yang bisa dinikmati oleh masyarakat dan bangsa secara luas.

Jadi, kalau memang seorang usahawan bertekad untuk menjadi industrialis yang berpikir melampaui kepentingan diri dan organisasinya sendiri, Kaufman memberikan tip pertanyaan yang sederhana. Awalilah kegiatan perencanaan strategis di tempat Anda dengan pertanyaan: “Dunia seperti apa yang akan Anda wariskan kepada masyarakat, bangsa, bahkan anak cucu Anda?”