: WIB    —   
indikator  I  

Dunkin' Donut rajanya kue bulat

Dunkin' Donut rajanya kue bulat
Kolumnis Internasional dan Pengajar Bisnis, tinggal di California, AS

Kita semua tentu mengenal merek kue Dunkin Donuts (DD). Ya, karena kita bisa dengan mudah menemukan kue jenis ini di pusat-pusat pertokoan atau pun di jalan-jalan utama di kota-kota besar. Tidak hanya di Indonesia, tapi hampir di seluruh dunia.

Kalau kita sejenak melongok ke belakang, produsen kue ini pernah mengalami masa suram pada tahun 1990-an. Namun, di balik kesulitan itu, kini mereka telah dan mampu bangkit kembali dan bahkan menduduki peringkat ke10 Top Franchise 2014 menurut majalah Entrepreneur.

Perusahaan ini didirikan tahun 1950. Mulai diwaralabakan lima tahun berikutnya yakni pada tahun 1960an. Kini Dunkin Donuts mempunyai 10.993 gerai di 32 negara yang menyajikan donat, bagel, sandwich, kopi, dan baked goods lainnya. Di negara asalnya Amerika Serikat (AS) sendiri ada 7.800 gerai Dunkin Donuts yang dimiliki oleh lebih dari 1.000 franchisee.

Pada perkembangannya, Dunkins Brands (gabungan DD dan Baskin-Robbins) diakuisisi oleh Pernod Ricard SA, yakni sebuah perusahaan makanan asal Perancis. Di tahun 2005, Dunkin Donuts diakuisisi oleh tiga firma private equity: Bain Capital Partners, the Carlyle Group, dan Thomas H. Lee Partners. Dengan masuknya manajemen baru, Dunkin Donuts semakin jelas positioning dan startegi bisnisnya.

Menurut beberapa franchisee di New England, hanya sekitar 8% dari omzet Dunkin Donuts yang berasal dari donat. Selebihnya 27% berasal dari bisnis dari sandwich, bagel dan makanan ringan lainnya. Yang terbesar yaitu 65% justru berasal dari omzet penjualan minuman, seperti kopi dan teh.

Dunkin Donuts kini lebih dikenal dengan gerai penjual sarapan pagi. Dan kompetitor terberatnya adalah Starbucks, yang juga menjual sarapan pagi dan kopi serta teh.

Kompetitor lainnya yang masuk ke bisnis ini adalah McDonalds Cafe , Krispy Kreme dan Honey Dew Donuts. Para investor memandang Dunkin Donuts sebagai investasi yang atraktif, mengingat operating margin yang mereka hasilkan bisa mencapai 39%. Sedangkan McDonalds hanya 30% sementara Starbucks cuma 15% saja.

Dunkin Donuts pernah keluar dari negara bagian California di tahun 2002, ketika penjualan merosot tajam. Kini Dunkin Donuts telah siap untuk menapaki California kembali setelah situasi ekonomi membaik.

Mengapa Dunkin Donuts gagal pada saat itu? Salah satu jawabannya adalah karena perusahaan ini hanya fokus penjualan kepada produk donat, bukan kopi yang lebih menguntungkan. Walhasil, dengan repositioning kembali, Dunkin Donuts sebagai gerai sarapan pagi tampaknya menjadi pilihan tepat dan menuai hasil.

Selain positioning sebagai gerai sarapan pagi, Dunkin Donuts juga menggunakan strategi partnership yang baik dengan para franchisee. Strategi ini membuat ekspansi bisnis mereka bisa berjalan berkesinambungan.

Saat ini, lebih dari 200 gerai telah dibuka di California. Mereka juga menjalin kerja sama dengan Walmart membuahkan gerai-gerai Dunkin Donuts di beberapa lokasi Walmart stores. Dalam 20 tahun, manajemen mentargetkan 15.000 gerai lagi di seluruh AS.

Penetrasi pasar di luar AS sendiri berlangsung cukup mulus. Per tahun, diharapkan dibuka 8001.000 lebih gerai di pasar internasional.

Di Eropa, kini telah ada 120 gerai, dengan dominasi di Jerman, Rusia, Spanyol, Bulgaria, dan Inggris Raya. Mereka kini sedang membidik pasar Denmark, Austria, Belgia, dan Belanda.

Namun, tampaknya donat Amerika ini perlu bersaing keras dengan tradisi wafel Belgia dan berbagai pastry Belanda dan Denmark yang telah mendarah daging.

Besar transaksi penjualan rata-rata sebesar US$ 4,50 per pengunjung, yang menimbulkan pertanyaan bagai manajemen: bagaimana jika harga dinaikkan sehingga operation margin bisa meningkat? Jawabannya: agak sulit, Pertama, mengingat zona nyaman konsumen hanya sekitar US$ 6 sampai US$ 8 per satu lusin. Alasan kedua, McD dan Starbucks juga menjual sarapan pagi dengan harga bersaing.

Hubungan baik antara Dunkin Brands sebagai franchisor Dunkin Donuts dan para franchisee ditunjang dengan komunikasi intensif serta suplai stok yang didukung supply chain yang baik.

Salah satu franchisee Dunkin Donuts yang paling berhasil adalah Cafua Management Co. yang mengantongi omzet hingga US$ 250 juta per tahun. Kini mereka telah memiliki sekitar 300 gerai di berbagai negara bagian yang dijalankan oleh 4.000 pegawai. Per minggu, omzet per gerai mencapai US$ 4.000 hingga US$ 40.000.

Sebagai gerai kopi teman sarapan pagi, Dunkin Donuts mempunyai standar yang tinggi, yaitu setiap ketel kopi baru dimasak setiap 18 menit sekali.

Gabungan antara manajemen baru, positioning, kesegaran produk, dan ekspansi agresif didukung partnership solid dengan franchisee merupakan tiket sukses Dunkin Donuts kali ini.


Close [X]