: WIB    —   
indikator  I  

Kenaikan BI Rate dan IHSG

Kenaikan BI Rate dan IHSG
Financial Expert – Prasetiya Mulya Business School

Setelah sekian lama ditunggu, akhirnya Rabu lalu (16/7/2015) Federal Reserve atau Bank Sentral Amerika Serikat (AS) memutuskan menaikkan suku bunga dari 0,25% menjadi 0,5%. Keesokan harinya, rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (BI) memutuskan mempertahankan suku acuan alias BI rate sebesar 7,5%.

Apa dampak kenaikan suku bunga terhadap harga saham? Ketika BI rate (risk free investment rate) naik, investor saham akan mensyaratkan keuntungan yang lebih tinggi pula pada investasi saham. Artinya, mereka hanya bersedia membeli saham pada harga lebih rendah dibandingkan sebelum ada kenaikan BI rate. Akibatnya, secara teoritis, pasca kenaikan suku bunga, harga saham cenderung menurun.

Saya menyajikan contoh sederhana agar memahami hubungan suku bunga dan harga saham. Misalnya, saham A memiliki harga pasar Rp 100 per saham dan diperkirakan menghasilkan laba bersih per saham atau earnings per share (EPS) sebesar Rp 10. Imbal hasil yang dinikmati investor adalah 10%. Jika obligasi pemerintah memberikan imbal hasil 5% (risk free rate), investor masih mau membeli saham A, karena menawarkan premi atau imbal hasil ekstra 5%.

Namun, ketika suku bunga naik menjadi 15%, siapa yang mau membeli saham A, jika ia tetap menawarkan imbal hasil 10%? Sekarang investor akan mensyaratkan imbal hasil 20% untuk saham A (yakni, dari risk free rate 15% ditambah premi 5%).

Agar mencapai imbal hasil tersebut, saham A diharapkan menghasilkan earnings sebesar Rp 20 (yakni, Rp 20 dibagi Rp 100 = 20%). Jika saham A diperkirakan hanya mampu menghasilkan earnings sebesar Rp 10, maka harga saham A harus turun menjadi Rp 50 untuk bisa memberikan 20% imbal hasil.

Artinya, dampak kenaikan suku bunga terhadap harga pasar saham bergantung pada kemampuan perusahaan menghasilkan earnings. Bagi perusahaan, kenaikan suku bunga akan meningkatkan beban bunga. Jika pendapatan tidak naik, perusahaan akan mengalami penurunan earnings.

Kenaikan BI rate akan menaikkan biaya modal perusahaan (weighted average cost of capital atau WACC), yang terdiri atas biaya ekuitas dan biaya utang. Pada umumnya, analis saham menggunakan metode discounted cash flow untuk melakukan valuasi sebuah saham.

Menurut metode ini, nilai wajar sebuah saham adalah nilai sekarang dari seluruh free cash flows (FCF) yang diperkirakan dihasilkan perusahaan ke depan. Untuk menghitung nilai sekarang FCF, analis menggunakan WACC sebagai pembagi FCF. Maka jelas, mekarnya BI rate akan menaikkan WACC dan akibatnya akan menurunkan nilai perusahaan.

Bagaimana dengan kenyataan di lapangan? Tabel di bawah menunjukkan perubahan IHSG selama sebulan setelah kenaikan BI rate pada periode tahun 2005 sampai 2014.

Tampak hubungan yang acak antara kenaikan BI rate dengan perubahan IHSG pada hari pengumuman kenaikan maupun sebulan setelah mekarnya suku bunga acuan. Kadang kenaikan BI rate berdampak positif, kadang berdampak negatif.

Namun harus dicatat, selain faktor kenaikan suku bunga, masih ada faktor lain yang mempengaruhi harga saham selama periode satu bulan pasca kenaikan BI rate. Hal ini menjelaskan mengapa dampak kenaikan BI rate di semester II tahun 2008 (periode krisis keuangan global) terhadap IHSG negatif dengan persentase yang cukup besar.

Jika data periode krisis keuangan ini diabaikan, kinerja IHSG baik pada hari pengumuman maupun satu bulan pasca kenaikan BI rate justru cenderung positif. Artinya, dampak negatif kenaikan BI rate terhadap harga saham lebih nyata pada saat kondisi pasar modal sedang krisis.

Hal ini bisa dimaklumi. Mengingat pasar yang sedang kehilangan kepercayaan diri mudah panik akibat sebuah perubahan kebijakan.


Close [X]