Kontan Online
  : WIB    --   
indikator  I  

Peran logika dalam sukses

Peran logika dalam sukses
Kolumnis Internasional dan Pengajar Bisnis, tinggal di California, AS

Adakah korelasi antara logika yang baik dengan kesuksesan? Saya yakin ada. Lantas, apakah logika yang baik diperlukan dalam kesuksesan secara ekonomi dan finansial? Saya juga yakin pasti ada. Walaupun belum ada bukti yang menunjukkan makin tinggi kemampuan intelektual (IQ) seseorang, makin besar pula penghasilannya.

Yang jelas, posisi-posisi tertentu yang dibayar tinggi memerlukan inteligensi di atas rata-rata. Dan, mereka yang cerdas secara intelektual dan emosional (EQ) mempunyai kans besar untuk sukses.

Studi logika hanya diajarkan di perguruan tinggi, bukan di sekolah tinggi maupun program vokasional siap kerja. Ada kecenderungan memandang studi logika sebagai sesuatu yang menara gading bagaikan studi filsafat. Padahal, keduanya merupakan panduan berpikir yang sangat bermanfaat untuk pekerjaan dan kehidupan.

Dr Scott M. Sullivan mengajar kelas online Logic 101 yang disajikan secara kontemporer sebagai materi yang dibutuhkan siapapun yang ingin menjalankan hidup dengan optimal. Ini peran logika yang baik dalam kesuksesan yang sangat nyata. Mengapa? Karena dengan logika yang baik, berarti seseorang mampu mengorganisasikan pikiran, mengenal prioritas, mengevaluasi secara kritis, serta bertanya dan menjawab secara cerdas. Orang itu juga mampu menimbang barang bukti, mengenal yang benar dari yang salah, mampu membela diri dan orang lain dengan argumen yang tepat, dan mampu mengevaluasi argumen untuk mencari konsistensi.

Anda pasti pernah mengalami pembicaraan yang out of topic (OOT). Sebagai contoh, Anda membicarakan mengenai subjek, namun yang dikomentari oleh pihak lain adalah mengenai predikat atau objek. Jelas ini merupakan salah satu bentuk logical fallacy. Dalam suatu organisasi, miskomunikasi yang disebabkan oleh minimnya kemampuan mengolah informasi dalam kerangka logika yang baik, itu akan merugikan jalannya roda manajemen.

Menyosialisasikan studi logika dalam kerangka bisnis dan kultur korporasi merupakan tantangan para trainer dan divisi pelatihan sumber daya manusia (SDM). Mungkinkah SDM Indonesia lemah karena studi logika kurang tersosialisasi dalam pendidikan di sekolah? Bisa saja, walau belum ada studi mendalam soal ini.

Idealnya, setiap manajer mengenal logika dasar sehingga tidak semena-mena memberi perintah yang mustahil untuk bisa dipenuhi. Dan, setiap anggota tim juga mempunyai logika yang baik, agar bisa menjalankan tugas dengan cerdas, mampu membuat prioritas, menimbang, dan mengenal yang benar dan salah, serta yang tepat dengan yang tidak tepat. Tentu saja, konsistensi dalam mengemukakan pendapat juga membantu dalam menjalankan pekerjaan dan manajemen.


Kultur feodal
Kultur feodal Indonesia seringkali melumpuhkan kemampuan berpikir seseorang. Anda pasti pernah menyaksikan seseorang yang dengan pongah minta dilayani, padahal situasi tidak memungkinkan karena satu dan lain hal. Pernah pula hal-hal seperti ini diberitakan di media mengenai beberapa oknum pejabat tinggi negara.

Contohnya, Anda pasti pernah membaca mengenai beberapa pejabat yang menolak untuk mematikan telepon genggamnya menjelang pesawat akan takeoff atau lepas landas. Kepongahan yang menurunkan logika atau logika yang buruk menimbulkan kepongahan? Bisa saja vice versa.

Kebodohan massal semestinya bisa diatasi dengan pelatihan logika praktis. Pikirkan betapa kebebasan berpikir secara kreatif merupakan motor dari inovasi yang sangat menentukan keberhasilan tim dan organisasi. Pikirkan betapa miskomunikasi dan debat kusir bisa diminimalkan. Berapa jam per hari bahkan per bulan dan per tahun yang bisa dihemat sehingga produktivitas naik.

Dengan suasana demokratis, egaliter, dan penghargaan sepantasnya, tim akan mampu bekerja dengan optimal. Apalagi, didukung dengan daya nalar kritis yang memberikan masukan-masukan segar. Bayangkan, bagaimana inovatifnya bisnis Anda ketika manajer dan anggota tim sama-sama cerdas dengan pemikiran progresif.

Peran logika yang baik dan IQ yang di atas rata-rata merupakan kapital personal yang sangat berharga, ketika seseorang mengalami kemunduran (setback) dalam beberapa hal di dalam hidupnya. Untungnya, neurosains membuktikan, otak manusia bersifat plastis dan bisa dipengaruhi dengan berbagai pola pikir positif dan pemilihan kata-kata yang membentuk perubahan perilaku yang bermakna. Salam sukses.