Kontan Online
  : WIB    --   
indikator  I  

Bisnis bermartabat dan bemanfaat

Bisnis bermartabat dan bemanfaat
Center for Innovation Opportunities and Development Prasetya Mulya

Olimpiade selalu menarik perhatian. Apalagi, penyelenggaraan olahraga dunia ini menyerap banyak sumber daya. Di sisi lain, olimpiade juga memiliki arti penting secara bisnis dan prestise. Sebagai perhelatan olahraga sejagat yang serba “wah”, olimpiade memiliki tujuan utama yaitu sportivitas, prestasi, dan persatuan.

Namun, Olimpiade London 2012 menorehkan sedikit catatan yang mencederai sportivitas, khususnya pada cabang bulu tangkis. Strategi yang begitu menggebu untuk menang (prestise) justru berdampak kurang baik bagi sportivitas (prestasi).

Sebenarnya, strategi, menang, sportivitas, dan prestasi masing-masing memiliki konsep yang bersifat independen. Jika dipadukan dalam suatu tindakan, niscaya hasilnya akan mengagumkan. Bukan hanya sekadar meraih kemenangan, tapi juga mengukuhkan keutamaan jati diri manusia yang di samping dianugerahi akal, juga tersemat harga diri dan etika dalam dirinya. Pemaknaan seperti ini bukan hanya berlaku di dunia olahraga, melainkan juga di semua segi kehidupan, termasuk dalam berniaga.

Strategi merupakan cara untuk mengimplementasikan ide, mulai perencanaan hingga eksekusi dalam suatu kurun waktu yang panjang. Terkandung di dalamnya terdapat juga cara untuk mengoordinasikan sumber daya untuk mencapai tujuan. Meski tujuan jelas, hendaknya strategi dilaksanakan dengan landasan etika yang selalu memperhatikan nilai dan moral.

Dalam tataran praktis, etika berkaitan dengan pantas atau tidaknya suatu tindakan secara sosial. Tujuannya adalah untuk meraih prestasi, yaitu pencapaian yang lebih baik dari sebelumnya. Keterbatasan sumber daya menyebabkan terjadi kompetisi untuk meraih prestasi, sehingga perlu dijaga sportivitas. Makna sportivitas di sini adalah kebesaran jiwa untuk berbagi serta jujur mengakui kekuatan dan kelemahan, baik diri sendiri dan pihak lain.

Dalam bisnis juga dikenal strategi, unggul, sportivitas, dan etika. Pengingkaran terhadap semangat dan nilai-nilai tersebut memunculkan istilah curang, tidak etis, dan lain sebagainya. Sebagaimana yang terjadi pada cabang bulu tangkis di Olimpiade London 2012, dalam ranah yang lebih luas adalah sah bagi atlet atau pelaku bisnis menggunakan strategi dalam berkompetisi untuk memperoleh kemenangan atau meraih keunggulan. Sepanjang semua aturan ditaati, tidak mudah untuk menetapkan pihak yang bersalah.

Yang menjadi pertanyaan adalah apakah kemenangan dan keunggulan itu bernilai prestasi, sportif, dan beretika? Kehidupan mengajarkan bahwa pemaknaan tidak hanya didasarkan pada aturan hukum positif, tapi juga perlu menimbang etika agar lebih bermartabat.

Asas manfaat dan martabat

Manusia dan bisnis adalah dua entitas yang bersatu untuk mewujudkan suatu tujuan. Adalah hal yang wajar jika manusia sebagai pelaku bisnis mampu mengerahkan segala potensi yang ada di dalam dirinya untuk mencapai tujuan bisnis yang bermanfaat bagi khalayak luas.

Penekanan pada asas manfaat adalah untuk menunjukkan bahwa keuntungan ekonomi bukan satu-satunya tujuan bisnis. Bisnis harus memberikan manfaat kepada semua pemangku kepentingan. Keuntungan secara ekonomi hanya merupakan salah satu manfaatnya yang terutama dinikmati oleh penjual atau yang terlibat dalam proses produksi. Manfaat positif yang dirasakan semua pemangku kepentingan merupakan energi yang mendorong bisnis akan bisa bertahan, bahkan bertumbuh.

Munculnya wacana integrasi manfaat ke dalam bisnis sesungguhnya berawal dari carut marutnya dunia bisnis modern yang mengesampingkan moralitas dan etika. Kompetisi dalam dunia bisnis modern hanya berkutat pada lingkaran kekuatan modal.

Dalam bisnis, sebenarnya faktor terbesar terletak pada manusia dan etika bisnisnya. Keserakahan sangat mungkin menghadirkan keuntungan dalam bisnis, namun akan menuntun orang untuk manipulatif demi meraih keuntungan besar. Akibatnya, banyak orang yang kecewa karena merasa telah tertipu. Akibat lainnya adalah keengganan orang untuk berniaga dengan kita, sehingga kebangkrutan adalah tinggal menunggu saatnya saja.

Konstruksi pemahaman tentang asas manfaat dan etika seperti tersebut di atas memerlukan suatu proses yang bersifat sangat pribadi untuk bisa menjadi sebuah dasar perilaku bagi setiap individu. Perenungan, kontemplasi, dan upaya instrospeksi merupakan beberapa metode yang bisa dilakukan. Untuk membentuk pemahaman secara kolektif, yang dibutuhkan adalah fasilitator dan lembaga yang representatif.

Ilustrasi dari peristiwa di Olimpiade London 2012 menyadarkan kita bahwa segala aturan yang dibuat dan disediakan untuk menciptakan ketertiban masih menyisakan peluang terjadinya tindakan kurang terpuji. Sanksi dan penerapannya kadang kala belum mampu meredam potensi tindak manipulasi.

Regulasi akan selalu mengalami penyempurnaan, tapi menyiapkan manusia yang beretika juga penting untuk memberi nuansa kehidupan bisnis yang bermartabat dan bermanfaat. Sikap inilah diharapkan mampu mencegah pemanfaatan celah-celah hukum dari perbuatan tercela.

Dunia pendidikan harus mengambil peran yang lebih besar untuk menciptakan insan bisnis yang berkomitmen terhadap etika. Kepatuhan terhadap peraturan merupakan hal yang tidak bisa ditawar dalam berniaga. Namun, integritas dan komitmen terhadap etika merupakan kebutuhan dasar yang yang harus terus dibentuk agar mampu mengisi dinamika bisnis secara lebih bertanggungjawab.

Pada era modern ini bahkan martabat dan manfaat tidak hanya berorientasi murni pada faktor ekonomi, melainkan juga menyentuh aspek sosial dan lingkungan. Dalam kerangka ini, sebenarnya prestise dan prestasi bukanlah bertentangan, tapi justru bisa diwujudkan secara utuh.