Kontan Online
  : WIB    --   
indikator  I  

As goes January, so goes the year

As goes January, so goes the year
Financial Expert-Prasetiya Business School

Bad news. Bagi investor saham, berhati-hatilah dengan tahun 2016. Meskipun IHSG di Januari 2016 ditutup sedikit menguat (0,76%), harga saham di bursa Amerika Serikat sedang meringis.

Standard & Poor’s 500 Index sempat mengalami penurunan tajam hingga 12%, sebelum ditutup turun 5,1% selama Januari 2016. Penurunan ini membuat sekitar US$ 2,5 triliun nilai saham menguap ke udara. Ini adalah Januari terburuk dalam tujuh tahun terakhir.

Kambing hitamnya sudah jelas: penurunan harga minyak dan perlambatan ekonomi China. Mayoritas equity strategist di AS yang tadinya berharap harga saham akan naik 10% selama 2016, mulai cemas. “The question is: Do we get it all washed out in January and then move on, or is it a harbinger of doom to come? I don’t know if I have a great answer either way,” kata Gina Martin Adams, equity strategist dari Wells Fargo Securities LLC. Ia menambahkan bahwa persentase terbesar kenaikan saham tahunan pada umumnya terjadi di Januari, November dan Desember. Maka kerugian besar di Januari menimbulkan kecemasan bahwa 2016 akan ditutup dengan imbal hasil saham yang negatif. Apakah pepatah terkenal “as goes January, so goes the year” akan terjadi di 2016?

Di AS, sejak 1927, kinerja saham di Januari sinkron dengan kinerja saham tahunan sebanyak 68% dari waktu. Misalnya, tahun 2008 dibuka dengan kerugian 6,1% selama Januari. Tahun 2008 ternyata mengerikan, dan akhirnya ditutup dengan penurunan Standard & Poor’s 500 sebesar 34% setahun.

Apakah kinerja saham di Januari merupakan indikator bagi kinerja saham tahunan di Indonesia? Jika kita cermati tabel perubahan IHSG di Januari selama periode 2000-2015, kita mendapati hanya lima kali perubahan negatif. Penurunan terbesar terjadi di Januari 2000 (turun 9,40%). Pada tahun tersebut, IHSG mengalami penurunan cukup tajam, yakni 33,12%) Apakah hal ini cukup untuk mengamini pepatah “as goes January, so goes the year”? Tampaknya tidak demikian. Selama periode 2000-2015 (16 tahun), hanya ada delapan tahun (50% dari waktu) di mana kinerja IHSG di Januari sinkron dengan kinerja IHSG tahunan.

Coba perhatikan tahun 2006, 2007, 2009 dan 2010. Walau kinerja IHSG di Januari memerah, namun IHSG mengalami kenaikan cukup tinggi pada tahun-tahun tersebut. Artinya, jika IHSG memerah di Januari, justru ada peluang cukup besar (4 dari 5 kali atau 80%) IHSG naik di tahun tersebut.

Kinerja Januari yang bagus juga ternyata bukan jaminan bahwa kinerja tahunan akan bagus. Misalnya, pada 2008 IHSG di Januari naik 3,6% namun penurunan IHSG akhirnya mencapai 49% setahun. Demikian pula tahun lalu. IHSG naik 3% di Januari, akan tetapi 2015 terbukti memberikan secangkir kopi pahit (tanpa sianida).

Atau, lihatlah tahun 2013. Di Januari, IHSG amat menjanjikan, naik hingga 7,68%. Namun terpuruk di semester kedua, sehingga akhirnya ditutup dengan penurunan hampir 1% dalam setahun. Bagaikan pertandingan sepakbola, di mana sebuah tim sudah unggul 4–0, akhirnya kalah dengan skor tipis 4–5.

Bagaimana dengan 2016? Berdasarkan data historis seperti sudah dijelaskan di atas, ada peluang 68% Standard & Poor’s 500 akan merah di 2016. Padahal sudah menjadi rahasia umum pergerakan IHSG sangat dipengaruhi laju indeks saham di AS. Ditambah pelemahan harga minyak dan pelambatan ekonomi di China, ini bisa membuat investor saham Indonesia panas dingin di tahun monyet api.