Kontan Online
  : WIB    --   
indikator  I  

Memasak emosi marah

Memasak emosi marah
Pengamat Manajemen dan Kepemimpinan

Pembaca, Anda pasti pernah punya pengalaman menghadapi bos atau teman kerja yang suka marah-marah. Melihat laporan yang tidak rapi dan lengkap, mukanya langsung memerah dengan mata melotot. Jika ada pekerjaan yang tak tuntas, suaranya langsung meninggi sambil berkacak pinggang, juga tidak lupa jarinya menunjuk-nunjuk ke orang lain.

Dan, bukan tak mungkin jika darahnya sudah mendidih hingga ke ubun-ubun, dari mulutnya pun fasih menyebut kencang nama-nama satwa di kebon binatang. Emosi yang sungguh tak terkendali!

Di luar dunia perkantoran, kita juga pasti pernah menyaksikan hal serupa terjadi pada anak kecil. Jika tak diberi permen atau cokelat, sang bocah akan langsung meledakkan tangis yang memekakkan telinga.

Kalau kalah merebut mainan dengan temannya, ia pun tak sungkan menunjukkan kegeramannya dengan menggigit kencang-kencang lengan sang teman.

Juga, saat sedang jalan-jalan di pusat perbelanjaan, jika permintaannya tak dipenuhi ia pun tidak sungkan menggulingkan badannya sambil berteriak, tak peduli sekitar. Lagi-lagi, emosi yang tak terkendali!

Banyak cerita serupa yang pasti pernah kita alami pada keseharian kehidupan, termasuk dalam urusan pekerjaan. Sosok-sosok emosional yang acapkali disebut dengan high tempered person, selalu ada di sekitar kita.

Atau, jangan-jangan kita sendiri juga termasuk tipe sosok seperti itu. Emosional, gampang jengkel, dan meledakkan amarah ke orang-orang sekitar, yang boleh jadi tak bersalah dan tak tahu apa-apa.

Studi pun menunjukkan, bahwa urusan emosi seperti ini  tak berkorelasi dengan tingkat kecerdasan intelektual seseorang.

Daniel Goleman, psikolog Harvard University, mengatakan, sangat mungkin orang mempunyai kecerdasan intelektual yang luar biasa tingginya, namun tak diimbangi dengan kecerdasan emosional (emotional intelligence) yang baik. Karena, kecerdasan emosi semata-mata terkait dengan kesanggupan seseorang untuk mengatur, mengendalikan, dan mengelola gejolak emosi yang ada di dalam jiwanya.

Emosi = energi

Boleh dikatakan, ilmu psikologi modern cenderung memanjakan emosi manusia. Postulatnya adalah, emosi merupakan bentuk energi yang ada di dalam jiwa manusia.

Di dalam ilmu alam, kita diajarkan bahwa energi tak bisa hilang, hanya berubah wujud. Energi panas bisa dialihkan menjadi energi gerak, dan seterusnya diubah lagi jadi energi bunyi, dan seterusnya. Sebagai energi, emosi pun tak bisa dihilangkan dan hanya dapat dialihkan.

Dan, satu-satunya cara untuk mengalihkan energi yang memanas di dada kita adalah mengungkapkannya ke luar, entah lewat bunyi teriakan di mulut ataupun gerakan agresif di tangan.

Makanya jangan heran, jika seseorang yang sedang dilanda kejengkelan biasanya disarankan masuk ke sebuah ruangan kosong untuk meledakkan amarah sekeras-kerasnya dan sebebas-bebasnya. Harapannya ialah, sesudah kejengkelan itu diekspresikan, orang yang bersangkutan akan kehabisan energi dan lemas terkulai tak berdaya.

Memang benar, seketika emosinya terungkapkan, orang yang bersangkutan akan menjadi lebih tenang. Tapi, sesungguhnya ketenangan itu muncul bukan karena yang bersangkutan berhasil mengelola energi emosinya secara baik, semata-mata karena ia kehabisan energi.

Dengan demikian, ekspresi emosi seperti itu sesungguhnya tak mendatangkan pembelajaran apa-apa, kecuali ketenangan yang bersifat sesaat. Jadi, ledakan kemarahan seperti itu akan muncul lagi di masa-masa akan datang.

Mahaguru Zen Buddhism ternama Thich Nhat Hanh mempunyai nasihat yang menarik tentang pengelolaan kemarahan ini. Dalam banyak buku yang ditulisnya seperti Peace is Every Step (1998), dia menganalogikan emosi kemarahan semacam sebuah kentang mentah.

Kita tentu tak bisa makan kentang mentah, tapi juga kita tidak akan membuangnya hanya karena masih mentah. Kita tahu bisa memasaknya, agar menjadi makanan layak santap.

Jadi, kita memasukkannya ke dalam sepanci air, memasang tutupnya, dan selanjutnya menaruh panci itu di atas api. Saat pemanasan dilakukan, perubahan pun terjadi.

Air mulai menjadi hangat. Sepuluh menit kemudian airnya mendidih, tapi kita harus terus menjaga apinya lebih lama lagi, agar bisa memasak kentangnya hingga empuk.

Selang setengah jam, kita baru bisa mengangkat tutup panci lalu membaui sesuatu yang berbeda, bau yang begitu harum menggoda. Dan, kita tahu kini kentang pun siap disantap.

Selayaknya kentang, emosi kemarahan kita pun perlu “dimasak” dengan baik, agar menjadi sikap pemahaman yang matang dan bijak.

Mengekspresikan emosi kemarahan dengan begitu saja, maka seperti melemparkan sebuah kentang mentah ke muka orang lain dan selanjutnya menelan ke dalam mulut sendiri. Sama-sama sakit, tidak ada gunanya