: WIB    —   
indikator  I  

Lesson from Red Devils

Lesson from Red Devils
Center for Finance & Investment Research Prasetiya Mulya Business School

Memiliki pesepakbola tenar seperti Wayne Rooney, walau cuma selembar rambutnya, bukan hal mustahil. Kita tinggal membuka rekening pada perusahaan sekuritas yang terdapat di New York Stock Exchange. Lalu kita bisa bertransaksi secara online untuk membeli saham Manchester United Ltd. yang go public Kamis lalu.

Saat melantai di bursa sekunder, saham berkode MANU itu, tidak bergeser dari harganya di pasar perdana, yaitu US$ 14. Jadi, dana yang dibutuhkan untuk membeli 1 lot atau 100 saham MANU adalah 14 x 1 x 100 x Rp 9.600 = Rp 13,4 juta

Sayangnya, kita tidak mendapatkan lembaran saham yang bisa dipigura dan dipajang di kantor. Cukup lah kita tercatat sebagai pemilik Manchester United, si Setan Merah. Setidaknya kita bisa sombong, “Aku diundang ke rapat pemegang saham Manchester United, cing!”

Bagi yang kurang suka nonton sepak bola, sekadar info, Manchester United adalah klub sepakbola Inggris paling sukses. Klub itu 19 kali menjuarai English Premiere League. Majalah Forbes menobatkannya sebagai klub olahraga paling bernilai sejagat. Penggemarnya tersebar di seantero bumi, diperkirakan mencapai 600 juta.

Jangan pandang sebelah mata kemampuannya menghasilkan duit, walau aset utamanya cuma puluhan pemain sepakbola dan satu stadion. Bulan lalu Chevrolet, teken kontrak sebagai sponsor kostum dengan membayar 200 juta poundsterling untuk tujuh tahun. Di tahun 2011, total pendapatan United adalah 331 juta poundsterling dengan EBITDA-nya 110 juta poundsterling.

Lalu mengapa mesin duit seperti ini melakukan IPO? Semuanya berawal dari 2005, ketika Malcolm Glazer, businessman Amerika, membeli United dengan utang. Ini adalah contoh leveraged buyout (LBO), yakni membeli perusahaan dengan dana utang. LBO adalah strategi akuisisi yang populer di Amerika Serikat. Setelah menguasai perusahaan dengan utang, pemilik baru berusaha memperbaiki kinerja, melalui peningkatan pendapatan dan penghematan biaya, kemudian mengurangi tingkat utang, dan terakhir, IPO.

Saat itu, United adalah perusahaan publik. Glazer mengeluarkan dana 800 juta poundsterling untuk membeli semua saham United di bursa, di mana separuhnya berasal dari utang. Seperti LBO lain, United lantas berubah status dari perusahaan publik ke perusahaan private.

Setelah 7 tahun, dengan performa United yang semakin kinclong di lapangan hijau sehingga brand value-nya meningkat, Glazer merasa sudah waktunya untuk meng-IPO-kan kembali United.

Inilah exit strategy Glazer, sebagai akhir dari LBO tersebut. Dia ingin menjual United di harga tinggi. Dan hal tersebut, ia yakini bisa tercapai melalui penawaran saham MANU di New York. Harapan Glazer, pasar sekunder mengapresiasi harga saham MANU dan Glazer bisa menjual saham yang ia miliki ke publik, daripada hanya ke beberapa pihak.

Tahun lalu, kelompok investor dari Qatar menawar United. Namun mereka mundur ketika tahu harga yang diminta Glazer mencapai US$ 2 miliar. Padahal, dengan harga IPO US$ 14 per saham, berarti nilai United adalah US$ 2,3 miliar.

Melalui bursa saham, Glazer juga bisa menjual hanya sebagian sahamnya, bukan seluruh saham, seperti jika menjual ke pihak tertentu.

Pelajaran apa yang bisa diambil dari IPO Setan Merah? Di Indonesia, proses membeli perusahaan dengan skema LBO sering juga digunakan. Satu contoh LBO terbesar di Indonesia adalah saat lima investor membeli PT Padang Kurnia dengan utang senilai US$ 923 juta. Perusahaan ini kemudian go public tiga tahun kemudian. Kelima investor itu, per akhir 2008 memiliki 65% dari saham Adaro Energy.

Seperti IPO saham MANU, investor di Indonesia, perlu mencermati perusahaan yang melakukan IPO. Tidak jarang perusahaan melakukan IPO untuk mendapatkan harga setinggi-tingginya, hingga pemilik atau founder shareholder memperoleh keuntungan dengan melepas sebagian sahamnya.

Kasus IPO Facebook masih segar dalam ingatan. Harga IPO sebesar US$ 38 ternyata kemahalan. Saat ini harga saham Facebook hanya berkisar US$ 20. Akibatnya, investor yang membeli Facebook di pasar perdana menderita kerugian yang besar.

Sebelum membeli saham IPO, sebaiknya kita menganalisis secara cermat prospek perusahaan tersebut. Apakah asumsi pertumbuhan realistis? Bagaimana risiko bisnis dan finansialnya?

Dana yang diperoleh dari IPO digunakan untuk apa? Bagaimana struktur modalnya? Bagaimana reputasi pemiliknya? Jangan sampai kita terjebak membeli saham IPO yang kemudian harganya bergerak ke turun setelah IPO, dan ujung-ujungnya semakin tidak likuid.      


Close [X]