Kontan Online
  : WIB    --   
indikator  I  

Portofolio saham yang optimal

Portofolio saham yang optimal
Financial Expert-Prasetiya Mulya Business School

William Sharpe, pemenang Nobel Ekonomi 1990, bersama gurunya Harry Markowitz, menjelaskan, semua saham atau bisnis terpengaruh oleh kejadian makro dan mikro. Kedua kejadian ini yang membuat nilai atau harga pasar saham berfluktuasi.

Kejadian makro adalah kejadian yang menimpa seluruh saham atau bisnis di sebuah negara tanpa pengecualian. Misal, pelambatan ekonomi dan penurunan nilai tukar rupiah. Ketidakpastian yang dipicu oleh kejadian makro disebut risiko pasar atau risiko sistematis (market or systematic risk).

Kejadian mikro adalah kejadian spesifik yang hanya menimpa sebuah saham atau bisnis. Misalnya, accounting fraud, mogok karyawan atau meninggalnya CEO sebuah perusahaan. Ketidakpastian akibat kejadian mikro disebut risiko tak sistematis (unsystematic risk) atau risiko yang bisa dibuang melalui tindakan diversifikasi (diversifiable risk).

Prinsip diversifikasi saham (don’t put all eggs in one basket) yang diajarkan Harry Markowitz (1952) hanya bisa mengurangi unsystematic atau diversifiable risk ini. Sedangkan market risk atau systematic risk tak bisa hilang meski kita telah diversifikasi gila-gilaan, misalnya membeli ribuan jenis saham.

Inilah penyebab ketika terjadi krisis keuangan global 2008, harga saham di semua sektor terkena imbas negatif. Wilshire 5.000 Index yang berisi 5.000 saham di AS juga menurun. Warren Buffett, investor legendaris, juga tak luput dari hantaman krisis. Ia menderita kerugian US$ 25 miliar akibat saham Berkshire Hathaway, holding company konglomeratnya, jatuh 50% dalam setahun.

William Sharpe berteori, karena kejadian makro itu, risiko portofolio akan mencapai titik minimal saat investor mengoleksi sejumlah saham. Ketika titik minimal tercapai, penambahan sejumlah saham baru di portofolio tak bisa menurunkan risiko portofolio lagi. Memegang terlalu banyak saham malah membuat investor kurang fokus (over-diversified).

Pertanyaannya, berapa saham yang harus kita beli? Penelitian empiris di AS dan beberapa negara lain seperti China dan India (Statman, 1987; Campbell, dkk, 2001; Kearney dan Poti, 2008), menunjukkan, perlu 20–40 saham untuk membuang seluruh risiko akibat faktor mikro.

Itulah sebabnya, reksadana saham biasanya terdiri atas 30 hingga 40 saham. Pengelola reksadana berusaha memiminalkan risiko investasi dengan membuang risiko yang dipicu oleh kejadian mikro.

Bagaimana dengan pasar modal Indonesia? Saya bersama Dommy Admoko, Aviandini Savitri dan Arief Rijanto dari Prasetiya Mulya Business School, meneliti hal serupa dua tahun silam. Saat itu, Dommy dan Aviandini masih berstatus mahasiswa S1-Finance. Kami memakai data harga saham di BEI periode 2010 hingga 2011.

Hasilnya, jika portofolio kita hanya satu jenis saham (artinya kita tak mendiversifikasi), rata-rata risiko portofolio (diukur dengan parameter statistik “deviasi standar” atau ukuran variabilitas sebuah data) adalah 42,82%. Tapi bila kita punya dua saham, risiko portofolio turun menjadi 34,08%. Semakin banyak jenis saham yang dipegang, kian rendah risiko (ketidakpastian imbal hasil) portofolio. Pada saat portofolio kita terdiri atas 14 saham, risiko portofolio tinggal separuh risiko portofolio yang berisi satu saham.

Hasil penelitian ini menunjukkan, sejatinya cukup memegang 10 saham di portofolio, kita sudah bisa mendiversifikasikan 48% risiko portofolio (berkurang dari 42,82% ke 22,35%). Jika kita tambahkan lagi saham menjadi 20, risiko hanya turun sedikit menjadi 20,71% (artinya kita bisa membuang sekitar 51% risiko portofolio dengan diversifikasi ini). Moralnya, dengan memegang 10 saham terdaftar di BEI, sudah cukup efektif untuk membuang separuh risiko portofolio.

Tentu dengan catatan sebaiknya investor memilih saham dari sektor berbeda, serta tetap melakukan analisis fundamental. Dengan memegang 10 saham, investor ritel yang sibuk masih mampu mengikuti perkembangan perusahaan yang sahamnya dia miliki.