Kontan Online
  : WIB    --   
indikator  I  

5 Faktor kegagalan implementasi BI

5 Faktor kegagalan implementasi BI
Founder of Lightora UMN Incubator

Tidak semua implementasi Business Intelligence (BI) pasti berhasil di lakukan sesuai dengan yang diharapkan. Beberapa faktor yang dapat mengakibatkan kegagalan antara lain sebagai berikut:

1. Pemahaman konsep dan sistem BI yang salah. Sebelum Anda memutuskan melakukan implementasi BI sebagai aplikasi pendukung keputusan yang sangat strategis, sangat dianjurkan mengetahui sebelumnya pemahaman konsep-konsep dasar dari BI itu sendiri. 

Masih banyak yang menganggap Dashboard KPI yang interaktif = BI. Padahal itu "hanya" presentasi final dari informasi yang harus VALID. Dan validitas data tidak diperoleh dengan gampang, ada banyak metode dan proses yang harus dilalui.

Juga harus disadari, tak ada satupun sistem BI langsung “siap pakai”. Sistem kebutuhan informasi pendukung keputusan dari setiap user pengguna pasti berbeda. Business process untuk satu pengguna tidak sama dengan pengguna lain.

Oleh sebab itu, pengguna perlu memiliki definisi dan gambaran yang jelas terhadap hal-hal ini sehingga tidak memiliki harapan yang tinggi tapi tidak realistis.

2. Perencanaan dan persiapan yang kurang matang. Dari pemahaman BI yang baik, tentunya berlanjut pada perencanaan dan persiapan implementasi mulai dari definisi formal apa yang diinginkan, organisasi struktural, termasuk alokasi SDM yang memadai, penyediaan data, capacity planning, dan lain-lain.

Karena dengan memahami hal ini tentunya pihak pengguna bisa mempersiapkan segala sesuatunya agar bisa mencapai dua tujuan :

  • Mendapatkan sistem BI yang maksimal sesuai kebutuhan serta target pencapaian yang diinginkan.
  • Meminimalisasikan hambatan yang mungkin terjadi dalam proses pengembangan.

3. Intensitas komunikasi pengguna-pengembang sistem BI yang rendah.
Metodologi pengembangan BI agak berbeda dengan sistem pengembangan aplikasi IT biasa. Porsi interaksi yang lebih panjang antara pengguna–yaitu komunitas eksosistem bisnis (direktur, manajemen, dan staf)–dengan IT dan pengembang aplikasi BI itu sendiri merupakan penentu sukses yang sangat penting.

Masih rendahnya dukungan informasi dan hubungan komunikasi antar pengguna dan pengembang akan menyebabkan implementasi BI yang sangat buruk.

4. Kualitas data yang sangat rendah. Proses dasar BI adalah pemanfaatan berbagai sumber-sumber data yang ada, dan diolah dengan menggunakan rangkaian metode, aplikasi dan teknologi untuk menghasilkan informasi yang dapat membantu pihak user dalam pengambilan keputusan.

Proses untuk menghasilkan informasi yang baik tentu memerlukan data yang bersih dan berkualitas tinggi. Sumber data yang kotor-dalam arti inkonsistensi pola data, struktur, dan kompleks dari banyak sisi lainnya–akan menyebabkan proses perbaikan berjalan lama sebelum dapat disajikan sebagai informasi.

Perlunya proses panjang untuk mendapatkan data yang bersih ini sebelum dapat dimanfaatkan dalam sistem BI sering sekali kurang dipahami oleh user.

5. Kurangnya SDM yang memenuhi syarat.
Sistem BI yang baik wajib memenuhi kebutuhan informasi yang inginkan. Sistem yang baik tanpa SDM berkualitas tidak akan menghasilkan sesuatu yang berarti dan sangat berisiko menemui kebuntuan dalam setiap tahap implementasi.

Ibarat kendaraan canggih tanpa supir yang memahami jalan dan juga semua fungsi dari kendaraan itu, maka kendaraan tidak bernilai apa apa. Hal ini tentunya diperlukan pemahaman dari top eksekutif untuk bersedia dan mampu mempersiapkan SDM yang dibutuhkan.