: WIB    —   
indikator  I  

Kegaduhan dan ketakutan pasar modal

Kegaduhan dan ketakutan pasar modal
Kepala Riset Universal Broker Indonesia

Zaman berubah. Kehidupan online berdampingan dengan kehidupan offline. Dunia maya menjadi pendamping dunia nyata dan kita berada di tengah-tengahnya.

Kini Facebook dan Twitter mendominasi kehidupan sebagian dari kita. Sumber informasi dan berita tak hanya dari media mainstream. Berita bisa berasal dari website, blog, status Facebook, ataupun Twitter.

Ini tentu berimbas pada kualitas dan kecepatan informasi. Berita tak lagi harus dari sumber kompeten. Semua orang bisa menjadi sumber berita dan menebar opini. Resmi tidak resmi, asli atau abal-abal, sekilas tak berbeda. Selama terasa masuk akal dan dirasa paling pas dalam menjelaskan kondisi saat ini, itu akan dinilai sebagai kebenaran.

Dan belum semua orang Indonesia tertarik saham. Tapi, kalau membaca tulisan ini sampai pada titik ini, berarti Anda memiliki minat terhadap pasar modal, bahkan memiliki investasi saham.

Kalau aktivis pasar modal, Anda sudah pasti tahu, informasi bisa menggerakkan harga. Analisis teknikal mungkin mengetahui arah pergerakan harga sebelum sebuah berita keluar. Tapi tetap saja, hanya berita yang bisa menggerakkan harga. Dengan analisis teknikal, trader bisa mengambil posisi ketika harga reversal.

Tapi tetap saja, hanya berita yang membuat harga mampu bergerak hingga 10%-15%. Tanpa berita, pergerakan harga sering kali tidak lebih dari 5%. Kecuali kalau digoreng.

Harga saham adalah realita saat ini dari kondisi masa depan. Jika masa depan dirasa lebih bagus dari masa kini, harga bergerak naik. Jika masa depan dirasa lebih buruk, harga bergerak turun. Harga akan bergerak volatil, jika masa depan terus berpindah antara baik dan buruk.

Kalau masa depan penuh ketidakpastian, biasanya hanya satu yang dilakukan: lepas semua posisi, jual semua posisi. Itu karena orang cenderung risk averse, menghindari risiko.

Tapi, jika masa depan terus berubah antara bagus sekali dan jelek sekali, di situ harga akan volatil. Harga bergerak naik turun signifikan, karena masa depan terus berpindah. Kalau Anda melihat kondisi harga minyak atau kondisi bursa global belakangan ini, itu yang disebut volatil.

Gaduh adalah sebuah terminologi yang dipopulerkan Presiden Jokowi September tahun lalu. Ketika itu, isu reshuffle sedang hangat-hangatnya. Presiden berkata, jangan gaduh, biarkan menteri bekerja. Jokowi meminta media tak menghabiskan energi mengurus menteri yang akan diganti.

Di pasar modal, saya lebih suka mengartikan gaduh sebagai sesuatu yang berbeda. Gaduh adalah kondisi harga saham mengalami kejatuhan bebas, koreksi harga sangat besar, lebih dari 10% atau 15%, sebagai akibat ketidakjelasan komunikasi seorang pejabat.

Mau tahu contohnya? Contoh fenomenal pada awal tahun 2015. Ketika itu, Presiden Jokowi melakukan kegaduhan saat mengumumkan penurunan harga semen dan gas, bersamaan dengan penurunan harga bahan bakar minyak (BBM).

Karena ketidakjelasan informasi, pasar kemudian menyimpulkan, harga semen dan gas mau diatur ketat ini. Seketika itu juga, harga saham PGAS dan SMGR terjun bebas.

Niat Presiden Jokowi sebenarnya baik, hanya ingin menunjukkan, bahwa harga bisa turun ketika harga BBM diturunkan. Namun, karena komunikasi buruk dan tanpa penjelasan, harga saham berjatuhan.

Pasar kemudian melanjutkan interpretasi bebas dengan terus melepas posisi Efeknya masih terlihat, saham PGAS yang dulu Rp 4.000-Rp 5.000, sekarang Rp 2.000-Rp 3.000. Sebagian memang disebabkan kondisi fundamental perseroan yang memburuk, seiring kejatuhan harga minyak. Tapi, faktor kegaduhan membuka kotak pandora yang belum ditemukan tutupnya.

Inilah urutan kegaduhan. Pejabat memberikan komentar, lalu harga saham jatuh. Pejabat yang berwenang tak memberikan pernyataan atau gagal memberikan pernyataan yang memuaskan pasar. Rekan dari pejabat itu kemudian memberikan komentar. Bukan malah bagus, harga semakin jatuh.

Lalu, orang berharap harga kembali normal seiring pergerakan waktu. Tapi, pasar terlanjur bereaksi terhadap ketidakpastian, harga jatuh. Walhasil, pasar hanya bisa menanti badai berlalu.

Dalam dunia bisnis, harga kepercayaan sangat mahal. Begitu juga di bursa saham. Hanya kepercayaan yang bisa membuat harga dari sebuah saham mengalami overvalue.

Lihat UNVR. Mana mungkin sebuah saham diperdagangkan secara konsisten di price to earning ratio (PER) 40 kalau orang tak percaya emiten itu.

Di bursa saham, aliran dana juga yang membuat suatu instrumen keuangan overvalue. Kalau dana sudah mengalir masuk, harga akan terus bergerak naik, meski harga tidak masuk akal. UNVR contohnya. Mana mungkin saham di PER sekitar 50 kali, tapi orang tetap bilang: buy!

Pasar modal kita belum terlalu kuat. Yang dominan di pasar, masih bukan investor, tapi dana portofolio jangka pendek yang mengalir masuk atau keluar. Dana ini yang bisa menyebabkan IHSG 6.000 atau 3.000 dalam waktu sangat singkat.

Dana ini yang bisa mengakibatkan rupiah Rp 9.000 atau Rp 17.000 per dollar AS dalam waktu yang sangat singkat juga. Haruskah kita mengusir dana tersebut dengan semua kegaduhan yang gemar kita lakukan?

Sebagai pengamat pasar modal, saya melihat pasar modal sudah masuk tahapan trauma kegaduhan stadium akut. Pasar sudah takut, pekan depan, nanti, besok, atau pada beberapa jam berikutnya, seseorang akan mengeluarkan statement prematur, yang akan menghancurkan harga dalam waktu singkat.

Pak Jokowi, haruskah pasar modal hidup dalam ketakutan seperti itu? Sayang banget. Melihat paket kebijakan, kerja keras presiden, bangsa ujungnya hanya seperti itu. Sulit bagi IHSG memasuki bullish run panjang, selama kondisi masih seperti sekarang ini.

Happy trading. Semoga selalu barokah.


Close [X]