Kontan Online
  : WIB    --   
indikator  I  

Tahun monyet api

Tahun monyet api
Pengamat Manajemen dan Kepemimpinan

Dalam mitologi tentang astrologi China (yang dikenal dengan istilah Cap Jie Shio alias dua belas rasi bintang), monyet adalah hewan ke-9 yang datang menyambangi Sidharta Gautama, saat sang Buddha sedang bertapa untuk mencapai moksa.

Dalam keseharian, monyet adalah hewan yang sangat familier bagi kehidupan dan pergaulan manusia, dengan beragam alasan.

Monyet (dan kelompok hewan sejenisnya) dianggap memiliki kemiripan dengan manusia dalam hal bentuk fisik. Bahkan, ada yang menganggapnya sebagai awal sejarah evolusi makhluk manusia yang paling primitif.

Monyet dianggap memiliki kemiripan perilaku dengan manusia, dari gaya makan, bergaul dengan sesama, hingga cara mempertahankan diri dan bersaing dengan kelompok lawannya.

Dan yang jelas, monyet seringkali menjadi hewan andalan yang menemani manusia saat melakukan aksi hiburan, mulai atraksi topeng monyet di jalanan hingga tontonan sirkus di panggung pertunjukan. Monyet dipilih menjadi sosok entertaining karena memiliki sifat cerdik, usil, dan jenaka.

Makanya, tidaklah mengherankan jika sebutan monyet seringkali dijadikan lelucon praktis dalam pergaulan antarteman. Kalimat-kalimat, seperti dasar monyet!, monyet elu!, emang monyet!, seringkali terdengar dalam obrolan ringan sekumpulan orang. Entah itu dimaksudkan untuk menyindir ataupun mengumpat kecil, semuanya seolah-olah tersampaikan sebagai lelucon praktis.

Selain cerdik, usil, dan jenaka, monyet dijadikan sebagai makhluk panggung hiburan, karena pada dasarnya ia juga senang menjadi subjek tontonan.

Kata anak muda sekarang, monyet adalah makhluk yang sangat sadar panggung dan sadar kamera. Mereka tak pernah malu dan minder untuk tampil sebagai pemeran utama sebuah tontonan, dan bahkan mengharapkan tepuk tangan dan sorak-sorai dari para penonton. Semakin gemuruh sambutan dari penonton, maka semakin lebar mulutnya menyeringai.

Monyet seolah-olah menganggap hidup adalah sebuah panggung sandiwara, tempat orang ber-acting sedemikian rupa sembari beradu jenaka, sambil mengharapkan orang-orang di sekitar puas dan meledakkan tawa.

Lantaran kehidupan adalah pentas acting, tak heran jika hewan ini bisa bertindak kreatif, provokatif, bahkan terkadang manipulatif.

Bukan memanipulasi

Entah kebetulan atau tidak, cukup banyak aktor, aktris, dan selebritis yang akrab dengan panggung pertunjukan, lahir di dalam naungan rasi monyet.

Sebut saja nama-nama seperti: Tom Hanks, Rod Stewart, Kylie Minogue, Daniel Craig, Justin Timberlake, Selena Gomez, Syahrini, Pevita Pearce hingga Ayu Ting Ting, dan masih banyak artis lainnya.

Salah satu televisi swasta nasional menayangkan sinetron berseri dengan judul Tetangga Masa Gitu?. Sinetron dengan genre komedi situasi ini bercerita tentang kehidupan sehari-hari dua pasangan suami-istri yang bertetangga, yakni pasangan Adi dan Angel serta Bastian dan Bintang.

Di antara keempat sosok tersebut, bagi saya, figur Adi adalah personifikasi yang nyaris sempurna dari karakter monyet dalam diri manusia. Adi, suami Angel, digambarkan sebagai orang yang sangat mencintai seni dan bekerja sebagai seorang pelukis sekaligus guru seni rupa di sebuah SMA. Ia juga menampilkan diri sebagai sosok yang cerdas (dengan pengetahuan luas) dan seringkali berperilaku usil nan jenaka.

Masalahnya, Adi sekaligus juga pribadi yang malas dan tak sudi untuk bekerja keras, dan cenderung memanfaatkan orang-orang di sekitarnya yaitu: Angel, Bastian, dan Bintang.

Ia dengan tricky memengaruhi, membujuk, bahkan memanipulasi mereka supaya mengikuti apa yang diinginkannya. Semula orang merasa senang dan terhibur dengan kejenakaan Adi, tapi seiring berjalannya waktu mereka pun menjadi kesal atas sikap dan perilakunya.

Bukankah sifat-sifat yang ditunjukkan Adi adalah cerminan perangai monyet seperti yang diuraikan di atas? Dan, sosok Adi diperankan dengan sangat amat baik oleh aktor Dwi Sasono, yang lagi-lagi entah kebetulan atau tidak, lahir dalam naungan shio monyet.

Sejatinya, monyet adalah makhluk yang sangat jenaka yang mendatangkan kegembiraan bagi kita di tengah pergulatan kehidupan sehari-hari yang sesak, melaju cepat, dan kadang tak bersahabat.

Monyet juga adalah hewan yang cerdik, yang membantu kita menemukan seribu ide dan siasat, tatkala kita merasa buntu berhadapan dengan kejumudan persoalan yang menumpuk.

Namun, kita pun diingatkan, agar tak memanfaatkan kecerdikan untuk memanipulasi orang-orang di sekitar kita, dan juga tak mengeksploitasi kejenakaan untuk mendapatkan applause di atas panggung sandiwara.

Sebab, hidup adalah nyata, bukannya panggung sandiwara. Dan, hidup juga menjadi bermakna, tatkala kita bisa bermanfaat bagi sesama. Bukan memanipulasi mereka.

Selamat tahun baru Imlek 2567, 8 Februari 2016