Kontan Online
  : WIB    --   
indikator  I  

Cuma saya yang bisa?

Cuma saya yang bisa?
Pengamat Manajemen dan Kepemimpinan

Ada satu istilah bahasa Belanda yang cukup populer di tengah masyarakat kita: minderwardeg, yang seringkali diringkas menjadi minder.

Secara antropologis, konon, karena sejarah kemerdekaan negeri ini yang banyak diisi cerita penjajahan (tiga setengah abad oleh Belanda dan tiga setengah tahun oleh Jepang), bangsa kita mesti menanggung sifat tak percaya diri, gampang kagum kepada bangsa lain, dan kurang menghargai kemampuan dan karya diri sendiri.

Inilah ciri-ciri sifat minder, yang secara ilmiah disebut sebagai inferiority complex.

Selain inferiority complex, ada juga yang mengidap superiority complex. Kebalikan dari mereka yang minder, penyandang superiority complex justru sangat yakin dengan kemampuan dirinya sendiri, merasa lebih hebat dari orang lain, bahkan tak bisa tertandingi atawa tersaingi oleh mereka.

Benak orang-orang seperti ini dipenuhi dengan pikiran-pikiran seperti: “Cuma saya yang bisa!”, “Hasil sayalah yang terbaik!”, atau “Karya orang lain tidak akan sehebat punya saya!”.

Sesungguhnya, tipologi di atas bukanlah sekadar sebuah gambaran teoretis. Kita bisa menemukan orang-orang seperti itu dalam keseharian kehidupan, termasuk dalam konteks pekerjaan. Atau, jangan-jangan tanpa disadari kita juga memiliki sindrom serupa?

Seorang teman memberikan kiat praktis untuk mengidentifikasi kelompok ini. Katanya, jika bekerjasama ataupun memimpin sebuah tim, penyandang superiority complex tak akan mudah berbagi atau mendelegasikan pekerjaan. Bukan karena tak tahu manfaat dan cara melakukan delegasi, namun semata-mata ada mental-block yang menyelimuti pikirannya.

Ada tiga mental-block yang lazim menjadi penghalang seseorang melakukan delegasi.

Pertama, mental-block “I don’t have time to delegate!”. Karena merasa dikejar oleh pekerjaan yang serba penting dan mendesak, ia seolah tak punya waktu untuk melakukan diskusi dan delegasi kepada orang lain.

Merasa begitu sibuknya, yang bersangkutan dengan spontan berpikir: “Boro-boro mengurusi orang lain, menangani diri sendiri saja sudah kewalahan.”

Lebih hebat

Kedua, mental-block “I will lose my control and credit points”. Melakukan delegasi alias pembagian tugas dan tanggungjawab pada dasarnya memberi kesempatan pada orang lain untuk belajar lewat pengalaman dan penugasan langsung.

Itu sama artinya memberi peluang ke mereka untuk bertumbuh lebih cerdas, terampil, dan kompeten.

Bukannya tak mungkin, melalui proses pembelajaran seperti itu, orang lain atau bawahan bisa menjadi lebih hebat dari sang pimpinan. Akhirnya, dia sanggup bekerja secara mandiri dengan kualitas dan reputasi yang baik. Dan, kemandirian bekerja serta reputasi yang cemerlang, secara potensial bisa menjadi ancaman psikologis bagi seorang pimpinan yang tidak siap.

Mengapa? Karena ia akan merasa tidak dibutuhkan dan diakui lagi. Ia akan merasa kehilangan otoritas terhadap orang lain, dan credit-points yang lahir dari kerja tim seolah-olah akan diberikan ke bawahan atau rekan kerjanya, bukan kepada dirinya lagi.

Yang terakhir atau ketiga, sekaligus juga mental-block yang lazim muncul dengan diam-diam di kepala seorang pimpinan, yakni mental block “I can do it better!”.

Mental-block ini seringkali muncul secara naluriah (dan tanpa disadari) oleh para penyandang superiority complex. Kendala mental ini membuatnya merasa jadi superman yang sangat self-centric.

Para penyandang superiority complex dengan kendala mental ini menganggap dirinya sebagai satu-satunya orang yang mampu melakukan tugas pekerjaan dengan sempurna.

Hanya dirinya yang tahu segala informasi dan pengetahuan, sekaligus cuma dirinya yang cakap melakukan tugas dan tanggungjawab pekerjaan. Tidak ada orang lain yang sanggup mengikuti, apalagi menandingi kemampuan miliknya.

Kendala mental seperti ini membuat seseorang begitu bangga dengan kemampuan dan prestasi yang dimilikinya. Sekaligus dia sensitif terhadap ketidakmampuan dan wanprestasi dari orang lain.

Dalam bahasa pergaulan, mental block ini membuat orang cenderung menjadi narsistik, sekaligus juga ge-er alias gede rasa.

Mengakhiri tulisan ini, saya ingin mengutip sebuah posting seorang sahabat di media sosial. Begini bunyinya, “Even you have made the difference in life, it doesn’t mean that the world will depend on you. No one is indispensable.”

Sekalipun kita sudah begitu hebat dan banyak berjasa dalam kehidupan, bukan berarti bahwa kehidupan di seluruh dunia akan bergantung kepada kita. Mengapa? Karena, dalam hidup memang tak ada orang yang tak tergantikan.

Alam semesta memiliki kearifannya sendiri.