: WIB    —   
indikator  I  

Persepsi keliru tentang investor

Persepsi keliru tentang investor
Pengamat Pasar Modal dan Pasar Uang

Kegagalan paradigma hipotesis pasar efisien (EMH) menjelaskan berbagai fenomena keuangan dan memicu perkembangan behavioral finance. Sedikitnya, ada enam perbedaan antara EMH dan behavioral finance (BF), seperti yang diutarakan Thaler (1994) dan Jegadeesh (1995).

Pertama, EMH mengasumsikan semua agen ekonomi akan memaksimalkan expected utility (kepuasan), sedang BF mengasumsikan individu akan meminimumkan expected regret (penyesalan). Ini persis seperti pengakuan Markowitz, pemenang Nobel ekonomi untuk teori portofolionya, yang menyatakan bahwa dia membagi portofolionya dalam saham dan obligasi sama besar, karena ingin meminimumkan future regret.

Kedua, EMH bersifat normatif dan berupaya memprediksi apa yang belum terjadi (ex ante). Sedang BF adalah teori positif yang berusaha menggambarkan apa yang sudah terjadi (ex post).

Ketiga, EMH menyatakan manusia bersifat risk averse, alias menghindari risiko. Sifat ini yang menyebabkan banyak orang di seluruh dunia membeli produk asuransi dan banyak kas surplus di Indonesia tidak menyukai investasi di pasar modal dan lebih memilih deposito yang relatif tidak berisiko.

Menurut BF, investor saham sebenarnya bukan risk averse tetapi loss averse. Ini sesuai dengan teori prospek Daniel Kahneman (1979), psikolog pertama dan peraih Nobel ekonomi tahun 2002. Menurut Kahneman, investor risk averse kalau sedang untung. Tapi kalau sedang rugi, investor cenderung menjadi seorang risk taker.

Merealisasikan keuntungan buat investor seperti merayakan kemenangan dan mendapat pengakuan atas kehebatannya dalam memilih saham. Sebaliknya, merealisasikan kerugian berarti mengakui kesalahan dan memalukan, jika hal ini diketahui orang lain.

Kahneman menyebut efek itu sebagai disposition effect. Bias ini, sell the winners too soon and hold the losers too long, dialami hampir seluruh investor saham individu di mana pun (Shefrin dan Statman, 1985).

Keempat, EMH mengasumsikan manusia dapat melakukan prediksi yang tidak bias, yang sesuai dengan teori Bayes (conditional probability). BF mengasumsikan sebaliknya, prediksi manusia itu seringnya bias (keliru) karena tidak memahami konsep probabilitas bersyarat dari Bayes. Berikut ilustrasinya.

Misalkan, ada 100 tas yang masing-masing berisi 100 koin. Dari 100 tas itu, 45 tas masing-masing berisi 70 koin hitam dan 30 koin merah. Sementara 55 tas lainnya berisi sebaliknya yaitu 30 koin hitam dan 70 koin merah. Jika suatu tas diambil secara acak, berapa peluang tas itu berisi lebih banyak koin hitam? Jawabannya 45%.

Sekarang, misalkan sebuah tas diambil secara acak. Dari tas itu, terambil 12 koin dengan pengembalian. Dari 12 koin yang terambil, 8 berwarna hitam dan 4 berwarna merah. Dengan informasi di atas, berapa peluang tas yang terambil adalah tas yang berisi lebih banyak koin hitam?

Ketika Shefrin (2002) melakukan eksperimen ini, dua jawaban yang paling banyak dia peroleh adalah 45% dan 67% yaitu sekitar 55% responden. Angka 45% berasal dari proporsi awal dan 67% sangat mungkin dari 8/12. Jawaban sisanya menyebar dan tertinggi adalah jawaban 75%. Tidak ada yang benar, karena jawaban yang seharusnya adalah 96,04%.

Ini menunjukkan bahwa prediksi manusia jauh dari akurat karena tidak mampu memproses informasi terakhir dengan benar atau tidak berdasarkan teorema Bayes, sesuai yang dikatakan BF.

Kelima, EMH memandang manusia selalu mengambil keputusan berdasar rational expectation. Sedang BF menyatakan, pengambilan keputusan sering berdasarkan atas ekspektasi yang naif atau normal. Jika EMH mengatakan investor akan mencari return yang optimal, BF mengesampingkan kemungkinan itu, karena investor berusaha untuk mendapatkan return yang memuaskan. Ini sebab mengapa banyak orang Indonesia puas dengan bunga deposito yang relatif rendah.

Terakhir, EMH mengasumsikan manusia adalah makhluk ekonomi yang rasional (homo economicus) dengan profit sebagai motif utama. Sementara BF melihat banyak aspek yang juga mendasari keputusan seseorang, seperti rasa bangga, bersalah, malu, takut, atau empati.

Contohnya, banyak orang melakukan donasi tanpa menyebutkan namanya. Ada juga yang bersusah payah menyelamatkan orang lain dari bangunan yang terbakar atau yang bersedia melakukan apa saja untuk menyaksikan keadilan ditegakkan. Asumsi EMH tidak dapat menjelaskan fenomena ini.

Kini, setelah memahami behavioral finance, Anda masuk kelompok mana? Tetap setia ke EMH, beralih ke BF, atau belum menentukan sikap? Untuk Anda ketahui, ahli keuangan, terutama akademisi, saat ini terbagi dalam dua kubu di atas.


Close [X]