: WIB    —   
indikator  I  

Leagile Operations dalam bisnis

Leagile Operations dalam bisnis
Center for Asian Supply Chain Competitiveness Prasetiya Mulya Business School

Setelah Eropa, kecemasan global beralih ke China. Begitulah judul artikel KONTAN Online pada tanggal 11 September 2012. Pada artikel tersebut patut dicermati tentang melambatnya pertumbuhan ekspor China sebagai akibat penurunan permintaan ekspor dari Amerika Serikat (AS) dan Eropa yang mengalami krisis ekonomi berkepanjangan. Disebutkan juga bahwa Pemerintah China berupaya keras mendongkrak permintaan domestik untuk mempertahankan pertumbuhan ekonomi yang tinggi.

Anand P. Raman, dalam artikelnya di Harvard Business Review edisi Juli 2009, sudah memprediksi fenomena ini. Atau lebih tepatnya, dia menyebut tiga fenomena baru bisnis pasca krisis Eropa–Amerika. Pertama, negara-negara berkembang akan menjadi pasar yang lebih besar dan penting di dunia. Kedua, pemerintah negara berkembang akan memusatkan pertumbuhan ekonomi melalui kebijakan fiskal dan moneter berfokus pada meningkatkan demand dan supply pasar domestiknya. Ketiga, persaingan bisnis lokal akan semakin meningkat karena perusahaan akan lebih berkonsentrasi pada pasar domestik sebagai akibat penurunan permintaan ekspor. Secara simultan, ketiga fenomena meningkatkan ketidakpastian bisnis.

Selain itu, pada sisi customer, terjadi mutasi perilaku yang juga menimbulkan ketidakpastian bisnis. Maraknya penggunaan media sosial membuat peran aktivitas pemasaran tradisional yang dilakukan perusahaan melemah digantikan oleh diskusi dan trending di media sosial yang mempengaruhi keputusan pembelian oleh konsumen (customer). Sekalipun analoginya kurang sesuai, namun pengalaman Pemilukada DKI yang baru berlalu menunjukkan bahwa kekuatan media sosial dalam mempengaruhi pemilih mampu menandingi mesin politik tradisional dan suara tokoh partai politik.

Tidaklah berlebihan jika ke depan, peranan perusahaan akan semakin menurun dalam mempengaruhi konsumen. Keyakinan konsumen cenderung semakin meningkat dalam bentuk kemampuan mendapatkan informasi secara mandiri melalui media sosial keluarga dan pertemanan. Semuanya itu cukup membantu konsumen dalam proses pemilihan produk atau jasa secara cerdas.

Kondisi ekonomi yang sulit diprediksi itu dan konsumen yang semakin mandiri dalam mengambil keputusan adalah tantangan bisnis yang perlu segera disikapi secara strategik. Dari sudut pandang strategi operasi, salah satu alternatif solusi adalah meningkatkan daya saing perusahaan di tengah ketatnya kompetisi bisnis melalui keunggulan operasi berbiaya rendah (leanness). Kemudian untuk bisa memenangkan konsumen yang semakin cerdas, perusahaan harus mempunyai kemampuan operasi yang cepat tanggap dalam memenuhi keinginan konsumen yang bisa berubah tidak sesuai dengan prediksi (agility).

Transformasi perusahaan

Namun, apakah mungkin perusahaan bisa memiliki kedua kemampuan itu sekaligus? Mereka harus bisa melakukan operasi bisnis yang berbiaya rendah sekaligus lincah mengikuti keinginan konsumen. Kedua kemampuan itu dikenal dengan leagile operations.

Yang menjadi kunci utama adalah bagaimana mentransformasikan perusahaan sehingga mampu menyesuaikan strategi dan operasional bisnis secara fleksibel dalam merespons perubahan perilaku pasar, dan melakukannya berulang-ulang tanpa menimbulkan chaos dalam bisnis dan biaya operasional tetap terjaga.

Transformasi yang diperlukan adalah sebagai berikut. Pertama, membangun bisnis yang berorientasi konsumen. Perusahaan mampu memonitor produk, sejak proses produksi hingga produk tersebut dibeli oleh konsumen. Kedua, kemampuan menjaring informasi yang terorganisir baik berupa real data customer (misalnya data penjualan) dan anecdotal data (misalnya informasi dari media sosial) secara cepat. Integrasi informasi pada rantai suplai diperlukan di sini untuk mengantisipasi permintaan. Ketiga adalah sinkronisasi rantai suplai (pull system) mulai dari pengadaan bahan baku, produksi, hingga sistem distribusi.

Salah satu teknik manajemen operasi baru yang mendukung leagile operations namun belum banyak diaplikasikan adalah late configuration production system. Teknik ini adalah pengembangan lebih lanjut dari teknik postponement, yakni variasi produk dilakukan pada tahap final assembly. Pada late configuration, variasi produk dilakukan setelah final assembly. Misalnya pada perusahaan produsen mobile phone, distributor di negara pasar tujuan berperan sebagai accessorization centers yang melakukan kustomisasi produk dan isi boks kemasan handphone sebelum dijual ke konsumen.

Sayangnya, kebanyakan perusahaan baru terdorong untuk berubah jika sudah terjadi penurunan kinerja finansial. Johnson et. al., dalam artikelnya di Sloan Management Review (Spring 2012), berpendapat bahwa perusahaan haruslah terus melakukan perubahan strategis sambil terus mempertahankan kinerja perusahaan. Perusahaan kelas dunia umumnya mempertahankan kinerja yang tinggi dengan terus menciptakan kapabilitas bisnis yang baru.

Demikian juga, para pimpinan perusahaan memegang peranan penting dalam menciptakan kemampuan baru tersebut. Para eksekutif senior, misalnya, dapat berkolaborasi pada penguatan kapabilitas perusahaan yang sudah ada, sementara kelompok eksekutif yang lebih muda tapi memegang jabatan senior bertugas secara aktif mencari cara-cara mengembangkan strategi dan kapabilitas perusahaan yang baru.

Mungkin saja ada kendala pada kompetensi para eksekutif tersebut. Namun, krisis ekonomi global telah menyebabkan beberapa biaya, termasuk talent costs, cenderung menurun. Ini berarti bahwa saat ini adalah waktu yang tepat bagi perusahaan berinvestasi talent di dalam mengembangkan kapabilitas bisnisnya, termasuk mengembangkan kemampuan leagile operations ini.


Close [X]