: WIB    —   
indikator  I  

Analogi blind dog dalam bisnis

Analogi blind dog dalam bisnis
Founder of Lightora UMN Incubator

Kali ini penulis ingin berbagi satu cerita fiktif yang topiknya mengenai pentingnya kreativitas dan eksplorasi alternatif. Ini bisa dijadikan analogi dalam menjelaskan berbagai sikap pengambilan keputusan bisnis penting dan implikasinya.

Kisahnya mengenai percobaan terhadap dua anjing dalam mencari dan mengambil makanan melalui labirin bertembok kayu. Tujuan percobaan ini untuk mempelajari perilaku dan kecepatan tindakan untuk mencapai objektif tersebut.

Ada dua hal yang menarik. Pertama, salah satu anjing yang dilibatkan itu menderita cacat fisik sejak lahir – matanya buta. Sedangkan anjing lainnya normal dan sangat prima secara fisik.

Kedua, makanan yang dicari tidak ditempatkan di dalam labirin melainkan di luar salah satu sisi tembok labirin. Hanya saja untuk bagian tembok ini, bahan kayu digantikan kawat pagar. Jadi makanan tersebut dapat dilihat tapi tidak dapat diraih langsung.

Untuk meraih makanan ini, jalan satu-satunya adalah keluar terlebih dahulu dari labirin. Ketika percobaan akhirnya dilakukan, ternyata anjing buta yang menang.

Ternyata pada saat mencapai sisi labirin yang benar, anjing normal – dengan penciuman dan penglihatannya yang tajam – ‘ngotot’ menerobos kawat. Sedangkan anjing yang buta, memutuskan untuk tetap menelusuri jalan keluar labirin sebelum akhirnya dapat meraih makanan tersebut.

Ledakan Data dan Simulasi Bisnis

Apa kesimpulannya? Pertama, ketika ada satu jalan yang lebih singkat dan sangat jelas untuk mencapai tujuan – apalagi rintangannya ‘terlihat’ kecil – maka fokus dan tenaga akan dikerahkan ke arah tersebut dan melupakan jalan lain yang belum tentu berhasil. ‘Kebutaan’ terhadap alternatif terjadi pada anjing normal dan dalam kasus ini akhirnya merugikan dirinya sendiri.

‘Ilusi’ ini ternyata tidak berlaku untuk anjing buta yang tetap menempuh jalan lain ketika menerobos pagar tetap bukanlah opsi yang lebih baik.

Jika dianalogikan ke proses pengambilan keputusan bisnis, cerita di atas sangat relevan. Ada dua hal yang terjadi di sini, kita menolak eksplorasi alternatif lagi atau secara praktis tidak mungkin manusia melakukan assessment terhadap seluruh alternatif – yang terpikirkan maupun yang tidak. Jadi ada trade off antara kelengkapan skenario bisnis dan kecepatan bertindak.

Pengambilan keputusan selalu dilandasi oleh informasi, dan informasi merupakan hasil olahan dari data. Semakin banyak data, semakin banyak kombinasi data yang dihasilkan. Terbatas oleh kemampuan manusia, teknologi di sini dapat membantu manusia untuk melakukan analisa terhadap kombinasi tersebut menggunakan simulasi what-if skenario.

Penggunaan teknologi ini tentunya disertai dengan berbagai catatan dan persyaratan. Tiap organisasi harus memiliki tim tenaga ahli statistik dan computer science. Dengan komposisi tim seperti ini, perusahaan mampu membuat model matematis dan simulasi dari problem bisnis. Model ini kemudian dapat diolah dengan komputer dan dijalankan dengan performa tinggi.

Kedua, walaupun dimodelkan secara efisien banyak simulasi yang memerlukan infrastruktur komputer dengan kinerja tinggi. Beruntung, sekarang banyak solusi Infrastructure as a Service (IaaS) dari provider cloud yang bisa digunakan sehingga perusahaan tidak perlu capital expense besar untuk hardware dan lisensi.

Dengan perkembangan teknologi Big Data dan Artificial Intelligence, kesuksesan penerapan simulasi bisnis semakin tinggi. Yang paling berperan, kultur organisasi yang terbuka, kejelian dan kreativitas pemodelan.


Close [X]