Kontan Online
  : WIB    --   
indikator  I  

Kembalinya pemodal ritel

Kembalinya pemodal ritel
Kepala Riset Universal Broker Indonesia

Pak Bijak -bukan nama sebenarnya- adalah "investor" di pasar modal Indonesia. Kata investor tadi saya gunakan dengan tanda kutip, karena hanya mereka sendiri yang merasa dan menyebut dirinya investor.

Pemodal atau trader lebih tepatnya, seperti Pak Bijak dan teman-temannya, berusaha mencari keuntungan pendek dan cepat (trading), memanfaatkan celah pergerakan harga.

Pak Bijak bukan pemodal yang shophisticated. Pak Bijak bukan seperti Lo Kheng Hong, yang memiliki pengetahuan analisis fundamental mumpuni.

Pak Bijak juga bukanlah Benny Tjokro, Harry Tanoe, Keluarga Riyadi atau lainnya, yang memiliki kemampuan level paripurna dalam menggerakkan harga saham di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Meski bukan pemodal sophisticated, Pak Bijak bukanlah pemula, bukan juga orang muda. Usianya lebih dari 70 tahun. Pengalaman di pasar modal puluhan tahun. Pak Bijak berusaha melawan pikun, dengan menjadi trader saham, mencari nafkah di BEI.

Setiap hari rutinitas Pak Bijak standar. Pagi ke galeri salah satu sekuritas, pasang order beli dan jual, kemudian menunggu. Kalau ada order beli atau jual yang mengalami transaksi (done), mereka cepat memasang order lagi.

Jika perdagangan sepi atau lamban, mereka harus menunggu hingga terkadang tidur di galeri saham. Sore hari, Pak Bijak melakukan rekap transaksi, kemudian pulang.

Jika hari baik, Pak Bijak jalan-jalan, makan siang di tempat mewah: Four Season, Pacific Place, Hotel Sultan, Grand Hyatt. Pak Bijak bisa makan siang di tempat itu, karena pemegang saham. Makan di tempat mahal kalau emiten mengundang public expose atau rapat umum pemegang saham.

Banyak orang lain menjalani hidup seperti Pak Bijak. Dari pengamatan saya, terdapat sebuah grup, 10 orang – 15 orang yang hampir selalu terlihat di even pasar modal. Umur sama, pengalaman sama, selisih jam terbang tidak seberapa. Mereka berusaha hidup dari pasar modal.

Karena tidak sophisticated, Pak Bijak mencari nafkah di pasar modal dengan cara unik: beli di harga bid, jual di offer. Scalping trading istilahnya.

Terjemahan scalp adalah kulit kepala. Ketombe itu kecil, seperti debu. Sesuai namanya, scalping trading adalah strategi memperoleh profit di pasar modal, dengan melakukan pergerakan harga seminim mungkin. Yang penting untung.

Setelah posisi beli, scalping trader segera memasang posisi jual dengan selisih 1 atau 2 poin. Kalau bisa 1 poin biar risiko tidak tinggi. Mereka hanya mencari keuntungan dari selisih bid dan offer.

Saya merasa, scalping trading buang waktu, tenaga, pikiran, sumber daya dan lain-lain. Di mana kepuasannya? Perusahaan sekuritas happy. Kadang, saya kasihan dengan scalpers, kebanyakan tidak disiplin cut loss. Portofolio lebar, saham sangat banyak, dengan posisi potential loss tidak sedikit.

Kebanyakan, orang-orang seperti Pak Bijak ini, memiliki potential loss sekitar 20%-30% dari ekuitas. Sementara perusahaan sekuritas diuntungkan, pasar modal juga.

Pak Bijak adalah pemodal kebanyakan (average investor) yang banyak menghuni galeri-galeri sekuritas. Selain menghabiskan jatah makanan kecil dan kopi di galeri, mereka menjadi teman bagi analis seperti saya, yang memang ada untuk menghidupkan pemodal ritel.

Kisah sukses mereka, kemudian membawa pemodal ritel lain bertransaksi di BEI. Mereka seperti cendawan: kalau market bullish, tumbuh berkembang, meramaikan galeri sekuritas. Sementara kalau market bearish, mereka menghilang entah kemana.

Mereka berkembang, seiring fraksi harga yang ramah atau mendukung strategi trading. Untung 1 poin langsung kabur. Mereka sering trading, pada saham memberikan keuntungan ketika harga bergerak 1 poin. Mereka cenderung menghindari perdagangan di saham yang enggak bisa untung ketika harga bergerak 1 poin.

Masalahnya, fraksi harga berubah seiring waktu. Sebelum 2014 adalah masa kebahagiaan scalper traders. Ketika itu, BEI memiliki 5 fraksi (lihat tabel). Fraksi Rp 1 untuk harga kurang dari Rp 200, fraksi Rp 5 untuk saham Rp 200-Rp 500, fraksi harga Rp 10 untuk Rp 500-Rp 2.000, fraksi harga Rp 25 untuk Rp 2000–Rp 5.000, dan fraksi harga Rp 50 untuk harga saham di atas Rp 5.000.

Fraksi ini paling memanjakan scalper trading. Pada simulasi kami, menggunakan fee beli 0,15% dan fee jual 0,25%. Scalper trader, bisa memperoleh keuntungan hingga harga Rp 12.500. Dengan kondisi seperti ini, scalper trader bisa melakukan scalping blue chip papan atas.

Masalah timbul di 2014, BEI menerapkan fraksi tiga harga. Scalper trader hanya bisa untung ketika melakukan scalping pada saham di Rp 50 – Rp 250, Rp 500 – Rp 1.250, dan Rp. 5000 – Rp 6.250.

Kesempatan mencari untung lompat-lompat. Di masa ini, scalper trader sangat menderita. Banyak yang memilih berhenti trading.

Pekan kemarin rumor mulai kencang. BEI memberlakukan fraksi harga baru. Dari simulasi yang kami lakukan hasilnya adalah sebagai berikut:
Scalping memiliki return positif pada saham di Rp 50 – Rp 1.250. Scalping trader bisa fokus di saham di bawah Rp 1.250.
Scalping juga memilki return positif untuk saham yang di harga Rp 2.000 – Rp 2.500, dan Rp 5.000 – Rp 6.250.

Apakah fraksi harga baru ini membuat scalper trader kembali?

Saya lebih suka kembali ke fraksi tahun 2007. Scalper trader bisa melakukan transaksi saham dengan kisaran harga jauh lebih luas.Tapi, fraksi baru ini jauh lebih baik daripada fraksi harga 2014. Kita tinggu, apakah fraksi harga baru ini bisa mengembalikan transaksi bursa ke level kejayaan dan scalper trader kembali BEI.

Happy trading, semoga barokah.