: WIB    —   
indikator  I  

Pantaskah kita menyesal?

Pantaskah kita menyesal?
Pengamat Manajemen dan Kepemimpinan

Seorang teman menyesal bukan kepalang. Pasalnya, beberapa waktu yang lalu ia membeli produk reksadana saham, yang dianggap cukup prospektif dan risikonya relatif terukur. Dia merasa sudah melakukan kalkulasi dengan cermat, dan cukup yakin bahwa satu tahun ke depan akan mendapatkan gain lumayan.

Alih-alih meraih keuntungan, nilai aktiva bersih produk yang dibelinya justru merosot perlahan dan cukup dalam. Ia tampak begitu menyesal dengan pilihan investasi yang dilakukannya, yang sementara ini berujung pada kerugian.

Beginilah dunia investasi di pasar modal. Sekalipun kita sudah melakukan kalkulasi matematis secara cermat, seringkali angka-angka di papan pasar modal justru bergerak mengikuti dinamika sosio-psikologis yang berkembang.

Tak mengherankan, hanya karena rumor yang belum bisa dipertanggungjawabkan, nilai pasar sebuah perusahaan dengan fondasi dan operasi yang kokoh bisa ikut terguncang.

Sama halnya juga karena dugaan tentang kebijakan politik ekonomi yang tak menentu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di bursa juga bisa terseret turun.

Kepada sang teman, saya hanya bisa menghibur dengan mengatakan, Even the best investor has a bad day. Lihat saja, sang jagoan pencetak kekayaan Warren Buffett juga pernah salah beli portofolio investasinya. Walau, dalam hati saya menyimpan tanya: Pantaskah sang teman menyesal?

Tentang penyesalan, saya juga teringat dengan gambar kartun yang seringkali dijadikan display-picture akun media sosial. Gambar itu menunjukkan seseorang yang dengan palu panjangnya sedang menggali perut bumi untuk mendapatkan emas.

Namun, setelah sekian lama menggali, ia pun berhenti dan balik badan meninggalkan lahan yang sedang ditambangi. Padahal, tak jauh setelah itu bongkahan emas tengah menunggu kedatangannya. Saya menduga, ilustrasi ini diilhami kisah seorang paman di Amerika Serikat (AS) pada abad ke-19, saat negeri itu sedang dilanda demam emas.

Suatu hari, sang paman datang ke Negara Bagian Colorado untuk mengadu nasib. Dinaungi peruntungan yang baik, dalam beberapa hari pertama saja ia sudah menemukan bijih emas dalam jumlah besar.

Lokasi tambangnya kemudian digadang-gadang sebagai salah satu lahan yang paling prospektif. Optimisme ini tentu saja menimbulkan semangat yang menyala-nyala, sehingga sang paman kemudian ingin membeli dan mendatangkan mesin pengeboran yang baru.

Untuk keperluan pembelian alat-alat pengeboran tersebut, sang paman pun berkongsi dengan keponakannya yang bernama R.U. Darby. Karena tak punya modal, mereka bahkan berutang kanan-kiri kepada para tetangganya.

Pembelajaran

Apa mau dikata, setelah beberapa pekan melakukan pengeboran, jalur emas yang semula begitu menjanjikan ternyata tak menunjukkan wujudnya. Dengan penyesalan mendalam, mereka pun akhirnya memutuskan untuk menghentikan pengeboran. Seketika itu juga, mereka meninggalkan lahan pengeboran dan menjual semua peralatan kepada seorang pedagang besi tua.

Berbeda dengan penjual besi tua pada umumnya, pedagang yang satu ini cukup cerdas dan cermat untuk urusan bisnis. Ia mengundang seorang insinyur pertambangan untuk meninjau lahan pertambangan itu, dan memintanya untuk melakukan perhitungan ilmiah.

Di luar dugaan, hasil kalkulasi sang insinyur menunjukkan, hanya sekitar satu meter di bawah titik pengeboran berhenti, bijih emas dalam jumlah besar dan kandungan yang kaya sedang menunggu untuk dikeruk!

Karena Darby dan sang paman tak memiliki pengetahuan lengkap tentang dunia pertambangan, juga tidak mengundang insinyur ahli untuk membantunya, mereka tampak begitu sial menghadapi kenyataan yang ada.

Tapi, Darby tidak berhenti pada kesialan yang dialaminya. Pengalaman kegagalan tersebut diubahnya menjadi pembelajaran yang mahal, dan kelak membuatnya berhasil membangun bisnis asuransi jiwa dengan nilai jutaan dolar AS.

Tentang kegagalannya itu, Darby suka berujar, Saya memang berhenti satu meter dari tumpukan emas, tapi saya tak akan pernah berhenti hanya karena seseorang awalnya berkata tidak saat saya menawarkan polis asuransi.

Kembali kepada pertanyaan awal di atas, sesudah menghadapi kegagalan, pantaskah kita menyesal? Sesungguhnya, dalam kehidupan keseharian (termasuk urusan pekerjaan dan bisnis), ada hal yang kita bisa kendalikan, ada pula perkara yang tak dapat dikendalikan.

Kita tak bisa mengendalikan langsung hasil uji laboratorium kesehatan, semisal angka-angka kolesterol, gula darah, dan asam urat, sekalipun itu adalah indikator derajat kesehatan kita.

Tapi, kita sepenuhnya bisa mengendalikan cara kita menjalani hidup yang sehat, seperti memilih jenis makanan yang dikonsumsi, mengatur waktu untuk berolahraga, dan juga beristirahat yang cukup.

Di dalam ilmu manajemen, indikator-indikator yang tak bisa dikendalikan secara langsung disebut juga indikator hasil atawa lagging-indicator. Sementara indikator-indikator yang bisa dikendalikan secara langsung disebut pula indikator proses atau leading-indicator.

Tugas tanggungjawab kita sebagai manusia adalah memastikan bahwa indikator proses betul-betul kita lakukan dengan sebaik-baiknya. Bila proses sudah kita jalani dengan sebaik-baiknya tapi hasilnya belum sesuai dengan yang diharapkan, sesungguhnya tak ada alasan buat kita untuk menyesal.

Mengapa? Karena, memang ada sebagian indikator hasil yang berjalan di luar kendali kita. Lebih jauh lagi, kisah Darby di atas mengingatkan kita untuk menjadikan penyesalan menjadi pembelajaran. Nah, ini yang lebih penting.


Close [X]