: WIB    —   
indikator  I  

Dahsyatnya strategi fokus

Dahsyatnya strategi fokus
Pengamat pasar modal dan pasar uang

Ada dua pertanyaan yang saya terima menanggapi artikel saya “Jadi kaya dengan market timing” di kolom ini empat bulan lalu (KONTAN, 10 Januari 2011). Bagaimana mungkin kita dapat melakukan diversifikasi jika hanya memiliki modal Rp 10 juta saja? Dan mengapa biaya transaksi keluar-masuk bursa saham yang terjadi beberapa kali dalam setahun tidak diperhitungkan?

Jawaban saya, diversifikasi bisa dilakukan dengan mudah oleh siapa saja. Mereka yang hanya memiliki dana Rp 10 juta, bisa melakukan diversifikasi dengan membeli reksadana saham.

Untuk pertanyaan kedua, saya tidak memasukkan biaya transaksi yang sekitar 0,6% untuk beli-jual saham karena dividend yield yang rata-rata sebesar 3% - 4% per tahun juga tidak saya hitung dalam hasil investasi. Perolehan dividen itu jelas lebih besar daripada biaya transaksi jual-beli saham.

Selama 8 tahun observasi saya, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun selama 31 bulan dan naik dalam 65 bulan. Dengan kemampuan market timing yang sempurna, seseorang cukup keluar dari bursa saham, untuk masuk kembali tentunya, sebanyak 20 kali atau rata-rata 2,5 kali per tahun. Artinya, biaya transaksi tahunan hanya 1,5% (2,5 x 0,6%) saja.

Pada tahun 2010 contohnya, investor perlu tiga kali keluar dari pasar saham. Masing-masing di awal bulan Februari, Mei, dan November. Dan masuk kembali di awal bulan berikutnya. Kebetulan, hanya dalam tiga bulan itu IHSG turun, jika dihitung dari awal bulan hingga akhir bulan.

Sementara selama tahun 2009 IHSG juga turun dalam 3 bulan, yaitu bulan Januari, Februari, dan Oktober. Tetapi investor dengan kemampuan mengantisipasi pasar yang sempurna cukup keluar sebanyak dua kali saja yaitu di awal Januari 2009 untuk masuk kembali di awal Maret 2009 dan di awal Oktober 2009 untuk balik lagi ke saham di awal November 2009.

Yang lebih mencengangkan sekaligus lebih tidak mungkin lagi adalah strategi fokus sempurna. Strategi market timing belum ada apa-apanya dibandingkan dengan strategi fokus sempurna. Investor saham individual sejatinya punya pilihan untuk melakukan diversifikasi atau fokus.

Strategi terakhir yang dianjurkan Robert Kiyosaki dan William J. Oneil dalam buku-bukunya, berlawanan dengan strategi diversifikasi yang direkomendasikan semua buku teks investasi. Dalam strategi keempat ini, investor diasumsikan hanya memilih satu saham di setiap awal tahun. Saham semata wayang itu harus dipegang hingga awal tahun berikutnya, untuk diganti dengan satu saham lain.

Asumsikan saja Anda memiliki kemampuan paranormal sehingga satu saham yang dipilih selalu menjadi top gainer, alias memberikan return terbesar di tahun itu. Terakhir, asumsikan juga kapitalisasi pasar saham top gainer itu cukup besar untuk menampung seluruh dana portofolio Anda. Menjadi berapakah uang  Rp 1 juta di awal 2003 dalam masing-masing strategi yaitu deposito, buy and hold dalam saham, market timing antara saham dan deposito, dan fokus dalam satu saham pada akhir 2010?

Dengan strategi pertama, uang Rp 1 juta di awal Januari 2003 menjadi Rp 1,76 juta di akhir 2010. Nilai portofolio menjadi lebih tinggi yaitu Rp 8,71 juta pada strategi kedua dan menjadi Rp 57,43 juta dengan market timing sempurna (strategi ketiga). Sekarang coba Anda tebak nilai akhir portfolio dalam strategi keempat? Jangan kaget jika saya katakan, uang Rp 1 juta itu menjadi Rp 180,7 triliun delapan tahun kemudian. (lihat tabel).

Berapa probabilitas seseorang memperoleh hasil di atas? Satu per jutaan triliun. Dengan kata lain, tidak ada investor yang mampu melakukannya. Strategi fokus sempurna di atas hanya mitos karena dua dari tiga asumsinya tidak realistis.

Kapitalisasi pasar ITTG, SAIP, dan LAPD ternyata di bawah Rp 1 triliun. Sedang DAVO, PBRX, dan TRAM hanya beberapa triliun rupiah. Yang lebih masuk akal adalah memilih saham yang dapat memberikan return di atas kenaikan IHSG, dan bukan mencari top gainer apalagi yang nomor satu dan berturut-turut selama delapan tahun.

Saham Top Ganiners di BEI 2003-2010

Tahun Saham Kenaikan Harga (%) Nilai Akhir Portofolio
2003 BUMI 2400% Rp 25 juta
2004 LPKR 957% Rp 264,25 juta
2005 SAIP 515% Rp 1,63 miliar
2006 DAVO 638% Rp 11,99 miliar
2007 ITTG 3940% Rp 484,5 miliar
2008 LAPD 197% Rp 1,44 triliun
2009 TRAM 960% Rp 15, 25 triliun
2010 PBRX 1085% Rp 180,7 triliun

 


Close [X]