Kontan Online
  : WIB    --   
indikator  I  

Smiling investor, healthy capital market

Smiling investor, healthy capital market
Center for Finance & Investment Research Prasetiya Mulya Business School

Apa kaitannya komik atau kartun dengan perkembangan pasar modal Indonesia? Well, kita bisa mulai dengan pertanyaan berapa jumlah investor saham di Indonesia? Menurut data Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), jumlah sub account yang terdaftar per Agustus 2012 sebanyak 337.881 nasabah. Jumlahnya teramat kecil dibandingkan jumlah rakyat Indonesia yang hampir 250 juta.

Apakah mungkin ini akibat jumlah rakyat Indonesia yang mampu berinvestasi saham terlalu sedikit? Tapi, ternyata jumlah itu masih tak seberapa saat dibandingkan jumlah rakyat kelas menengah Indonesia, sekitar 45 juta orang. Makin malu jika dibandingkan negara jiran Malaysia yang penduduknya hanya 28 juta tapi punya investor lokal hingga 10 juta. Waduh, rupanya tak hanya di lapangan sepak bola kita kalah dari Malaysia.

Jumlah investor reksadana di Indonesia? Segendang sepenarian. Merujuk data Asosiasi Pengelola Reksa Dana Indonesia, total investor reksadana baru 161.000. Total dana kelolaan reksadana baru 3% dari produk domestik bruto, yakni Rp 175 triliun. Tak sebanding dengan total simpanan perbankan Indonesia yang Rp 3.000 triliun per Agustus 2012.

Ada dugaan masyarakat kita masih memandang saham sebagai investasi mengerikan, berisiko amat tinggi. Maklum, harga saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) amat fluktuatif. Mereka belum lupa dengan nasib investor saham di BEI pada 1998, ketika sebagian saham tak ada nilainya lagi, atau nasib investor saham pada 2008 saat Indonesia terimbas krisis keuangan global.

Tingginya fluktuasi harga saham maupun market crash tak lepas dari fakta investor asing masih mendominasi kepemilikan saham di BEI. Menurut data KSEI, total aset saham investor asing per Agustus 2012 senilai Rp 1.370 triliun atau 55%. Dana asing ini mudah mengalir masuk dan keluar dari BEI. Perilaku investor domestik yang membebek asing bikin kondisi makin runyam. Pasar modal yang sehat seharusnya ditopang investor domestik yang berpengetahuan.

Sebagai akademisi dan investor saham, penulis berupaya mengedukasi masyarakat untuk berinvestasi saham secara bijak, diawali dengan tulisan-tulisan di kolom ini sejak 2009. Penulis juga yakin kebiasaan dan pengetahuan berinvestasi akan lebih efektif jika dimulai sejak usia dini dan dengan cara yang kreatif. Maka, tahun lalu, berkolaborasi dengan Thomdean, seorang kartunis andal, penulis menerbitkan buku kartun investasi pertama ala Indonesia, "Who Wants to be a Smiling Investor".

Mengapa memilih media kartun atau komik? Penulis adalah penggemar komik yang saat kecil melalap segala macam komik. Maka, penulis tak pernah meremehkan kedahsyatan kekuatan komunikasi dan radiasi daya tarik komik. Menyusul "Smiling Investor", kami menciptakan "Duitto & Co" komik strip pertama di Indonesia yang mengusung tema investasi. Sudah hampir dua tahun Duitto dan rekan-rekannya berpetualang di KONTAN setiap Senin. Tugasnya memberi pembelajaran sekaligus menghibur. Seperti kata budayawan Garin Nugroho dalam resensinya untuk "Smiling Investor" di Harian KOMPAS, ketawa itu tak sekadar sehat, ketawa itu kaya!

Beberapa waktu lalu, buku Just Duitto diluncurkan di arena Indonesia Financial Expo and Forum (IFEF) 2012 yang dihelat KONTAN. Kedua buku ini adalah alat untuk mengedukasi masyarakat tentang cara berinvestasi yang benar, khususnya di saham. Investasi yang benar adalah investasi yang membuat orang makin sejahtera dan bijaksana, bukan sebaliknya menjadi stres dan bangkrut. Lihatlah Warren Buffett yang kaya raya dan dermawan.

Gara-gara kedua buku tersebut, anak penulis yang baru berusia 12 tahun mulai terekspos dengan saham. Dari mulai tertarik oleh gambar yang lucu, ia mulai familiar dengan saham. Ia tahu keuntungan membeli saham bisa lebih besar daripada menabung dan, yang lebih penting, ia bisa punya pabrik mobil. Suatu hari ia minta kepada ibunya untuk memindahkan uang tabungannya ke saham.

Bayangkan jika buku semacam ini tersedia di setiap perpustakaan sekolah dari SD hingga SMA di seluruh Indonesia. Sekian persen dari generasi muda ini akhirnya akan menjadi investor saham. Dalam waktu 5-15 tahun, BEI akan menuai hasilnya.

Slogan populer tapi kurang tepat, "menabung pangkal kaya", bakal terkoreksi menjadi "berinvestasi saham jangka panjang pangkal kaya". Kebetulan saat peluncuran buku Just Duitto, hadir Lo Kheng Hong yang sering dijuluki "Warren Buffet Indonesia". Maka, saya punya contoh valid bahwa berinvestasi saham di Indonesia secara jangka panjang bisa membuat kita amat sejahtera. 

Saya langsung ajak beliau naik ke panggung dan dengan senang hati beliau memberikan kiat dan  tips menjadi investor saham yang sukses. Surprise, surprise, Lo Kheng Hong ternyata sudah membaca dan menyukai "Smiling Investor". So, we are on the right track. Semoga pasar modal Indonesia cepat naik kelas.