Kontan Online
  : WIB    --   
indikator  I  

Menjadi perusahaan kelas dunia

Menjadi perusahaan kelas dunia
Senior Faculty Member Prasetiya Mulya Business School

Pada saat ini, dunia sedang mengalami perubahan yang dahsyat dan serempak di berbagai bidang. Perubahan besar terjadi di bidang komunikasi, informasi, dan perdagangan bebas. Perubahan-perubahan ini tentu saja juga dihadapi oleh dunia bisnis. Sebagai dampak dari perdagangan bebas, perusahaan lokal harus sanggup bersaing dengan perusahaan global maupun perusahaan lokal dari negara lain.

Banyak perusahaan di Indonesia ingin menjadi salah satu perusahaan yang terbaik. Sebagai contoh, Pertamina ingin menjadi World Class National Energy Company; di dalam salah satu dari Panca Sradha nya, Kalbe ingin Strive to be the best; Summarecon mempunyai visi ingin menjadi “Crown Jewel” of property developers di Indonesia. Perusahaan yang terbaik akan meningkatkan kemampuan perusahaan untuk memenangi persaingan bisnis maupun ketahanan hidup menghadapi perubahan dunia yang dahsyat dan serempak.

Timbul pertanyaan: apakah definisi dari “perusahaan yang terbaik” yang lebih sering dikenal dengan berbagai istilah seperti perusahaan kelas dunia (world class company); perusahaan dengan praktik terbaik (the best practice company)? Perusahaan yang berukuran besar, perusahaan yang sudah berumur panjang, maupun perusahaan yang global bukanlah ciri utama dari perusahaan kelas dunia.

Perusahaan kelas dunia ialah perusahaan yang mempunyai proses bisnis atau kegiatan bisnis yang sangat baik. Rata-rata ada 600 proses bisnis di suatu perusahaan, seperti kegiatan merekrut karyawan, mencari pelanggan, menagih piutang, dan lain-lain. Menjadi perusahaan kelas dunia tidak perlu semua proses bisnis harus sangat baik. Setidaknya, satu atau dua proses bisnis harus sangat baik, sedangkan proses bisnis lain harus rata-rata industri.

Ini menimbulkan pertanyaan baru, bagaimana kita mengetahui apakah proses bisnis sudah sangat baik, rata-rata industri, atau buruk?

Baik buruknya suatu proses bisnis diukur dari tingkat cacatnya. Cacat di dalam suatu proses bisnis ialah segala sesuatu yang tidak sesuai dengan keinginan pelanggan atau janji ke pelanggan yang tidak ditepati. Misalnya, pelanggan meminta agar barang dikirim satu minggu lagi. Kita mengirim barang itu hari ini karena barang sudah ada stok di gudang. Kegiatan pengiriman barang itu cacat karena tidak sesuai dengan keinginan pelanggan. Tingkat cacat dari proses bisnis yang sangat baik ialah 1,8 cacat per 1 miliar output yang dihasilkan.

Rasanya kurang etis menanyakan cacat. Oleh karena itu digunakan istilah lain, yaitu sigma level. Dilihat dari sigma level-nya, proses bisnis dikategorikan sebagai berikut: Proses bisnis yang buruk jika sigma level di bawah 2. Proses bisnis rata-rata industri jika sigma level = 4. Proses bisnis yang sangat baik jika sigma level-nya minimum 6.

Ada kaitan antara sigma level, tingkat cacat, dan kualitas suatu produk. Semakin tinggi sigma level, semakin rendah tingkat cacat, dan semakin tinggi kualitas produk. Terbukti, dari berbagai penelitian di berbagai industri dan di semua negara bahwa semakin tinggi kualitas suatu produk, ongkos membuat produk tersebut selalu turun.

Mengubah pola pikir

Perusahaan kelas dunia mempunyai keunggulan bersaing bisnis, baik dalam segi kualitas maupun biaya dibandingkan perusahaan yang belum kelas dunia. Ini membuat banyak perusahaan berlomba melakukan perbaikan proses bisnis untuk menjadi perusahaan kelas dunia.

Apa yang harus dilakukan? Ide datang dari analogi dengan olahraga dan studi banding ke perusahaan kelas dunia. Ada kemiripan antara olahraga dan bisnis. Untuk menjadi pemenang, baik olah ragawan maupun perusahaan harus memenangkan persaingan. Tujuan tertinggi olah ragawan ialah menjadi juara dunia olahraga yang ekuivalen dengan menjadi perusahaan kelas dunia dalam bisnis. Untuk menjadi juara dunia olahraga, olah ragawan harus berlatih terus-menerus. Ini ekuivalen dengan perusahaan harus melakukan perbaikan proses bisnis secara terus-menerus.

Berdasarkan analisis studi banding perusahaan Motorola ke Hitachi, ada dua tahap untuk menjadi perusahaan kelas dunia. Pertama ialah mengetahui karakteristiknya. Kedua ialah membuat sistem manajemen untuk perbaikan proses bisnis agar hasil perbaikan sangat baik sehingga mampu mengejar ketertinggalan dari perusahaan kelas dunia lain.

Hasil survei menunjukkan bahwa karakteristik dari perusahaan kelas dunia tecermin dari adanya pola pikir tertentu dan kecepatan perbaikan proses bisnis yang tinggi. Pola pikir perusahaan kelas dunia disebut pola pikir pemenang yang diterima oleh semua orang di perusahaan, mulai level direksi, manajer, sampai karyawan.

Ada 10 pola pikir yang terkait dengan pola pikir pemenang. Salah satu contohnya ialah pandangan orang soal kualitas produk dengan biayanya. Pandangan pertama mengatakan, semakin tinggi kualitas suatu produk, ongkos produksi biasanya semakin mahal. Pandangan kedua, semakin tinggi kualitas suatu produk, ongkos produksi selalu turun. Pola pikir pemenang mengatakan pandangan kedua adalah benar. Pandangan pertama membuat orang tidak mau melakukan perbaikan proses bisnis karena khawatir akan risiko, seperti biaya naik, laba turun, bonus kecil, dan kenaikan gaji kecil.

Untuk menjadi perusahaan kelas dunia, perusahaan perlu memiliki sistem manajemen untuk perbaikan proses bisnis yang sukses, cepat, tepat dan sinergi antar perbaikan proses bisnis. Contohnya, Six Sigma di General Electric, dan Astra Management System di kelompok Astra. Sistem manajemen untuk perbaikan proses bisnis ini perlu dibuat secara internal oleh manajemen perusahaan. Konsultan manajemen sebaiknya berfungsi mengarahkan manajemen dalam pembuatan sistem manajemen untuk perbaikan proses bisnis dan sebagai rekan diskusi agar sistem manajemen tersebut sesuai kultur perusahaan dan sukses dijalankan di perusahaan.