Kontan Online
  : WIB    --   
indikator  I  

Sudah saatnya kembali ke realita

Sudah saatnya kembali ke realita
Kepala Riset Universal Broker Indonesia

Seorang aktivis pasar modal yang memandang pasar dari analisis teknikal bisa saja hidup di alam mimpi. Maklum, variabel memprediksi hanya harga dan volume.

Saya tidak mau seperti itu dan enggan terlalu jauh dari realita. Saya harus bisa menjelaskan pertanyaan mengapa harga naik, turun, tidak bergerak, dan sebagainya. Saya juga perlu menjaga rekomendasi saya tidak terlalu jauh berlawanan dengan arus utama (mainstream) analis lain.

Misalnya kita tahu, PT. Telekomunikasi Indonesia (TLKM) merupakan perusahaan bagus. Harga TLKM pada penutupan Jumat kemarin di Rp 3.550. Kalau saya memberikan rekomendasi buy jangka pendek dengan target Rp 35.000 setahun, apakah masuk akal? Atau sebaliknya, rekomendasi sell dengan target Rp 350. Bisa dianggap ngomporin untuk sesuatu yang tidak benar.

Untuk menjaga supaya tetap "berjalan di atas tanah" saya memperhatikan hasil riset analis fundamental yang dirangkum Bloomberg, Reuters atau Financial Times. Seperti ekspektasi laba bersih, penjualan, dividen dan sebagainya. Data-data ini sering disebut konsensus analis.

Konsensus analis berguna ketika musim publikasi laporan keuangan. Kita tinggal membandingkan pencapaian emiten dengan rata-rata estimasi konsensus analis. Jika pencapaian jauh di atas rata-rata estimasi konsensus, harga cenderung naik karena analis bakal menaikkan valuasi dan sebaliknya.

Kebetulan November 2015 lalu, saya memantau rata-rata valuasi 25 emiten dari data konsensus itu. Dan Sabtu kemarin, melakukan hal serupa untuk 25 emiten tersebut.

Selama November 2015-April 2016, para analis cenderung meningkatkan valuasi rata-rata 3,%. Para analis bullish pada saham-saham terkait konsumsi masyarakat. Tidak sekadar sektor konsumer (UNVR, HMSP, GGRM, INDF, ICBP), tapi juga sektor lain yang terkait uang yang tersedia untuk dikonsumsi, seperti telekomunikasi (TLKM), BBM non subsidi (AKRA), dan pakan ternak (CPIN), yang merupakan turunan barang konsumsi.

Pertumbuhan ekonomi kuartal IV 2015 sebesar 5,04% memberikan kejutan. Mereka kemudian menaikkan valuasi barang-barang konsumsi. Jika November 2015 konsensus IHSG diperkirakan di 4.931, maka April 2016, perkiraan IHSG di 5.215. Secara IHSG, analis lebih bullish 5,75%

Kenyataannya, kinerja emiten (laba bersih per saham/EPS) jauh di bawah ekspektasi konsensus, terutama properti. Masih buruknya sektor ini dikonfirmasi sektor semen yang merupakan pelanggan utama sektor properti. Secara rata-rata, EPS 25 saham itu di kuartal I 2016 sebesar 12,1% di bawah konsensus.

Kalau penurunan valuasi bersama-sama pada banyak saham, bisa jadi prediksi target IHSG turut menurun. Pertanyaan lain seiring kinerja emiten yang buruk, benarkah pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal I 2016 di atas 5%? Buruknya kinerja emiten menyebabkan saya menanti pengumuman angka PDB kuartal I 2016 5 Mei nanti.

Nah, hari ini Bursa Efek Indonesia (BEI) kembali menerapkan fraksi harga baru. BEI akhirnya kembali ke realita. Mereka tetap membutuhkan transaksi pemodal ritel lokal.

Saya sudah pernah menyampaikan, meski belum sebaik fraksi harga 2007, fraksi harga ini bakal memberikan kesempatan pemodal ritel lokal berspekulasi di saham-saham dengan rentang harga lebih lebar. Dengan asumsi pemodal terkena biaya transaksi 0,15% untuk beli dan 0,25% jual, fraksi harga 2016 bisa memberikan return positif bagi para scalpers trader, trader yang hanya mengambil untung 1 poin pergerakan harga.

Harapan kita semua, pemodal ritel lokal yang sempat terusir saat fraksi harga 2014 kembali lagi.

Ketika BEI sosialiasi fraksi harga 2016, saham-saham BUMN yang harganya di bawah Rp 1.250 melonjak. Kenaikan harga dua bulan terakhir terlihat mulai meninggalkan kondisi fundamental yang sesungguhnya. Lihat saja ANTM, ELSA, GIAA, KAEF, INAF, TINS sudah menjulang tinggi. Bandingkan dengan kondisi keuangan kuartal I 2016. Saya tidak mau berprasangka buruk karena ada isu yang menemani pergerakan harga, yakni konsolidasi BUMN.

Sekarang bulan Mei. Beberapa tahun terakhir, ada fenomena Sell In May And Go Away. Sepekan kemarin net sell asing melewati Rp 1 triliun di pasar reguler. Dengan kinerja emiten yang buruk dan konsolidasi pasar, pergerakan IHSG cenderung mendatar sejak September tahun lalu.

Saya teringat satu hal: titik terendah (bottom) pergerakan harga bukan saat kondisi buruk menjadi baik. Bottom pergerakan harga muncul ketika orang bilang things cannot be any worse (keadaan sudah tidak bisa lebih buruk dari kondisi saat ini).

IHSG jangka pendek dan menengah masih dalam tren mendatar atau cenderung turun. Saya masih menunggu munculnya things cannot be any worse untuk memulai reli harga saham dan IHSG. Hati saya berdebar, menanti pengumuman PDB kuartal I 2016 Kamis nanti.

Happy trading, semoga barokah.