: WIB    —   
indikator  I  

Eataly menjual kultur kuliner

Eataly menjual kultur kuliner
Kolumnis internasional serial entrepreneur dan pengajar, bisnis, berbasis di California.

 Eataly dan Eataly.com telah merambah enam negara yaitu Italia, Amerika Serikat (AS), Jepang, Emirat Arab (Dubai), Brasil, dan Turki (Istanbul). Di negeri Paman Sam, toko ritelnya bisa kita jumpai di beberapa kota besar, seperti New York City, Chicago, Boston, dan Los Angeles.

Penggemar Eataly juga dikenal menggilai supermarket organik dan natural WholeFoods yang berbasis di AS. Uniknya, para penggemar Eataly juga dikenal menggilai supermarket organik dan natural Whole Foods yang berbasis di Amerika Serikat.

Eataly sendiri merupakan peritel kebutuhan pokok asal Italia yang berdiri sejak 2007. Sang pendiri bernama Oscar Farineti.

Pertanyaannya adalah apa kedahsyatan Eataly hingga menjadi buah bibir dunia bisnis? Eat, shop, learn. Begitu tagline-nya.

Konsepnya sendiri sederhana namun inovatif, yaitu dengan menggabungkan tiga model bisnis sekaligus yaitu pasar (supermarket), restoran, dan sekolah masak atau cooking school (scuola).

Ketiga model ini dijalankan dalam tiga platform yang digarap secara serius dan saling mendukung satu sama lain, yaitu toko konvensional, web commerce, dan mobile commerce.

Menurut Franco Denari, Chief Executive Officer dan Co-Founder Eataly, model bisnis perusahaan ini bisa disebut omnichannel yang mengutamakan pengalaman berbelanja konsumen. Maklum, konsumen merupakan landasan penting yang butuh produk, jasa, dan pengalaman berbelanja yang memuaskan.

Tujuan perusahaan ini adalah menjadi peritel bahan makanan yang lebih dari sekedar supermarket biasa.

Salah satu kunci keberhasilan Eataly adalah pemakaian analisis data dari setiap transaksi penjualan. Setiap titik penjualan di ritel ini memakai teknologi perekam data yang langsung terhubung dengan berbagai instrumen pendukung pengambil keputusan.

Pengalaman berbelanja konsumen di luar dan di dalam toko berdinding batubata dan bebatuan maupun secara online menjadi data yang penting bagi Eataly. Perusahaan ini bisa membedakan kebiasan konsumen Italia dan non Italia.

Malah, di Jepang, konsumen perusahaan sengaja menyajikan situs online yang berbeda dari negara lain sehingga data yang terekam jadi unik.

Maksud perbedaan penyajian data di setiap gerai Eataly ini adalah lantaran konsumen Italia sudah mempunyai pengetahuan produk yang mumpumi, baik soal kualitas barang dan harga. Alhasil, Eataly jadi bisa mengolah data rekaman transaksi dengan baik. Tak heran bila kumpulan data transaksi di Italia dan negara non Italia jadi berbeda.

Nah, khusus untuk konsumen non Italia yang berdomisili di AS, ada tiga kluster: high spenders (berani bayar mahal untuk produk premium), hipsters sebagai ambasador merek (mementingkan kualitas, narasi produk, dan peka lingkungan), dan ibu rumah tangga (berkeluarga, punya anak, waktu terbatas, bujet terbatas, dan mengkonsumsi produk sehari-hari).

Setiap kluster mempunyai kebiasaan berbeda yang mengilhami bagaimana toko retail, situs online dan aplikasi mobile dirancang. Informasi yang disajikan khusus mencakup setiap kluster secara cerdas. Seperti misalnya untuk mobile web, aplikasi video lebih sering digunakan karena layar yang kecil agak mempersulit membaca.

Yang menarik dari model bisnis Eataly adalah flagship store di Manhattan New York City luasnya 50.000 kaki persegi yang menjual 10.000 produk, dan ada tujuh restoran. Toko ini punya 400 pegawai. Sekitar 150 pegawai kelahiran Italia.

Toko ini menawarkan beragam produk pasta, minyak zaitun, keju, anggur, dan produk-produk impor asal Italia. Serta ada produk-produk segar dari Amerika Serikat.

Di sana, bagian layanan pelanggan tidak cuma sekedar memberikan informasi produk, tapi juga hal lain. Seperti ada kelas memasak, pengetahuan soal beragam makanan hingga membuat dapur yang nyaman bagi anak-anak. Ini jelas hal yang berbeda dengan peritel lainnya.

Selain itu Eataly menyediakan jasa pemotongan sayuran dan buah-buahan, tidak hanya pemotongan daging dan ikan. Jika konsumen tidak yakin dengan cara masak dan penyajian, ada tim yang langsung memberi arahan di tempat. Atau bisa juga ikut kelas memasak secara berjadwal.

Istilah tidak bisa memask tidak ada dalam kamus mereka. Eataly menganggap konsumen yang punya informasi bisa menjadi pelanggan atau repeat customer.

Anda juga bisa menyaksikan para pembuat keju mozzarella secara profesional mengolah susu di hadapan Anda dengan teknik tradisional. Ada juga uji coba wine dan keju.

Filosofi dan antropologi gastronomi masakan Italia mendasari model bisnis Eataly. Gaya penjualan inspiratif dan bernarasi memberi nilai lebih dari sekedar informasi. Pengalaman konsumen tidak tergantikan di tempat lain. Segera terapkan.


Close [X]