Kontan Online
  : WIB    --   
indikator  I  

Menguak perhitungan price earning ratio 15 kali

Menguak perhitungan price earning ratio 15 kali
Pengamat pasar modal

Berita di berbagai harian bisnis sering menyebutkan saham-saham di bursa kita masih murah selama price earning ratio (PER) masih di bawah 15.

Pernyataan serupa tentang PER saham juga sangat sering dilontarkan para analis saham di media massa. Bursa yang PER rata-rata di atas 15 kemahalan dan di bawah 15 relatif murah.

Apakah yang dimaksud PER rata-rata bursa dunia, atau PER konsensus para manajer reksadana atau target PER otoritas bursa, atau pengawas pasar modal?

Ada dua komponen yield atau expected return investasi saham, yaitu suku bunga bebas risiko (BI rate atau yield obligasi pemerintah) dan premi risiko pasar, yaitu tambahan return yang diminta investor sebagai kompensasi rasa deg-degan akibat turun naiknya harga saham atau ketidakpastian yang lebih besar.

Kedua variabel ini dan tingkat pertumbuhan rata-rata saham setiap negara berbeda.

Maka, jawaban yang benar mengenai PER wajar sebuah saham atau bursa adalah angkanya merupakan fungsi bunga bebas risiko, premi risiko pasar dan pertumbuhan.

Bunga bebas risiko berasal dari tingkat inflasi ditambah bunga riil sesuai efek Fisher. Premi risiko pasar berhubungan dengan volatilitas harga saham secara umum, sementara pertumbuhan saham berhubungan dengan pertumbuhan makro ekonomi.

Menghitung PER wajar saham-saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) harus dimulai dari menghitung nilai variabel penentu di atas.

Secara matematika, hubungan PER dengan suku bunga bebas risiko, premi risiko pasar, dan pertumbuhan adalah: PER wajar = 1/(rf + (rm rf) g) atau 1/(return pasar pertumbuhan).

Hanya jika PER aktual berada di bawah PER wajar, kita dapat mengatakan saham-saham masih berharga murah.

Dengan persamaan di atas, kita dapat menggunakan langsung yield obligasi negara 10 tahun sebesar 8% sebagai bunga bebas risiko. Angka premi risiko pasar di Amerika Serikat tahun 1926–2010 di 8%. Jadi, kita dapat menggunakan 8%–9% untuk Indonesia, sehingga return saham wajar di bursa kita 16%-17%, rata-rata 16,5%.

Terakhir, faktor pertumbuhan (g). Gampangnya kita menggunakan tingkat pertumbuhan makro Indonesia, sekitar 5% secara riil selama dua tahun terakhir atau 10% secara nominal, dengan asumsi inflasi 5%.

Menggunakan angka-angka dan persamaan di atas, PER wajar BEI seharusnya 1/(16,5%) atau 15,38 kali. Bagaimana PER rata-rata di BEI? Bloomberg menghitung secara harian dan mendapatkan 15,8 kali selama 10 tahun terakhir.

Namun, jika menggunakan IDX Statistics Tahunan atau hanya 10 angka PER di akhir tahun 2006-2015, PER rata-rata seluruh saham 15,36 dan antara 12,2 (2008)–19,6 (2014).

Jika melihat sektoral pada akhir tahun, PER paling rendah adalah 10,4, yaitu di sektor Aneka Industri, yakni 3,2 (2015)–8,3 (2012). Sementara PER rata-rata tertinggi pada sektor Infrastruktur, Utilitas, dan Transportasi, yaitu 20. PER terendah industri ini di 6,8 pada tahun 2011 dan tertinggi di 40,8 pada tahun 2007.

Berdasarkan penjelasan di atas, angka PER wajar 15 kali sebenarnya PER rata-rata aktual 10 tahun terakhir. Dengan kata lain, investor saham bersedia menerima payback period 15 tahun untuk investasi saham di BEI.

Dengan asumsi return pasar saham 16%–17% setahun, PER wajar di BEI di 12,5–20 kali, tergantung pertumbuhan ekonomi.

Kesimpulannya, kita jangan hanya membandingkan PER antarnegara dan mengatakan saham di bursa yang satu lebih murah daripada yang lain, tanpa memahami dan memperhitungkan faktor-faktor penentu, yaitu variabel ekonomi makro.

Untuk perbandingan antarsaham, saham dengan PER 15 kali dapat dikatakan murah atau mahal tergantung PER wajar. Susahnya, PER wajar satu saham dengan saham lain berbeda, tergantung tingkat pertumbuhan emiten ke depan.