Kontan Online
  : WIB    --   
indikator  I  

Membangun Start-Up

Membangun Start-Up
Pengamat Manajemen dan Kepemimpinan

Start-up telah menjadi salah satu kosakata bisnis yang paling populer beberapa tahun belakangan, khususnya di Indonesia. Kemunculan beberapa perusahaan anyar yang melejit secara tiba-tiba, seperti Uber dan Airbnb di luar negeri ataupun Gojek dan Tokopedia di dalam negeri, telah membuat masyarakat keranjingan untuk menjajal start-up.

Dalam rangka membangun semangat kewirausahaan, pemerintah tak kalah antusiasnya mendorong (bahkan memfasilitasi) masyarakat untuk membangun bisnis start-up.

Saat ini, cukup banyak sarjana baru yang merasa bahwa membangun start-up terkesan lebih keren daripada melamar pekerjaan sebagai karyawan kantoran.

Perkembangan teknologi dan media sosial telah ikut mengungkit kinerja sekaligus citra dari usaha start-up. Membangun start-up utamanya yang berbasis teknologi hadir sebagi mimpi baru bagi orang muda generasi terkini.

Namun sesungguhnya, start-up bukanlah fenomena baru. Start-up dalam pengertiannya yang generik yakni: merintis usaha baru, pada hakikatnya setua dengan peradaban bisnis itu sendiri.

Sesuai dengan hukum besi, seleksi alam yang berbunyi yang lahir tak selalu sempat menjadi tua, demikian pula dengan start-up.

Ranjay Gulati dan Alicia DeSantola, dalam tulisannya bertajuk Start-Ups That Last (HBR, Maret 2016) membedah persoalan-persoalan yang melilit dan akhirnya memperpendek umur usaha start-up itu sendiri. Padahal, usaha ini tampak memiliki semua anasir yang diperlukan untuk kesuksesan bisnis. Misalnya, konsumen yang tersedia, dana yang melimpah, dan pasar masa depan yang prospektif.

Dengan kata lain, banyak yang bisa membangun start-up tapi kedodoran saat hendak membesarkannya secara berkesinambungan.

Lewat studi yang ekstensif, Gulati dan DeSantola menyimpulkan, bahwa ada empat hal penting yang harus dilakukan sebuah start-up untuk bertumbuh secara berkelanjutan dan berumur panjang.

Pertama, mempekerjakan para ahli di bidangnya masing-masing. Kedua, menerapkan struktur dan manajemen organisasi yang tertata. Ketiga, melakukan kegiatan perencanaan strategis yang rapi. Keempat, memperkuat nilai dan budaya perusahaan.

Singkat kata, membangun bisnis yang berkelanjutan pada hakekatnya adalah membangun organisasi yang profesional.

Pola pikir

Persoalan dimulai tatkala pola pikir entrepreneurship (kewirausahaan) dibenturkan dengan profesionalisme. Umumnya para pelaku start-up membawa pola pikir kewirausahaan yang kuat, yang dicirikan dengan semangat: keleluasan, oportunisme, dan kecepatan.

Profesionalisme seringkali diidentikkan dengan hirarki atau birokrasi, administrasi, dan kelambanan. Mempekerjakan orang yang ahli di bidangnya bisa membuat mereka kehilangan daya kendali (kontrol), padahal keinginan kendali seringkali jadi adrenalin terbesar bagi para pebisnis pemula.

Demikian pula menghadirkan manajemen organisasi dikhawatirkan akan menciptakan birokrasi tak perlu, yang akan memperlambat proses pengambilan keputusan. Dan, melakukan perencanaan strategis seringkali dianggap sebagai pekerjaan administratif di atas kertas atawa paper work, yang hanya akan menumpulkan kemampuan mengendus kesempatan-kesempatan bisnis yang lalu lalang setiap saat.

Tentang budaya perusahaan, tak bisa dipungkiri bahwa kesamaan cita-cita, gaya, dan semangat yang dirasakan oleh kelompok pendiri start-up telah membangun kebersamaan dan kerja keras mereka di masa-masa awal. Yang selanjutnya mengantar mereka kepada kesuksesan.

Dengan berjalannya waktu, jerat kesibukan operasional membuat mereka alpa melakukan pelembagaan nilai-nilai dan gaya kerja itu. Padahal, nilai-nilai tersebut perlu mereka tularkan juga kepada seluruh elemen organisasi (termasuk karyawan-karyawan baru), agar fondasi kultural perusahaan tetap terjaga dengan baik.

Bila diringkas, para penggiat start-up umumnya alergi dengan kedisiplinan dan tatanan.

Wajar saja, karena pengalaman bisnis di masa awal telah membuktikan bahwa keleluasaan, oportunisme, dan kecepatanlah yang memberikan mereka kesuksesan. Bukannya kedisiplinan dan manajemen. Namun, membangun dan mengembangkan usaha adalah dua fase bisnis dengan corak permainan yang berbeda.

Mengembangkan usaha ibarat membawa start-up yang sudah dibangun ke arena permainan yang lebih tinggi alias the next level. Dan, seperti bunyi nasihat bijak, bukankah lebih mudah dan mantap meluncurkan pesawat roket ke tempat yang lebih tinggi, jika kita tak dikhawatirkan dan disibukkan dengan urusan mengisi bahan bakar di tangki roket?

Tapi sesungguhnya, tak perlu mempertentangkan entrepreneurship (yang serba ad-hoc) dan profesionalisme (yang serba ditata). Justru di antara kedua ekstrem tersebut, ada jalan tengah yang bisa mengantar sebuah start-up menjadi skala bisnis yang mapan.

Pemimpin bisnis yang visioner akan menemukan jalan tengah itu.