Kontan Online
  : WIB    --   
indikator  I  

Buyback saham di Indonesia

Buyback saham di Indonesia
Financial Expert-Prasetiya Business School

Ada musim IPO (penawaran saham perdana kepada publik), ada pula musim buyback (pembelian kembali) saham.

Jika IPO marak saat pasar sedang bullish (harga saham naik), maka buyback saham banyak dilakukan saat pasar sedang bearish, bahkan saat dihantam krisis ekonomi.

Misalnya, seiring dengan gugurnya harga saham, selama kuartal pertama tahun 2008, beberapa emiten di Bursa Efek Indonesia giat menggelar program buyback. Contohnya ada PT Bank Central Asia Tbk, PT Telekomunikasi Indonesia Tbk serta PT Kalbe Farma Tbk. Kondisi ini sangat kontras dengan periode 1994-2005 di mana hanya ada satu perusahaan yang melakukan buyback, yakni PT HM Sampoerna Tbk.

Ada tiga motif utama untuk melakukan buyback. Pertama, motif distribusi. Buyback dapat dipakai untuk mendistribusikan kelebihan kas kepada pemegang saham. Jika pada pembayaran dividen semua pemegang saham menerima kas, maka pada buyback hanya pemegang saham yang menjual sahamnya akan menerima kas.

Pemegang saham yang tidak menjual saham mengharapkan kenaikan harga saham setelah buyback (capital gain), karena jumlah saham beredar akan berkurang. Jika dividen dipajaki lebih tinggi daripada capital gain, pemegang saham lebih menyukai buyback daripada dividen. Motivasi ini yang diduga memicu sebagian besar buyback di AS (Jensen, 1986).

Kedua, motif pemberian sinyal dan penciptaan nilai bagi pemegang saham. Perusahaan melakukan buyback untuk memberi sinyal bahwa saham undervalued. Asumsinya, informasi tidak simetris yang terjadi antara manajemen dan investor dapat menciptakan harga pasar yang salah; yakni terlalu tinggi (overvalued) atau terlalu rendah (undervalued).

Jika investor melihat buyback sebagai sinyal bahwa manajemen yakin dengan prospek perusahaannya, kinerja saham akan terdongkrak. Misalnya, Lakonishok dan Vermaelen (1990) menemukan bahwa pengumuman buyback di AS menyebabkan harga saham naik rata-rata 14,29%.

Ketika pasar saham sedang terjun bebas, buyback saham bisa berfungsi sebagai parasut. Sebagai contoh, dua minggu setelah market crash di Wall Street pada Oktober 1987, sekitar 600 korporasi AS mengumumkan rencana buyback senilai US$ 44 miliar. Ada dua alasan bagi korporasi untuk melakukan aksi yang cukup berisiko ini.

Buyback akan meningkatkan permintaan untuk saham yang sedang tertekan harganya. Lalu, buyback merupakan sinyal kepada investor bahwa manajemen tetap yakin dengan prospek korporasi sehingga menganggap harga saham saat ini undervalued. Sinyal ini dianggap penting untuk mengembalikan kepercayaan investor pada korporasi dan pasar modal yang sedang babak belur.

Hal ini dilakukan oleh Warren Buffett saat harga saham perusahaannya, Berkshire Hathaway, terus menurun. Untuk pertama kalinya sejak 1965, Buffett menyatakan akan melakukan buyback saham Berkshire Hathaway karena dianggap sudah kemurahan. Setelah muncul pernyataan itu, harga saham Berkshire langsung melambung 8%.

Ketiga, motif struktur modal. Ketika perusahaan melakukan buyback, jumlah ekuitas akan berkurang sehingga rasio utang akan meningkat. Jadi, buyback merupakan alat untuk mencapai rasio utang yang diinginkan manajemen perusahaan. Dengan asumsi bahwa terdapat rasio utang optimal (yang meminimalkan biaya modal, sehingga memaksimalkan nilai saham), perusahaan dapat menggunakan buyback untuk mencapai rasio utang sasaran tersebut. Misalnya, manajemen dapat melakukan buyback jika merasa rasio utangnya terlalu rendah. Dittmar (2000) menemukan bukti bahwa perusahaan-perusahaan di AS mengubah rasio utangnya dengan menggunakan buyback.

Ketiga motif tersebut berasumsi bahwa jika pasar tidak sempurna, buyback dapat menciptakan nilai bagi pemegang saham.

Apa motif buyback emiten BEI tersebut di atas? Ternyata, tidak satupun yang memiliki motif distribusi. Hanya Telkom yang menyatakan bahwa buyback-nya dimotivasi oleh faktor struktur modal. Sebagian besar mengaku melakukan buyback karena merasa harga saham murah. Mereka berniat menjual kembali saham tersebut (treasury stock) di kemudian hari ketika harga membaik.

Pada saat harga saham tertekan dan korporasi memiliki kas yang cukup besar, manajemen sebaiknya mempertimbangkan strategi buyback saham. Pada umumnya saham hasil buyback akan disimpan hingga korporasi membutuhkan dana segar. Saham ini akan dijual kembali saat harga saham lebih tinggi daripada harga saat buyback.

Ambil contoh, saat BCA menjalankan program buyback saham pada 2008. Saat itu, BCA membeli kembali sekitar 200 juta saham. Rata-rata harga pembelian kembali saham BCA adalah Rp 3.600 per saham, sehingga BCA menggelontorkan dana Rp 720 miliar untuk aksi buyback tersebut.

Saham itu akhirnya dijual kembali ke investor pada 2013 dengan harga Rp 9.900 per saham, memberikan uang tunai bagi BCA sebesar Rp 1,98 triliun. Strategi ini menciptakan nilai Rp 1,26 triliun kepada pemegang saham BCA yang setia (tidak menjual kembali sahamnya kepada korporasi).