Kontan Online
  : WIB    --   
indikator  I  

Mau dan bisa (manfaatkan data)

Mau dan bisa (manfaatkan data)
Founder of Lightora UMN Incubator

Ibu Lani galau melihat laporan keuangan yang tidak menggembirakan kuartal I tahun 2016 ini. Secara year on year, penurunan terjadi selama beberapa kuartal terakhir. Penjualan menurun sedangkan biaya pemasaran dan operasional cenderung meningkat sehingga menggerus margin.

Banyak pertanyaan bermunculan di benak eksekutif dari sebuah perusahaan retail chain besar tersebut. Kapan ekonomi membaik? Apakah ini adalah kondisi ‘new normal’ yang harus diterima? Ataukah pelanggan saya sudah tidak loyal?

Apakah perlu diversifikasi usaha? Apakah pelayanan perlu ditingkatkan? Apakah perlu efisiensi dengan pengurangan karyawan? Apakah ada segmen pasar lain yang bisa digarap? Dan lainnya.

Untuk mengataasi krisis dengan menjawab pertanyaan di atas, Ibu Lani akhirnya memiliki ide untuk mengetahui melakukan penggalian data (data mining) perusahaan secara lebih detail dan komprehensif.

Entah bagaimana beliau yakin ada sesuatu yang dapat ditemukan dari penelusuran data-data yang selama ini hanya ditumpuk setelah laporan summary dihasilkan. Kemauan seperti ini tentunya suatu hal yang jarang ditemukan.

Untuk apa menghabiskan waktu ketika situasi ekonomi memang tidak bagus?

Bermodalkan gut feeling yang ada, segala laporan diminta dan seluruh lini data mulai dari data pelanggan, karyawan, pemasok, dan produk--sampai data aktivitas dan transaksi seperti pemasaran, penjualan, pelayanan pelanggan, operasional, produksi, pasokan, dan persediaan--diambil dan dicari korelasinya untuk menemukan insight baru.

Namun bukannya menemukan solusi, laporan yang diterima ternyata masih cukup terbatas. Menelusuri detil data ternyata bukan perkara mudah, dengan jumlah dan variasi yang sangat besar ini memakan waktu sangat lama.

Proses memakan waktu berhari-hari dan ujung-ujungnya pihak IT tidak berhasil menemukan satu korelasi bisnis yang otomatis dan actionable karena sebenarnya tidak begitu paham apa yang diminta.

Dimulailah maraton meeting yang melibatkan key business user orang TI untuk mencari how-to yang lebih baik, dan akhirnya muncul solusi untuk mencari model filtering dan korelasi data bertahap saja.

Sebagai contoh, filtering dilakukan untuk mencari produk apa saja yang hanya mengalami penurunan penjualan maksimal 40% selama dua tahun terakhir. Kemudian dari produk tersebut dicari korelasi segmen pelanggan yang membeli dan tingkat inventorinya.

Insight yang didapatkan ternyata menarik, ternyata ada produk makanan yang hanya mengalami penurunan sedikit. Setelah ditelusuri lebih lanjut, ukuran packaging dari produk ini cuma satu dan dirasa cukup besar oleh pelanggan.

Bagaimana jika produk ini dipecah ke dalam unit yang lebih kecil?

Dan bagusnya, supplier dari produk ini adalah bagian dari grup perusahaan dan dieksekusi ide untuk membuat ukuran varian baru yang lebih kecil. Ternyata sambutan pasar sangat baik dan segera dirasakan dengan meningkatnya penjualan.

Bermodalkan metodologi ini, Bu Lani dan tim menjadikan praktik data mining sebagai hal yang rutin dan menjadi modal melakukan transformasi berbagai kebijakan bisnis.

Cerita di atas hanyalah fiktif belaka, namun prosesnya bukan hal yang baru. Agar Anda sebagai pelaku bisnis mau dan juga bisa merasakan manfaat data, Kontan Academy secara berkala menyelenggarakan seminar dan workshop yang menghadirkan praktisi dan bisnis yang telah menerapkan metodologi dan teknologi Big Data untuk mencapai keunggulan.

Informasi lanjut dapat menghubungi kami di bigdata@kontan.co.id. 

Sumber: Harian KONTAN edisi 6 Juni 2016