Kontan Online
  : WIB    --   
indikator  I  

Bias konfirmasi yang membius

Bias konfirmasi yang membius
Staf Pengajar FEB-UI dan Pengamat Pasar Modal

Masih segar dalam ingatan, terbelahnya masyarakat kita dalam dua kelompok saat kampanye pemilihan presiden pada tahun 2014 lalu.

Marak terjadi sesama teman, rekan kerja, dan kenalan menjadi bermusuhan atau memutus pertemanan (unfriend) di media sosial karena pilihan yang berbeda. Tidak sedikit juga pasangan suami-istri, adik-kakak, atau anak dengan bapak atau ibunya tidak saling bicara akibat perbedaan tersebut.

Seorang kawan saya, yang sekarang pimpinan sebuah Perguruan Tinggi Swasta (PTS) di Jakarta memutuskan tidak lagi berlangganan sebuah harian nasional terkemuka. Padahal ia sudah berlangganan harian tersebut selama 15 tahun terakhir. Ia beralasan, harian tersebut tidak netral. Saking kesal dan kecewa, dia merasa perlu menuliskannya di tembok sosial media miliknya.

Pada kesempatan lain, saat sedang bersantap di sebuah rumah makan dekat rumah, saya bertemu seorang tetangga yang juga mengeluhkan hal serupa, tetapi tentang koran lain. "Sekarang saya sudah tidak bisa membaca artikel mingguan Bapak di koran itu lagi, karena saya sudah tidak mau berlangganan koran yang beritanya terlalu tendensius dan provokatif, jauh dari sebuah media independen," katanya.

Tidak selesai dengan saling menyerang pada masa kampanye, kedua kelompok masih saja saling gertak pada saat quick count. Waktu itu, kedua belah pihak sama-sama menyatakan diri sebagai pemenang pemilihan presiden.

Koalisi Merah Putih menggunakan sejumlah survei yang memenangkan pasangannya. Pada saat hampir bersamaan, PDI-P juga tidak mau kalah dengan menggelar jumpa pers dan syukuran atas kemenangan capresnya. Masing-masing kelompok mengacuhkan apa yang dikatakan dan diklaim kelompok lawan.

Politik memang contoh bagus dan nyata untuk bias konfirmasi. Para pendukung Joko Widodo (Jokowi) mengacuhkan semua kampanye hitam yang dilakukan pihak lawan dan para pendukung Prabowo Subianto waktu itu juga setali tiga uang.

Setiap orang hanya mau mendengar yang baik mengenai jagoannya dan yang buruk mengenai lawannya. Serta cenderung untuk menutup mata terhadap keburukan pilihannya dan kehebatan kubu lawan.

Setelah dua tahun, sejarah kembali berulang. Kini masyarakat Jakarta terbagi dalam dua kelompok menjelang pemilihan gubernur DKI Jakarta yang berlangsung tahun depan.

Para pendukung Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) akan berteriak-teriak memberitakan kehebatan sang petahana. Sebaliknya, para pembenci Ahok akan mencari-cari kesalahan dan mendukung siapapun asal bukan Ahok.

Artikel ini bukanlah untuk membela atau mencaci Ahok ataupun Jokowi. Artikel ini hanyalah ingin menunjukkan contoh-contoh bias konfirmasi yang kerap terjadi tanpa disadari orang yang mengalaminya.

Bias konfirmasi adalah kecenderungan kognitif seseorang mencari bukti-bukti yang mendukung pendapat atau kepercayaannya serta mengabaikan bukti-bukti yang menyatakan sebaliknya.

Kita menyukai orang atau pihak yang sependapat dengan kita. Untuk itu, kita akan mengunjungi situs, membaca harian, menonton televisi, mempercayai survei dan bergaul dengan orang-orang yang menyatakan berbagai pandangan dan selera yang sama dengan kita.

Kita merasa terganggu oleh individu-individu, kelompok-kelompok, dan sumber-sumber berita yang membuat kita tidak nyaman karena berbeda sudut pandang.

Yang menarik, tidak hanya terjadi dalam dukung mendukung calon pimpinan nasional dan daerah serta partai politik, bias konfirmasi juga terjadi dalam dunia keuangan dan investasi.

Ketika kita menyukai sebuah saham tertentu, katakan PT Gajah Tunggal Tbk (GJTL), kita akan senang mendengar analis atau media merekomendasikan saham ini.

Sebaliknya, kita cenderung mengabaikan analisis siapapun atau pihak manapun yang mengatakan, saham ini sudah kemahalan dan sudah saatnya dijual. Ini karena harga saham naik dalam dua pekan secara berturut-turut, dari posisi Rp 710 di awal bulan ini menjadi Rp 975 per saham pada Kamis pekan lalu.

Terkait contoh keuangan, saat kita baru saja membeli tiket dan voucher hotel yang kita pandang murah. Kita ingin mendapatkan konfirmasi ketika memberitahukan kepada orang lain.

Katakan tiket perjalan Jakarta-Tokyo dengan Garuda Indonesia (pergi pulang/pp) seharga Rp 5 juta dan voucer menginap di hotel Trans Luxury Bandung seharga Rp 1,3 juta semalam.

Kita akan mengalami cognitive dissonance (ketidaknyamanan kognitif), ketika orang lain tidak mengonfirmasi pandangan kita, karena mendapatkan tiket yang lebih murah untuk tujuan dan pesawat yang sama, yaitu Rp 4 juta pp dan hanya Rp 1,1 juta semalam untuk akomodasi di hotel mewah di atas.

Contoh lain dalam investasi saham adalah ketika kita baru saja menjual saham tertentu.

Kita akan tersenyum senang jika mendengar atau membaca siapa saja yang merekomendasikan jual untuk saham itu, karena sesuai dengan pandangan kita. Kita kurang begitu suka jika ada yang masih menyarankan buy apalagi strong buy untuk saham tersebut.

Terakhir, setelah tidur lelap selama 7 bulan sampai 8 bulan pada harga Rp 50 dan investor hanya bisa beli tetapi tidak bisa jual saham ini, para investor loyalis PT Bumi Resources Tbk (BUMI) bersorak girang. Mereka menyaksikan harga saham ini melesat ke Rp 84 pada 15 Juni lalu.

Mereka lantas mencari berita dan analisis yang sesuai dengan harapan mereka dan cenderung mengabaikan pesan atau peringatan orang lain agar berhati-hati terhadap saham ini.

Saat bursa diberitakan akan mengawasi saham Grup Bakrie tersebut, karena khawatir ada pergerakan pasar tidak biasa unusual market activity (UMA) dari saham ini, beberapa dari mereka melampiaskan kekesalannya.

Mereka menyatakan, tindakan tersebut tidak fair karena tidak sesuai dengan ekspektasi mereka. "Baru saja bangun, otoritas bursa sudah mau membuatnya tidur lagi," komentar mereka.