: WIB    —   
indikator  I  

Ahmet Calik dan Turki Baru

Ahmet Calik dan Turki Baru
Pengamat Asia Tenggara

AWAL bulan Oktober ini di IstanbuI, saya bertemu dengan seorang pria yang mengingatkan saya akan sosok taipan Indonesia, yaitu Chairul Tanjung. Saya mendengar pria itu berbicara pada pembukaan konferensi untuk para pengelola dana. Seperti CT yang ada di Indonesia, Ahmet Calik juga adalah orang yang memiliki banyak kepentingan.

Di bawah bendera Calik Holdings yang bernilai US$  6 miliar, bisnis Ahmet Calik menggurita di berbagai sektor, mulai dari tekstil, konstruksi, minyak dan gas bumi, dan media. Calik beroperasi di 4 benua, 15 negara dan memiliki lebih dari 20.000 orang karyawan.

Dalam usianya yang sekitar 50-an, Ahmet Calik sebagai pimpinan di Calik Holdings berbicara sebagai orang yang sudah menyaksikan dan berpartisipasi dalam booming negaranya. Dia menjelaskan dengan menggunakan beberapa grafik dan bagan yang membuktikan kebangkitan Turki.

Sebagai teman Perdana Menteri Recep Tayyip Erdogan, Ahmet Calik telah menyaksikan sendiri bagaimana Turki telah mengalami transformasi sejak kemenangan Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP)  di tahun 2002.

Perkenankanlah saya mengulang kembali beberapa hal yang telah dijelaskannya. Dalam dekade terakhir, ekonomi Turki telah tumbuh rata-rata 5,2%. Di tahun 2011, ekonomi tumbuh mencengangkan hingga 8,5% dan PDB mencapai US$ 772 miliar.

Saat ini, ada sekitar  50 juta pengguna internet di Turki, bandingkan dengan 4 juta pada tahun 2000. Di periode sama, jumlah ponsel dan penggunaan kartu kredit telah melesat  masing-masing hingga 65 juta dan 51 juta dari sebelumnya 26  jutadan 16 juta.

Jumlah penumpang pesawat juga  melonjak dari 33 juta tahun 2000 menjadi 118 juta. Bandara Ataturk International di Istanbul telah menjadi pusat aktivitas yang mengangkut 82.000 penumpang setiap hari. Sekitar 700 hingga 730 pesawat hilir mudik setiap hari ke lokasi-lokasi eksotis seperti Osh, Ashgabat, Almaty, Novosibirsk, Krasnodar dan Baku.

Ini adalah tanda perubahan luar biasa yang telah dialami Turki. Setelah Perang Dunia I menghancurkan Kekaisaran Ottoman, Mustafa Kemal Ataturk memimpin Turki menuju perubahan yang radikal, mengubah populasi Turki yang poliglot dan berjalan mundur menuju pemerintahan sekuler.

Ataturk dan para penerusnya, yang telah melihat kelemahan Turki dalam menghadapi kekuatan Eropa, memilih mengadopsi cara-cara Barat. Karenanya, mereka berusaha menghilangkan identitas Muslim dan akar Anatolia Turki, kemudian mendukung modernitas sekuler dengan militer yang kuat sebagai punggawa.

Tapi sekarang, di bawah Partai AKP, muslim yang taat seperti Ahmet Calik lebih menonjol. Selain itu, keberhasilan Erdogan telah memperkuat kekuasaannya dalam usahanya memperbaharui Turki, memberikan kredibilitas kepada republik dalam menyebarkan kekuatannya ke luar negeri. Turki mampu melakukan berbagai manuver diplomatik dan militer dalam kaitannya dengan konflik Suriah.

Pada skala yang lebih luas, Turki juga terus berusaha mencari pengaruh di Asia Tengah. Tidak diragukan lagi, Calik Holdings telah menjadi bagian dari pencarian ini. Calik Holdings telah muncul menjadi pemain terkemuka dari Turki di kawasan Asia Tengah, melakukan bisnis di bidang rekayasa, pengadaan dan konstruksi (EPC) berbasis energi di Turkmenistan, Uzbekistan dan Irak. Ini termasuk enam pembangkit listrik berbahan bakar gas senilai US$ 1 miliar di Turkmenistan dengan kapasitas 1.138 MW.

Di Albania, Calik memiliki sebuah perusahaan operator telepon selular Eagle Mobile. Calik juga menguasai 60% saham di Banka Kombetare Tregtare, sebuah bank komersial tertua di negara itu dengan total aset senilai US$ 1,867 miliar.

Turkish Airlines juga melebarkan sayap dengan agresif ke Asia Tengah. Tak heran jika produk sinetron dan musik pop Turki menyebar  kesana. Misalnya, drama Muhtesem Yuzyil yang mencatat kehidupan Sultan Sulaiman sangat populer di Afghanistan hingga Ukraina.

Namun, banyak tantangan menanti Turki. Kekhawatiran akan defisit neraca berjalan perekonomian saat ini masih terjadi. Memang defisit tersebut telah berkurang menjadi US$ 1,18 miliar pada Agustus 2012 dibandingkan dengan US$  4,03 miliar tahun sebelumnya. Namun angka itu masih mengkhawatirkan. Pada saat yang sama, kekerasan di Suriah dapat menarik Turki ke dalam konflik yang lebih luas yang dapat membahayakan pertumbuhan.

Namun, bisa dirasakan bahwa Turki adalah apa yang Indonesia bisa dan harus menjadi seperti di suatu hari nanti: menjadi dinamis secara ekonomi, berdiri diantara iman dan sekularisme, memiliki pebisnis yang disegani di luar negeri.

Jelas Turki menempuh waktu sangat lama untuk mendapatkan semua itu, namun tidak ada alasan bagi Indonesia untuk tak bisa melakukan hal sama.


Close [X]