Kontan Online
  : WIB    --   
indikator  I  

Semua serba relatif

Semua serba relatif
Pengamat pasar modal

Ilmu fisika mengajarkan kita, cahaya bersifat saling mengalahkan. Lilin memberikan cahaya yang sangat berarti ketika listrik mati dan tidak ada sumber penerangan lain. Namun, ketika listrik menyala, cahaya lilin tidak berarti. Cahaya listrik di suatu tempat juga menjadi sia-sia jika tempat itu mendapatkan sinar matahari.

Eksperimen klasik fisika mengenai penilaian relatif ini adalah tentang tiga baskom. Baskom pertama berisi air dingin, baskom kedua air hangat dan ketiga air panas. Dua kelompok dibentuk. Kelompok pertama diminta mencelupkan tangan ke air dingin sebelum memasukkannya ke baskom air hangat. Sementara kelompok kedua memulai dari air panas, lalu merendam tangan di air hangat.

Kelompok pertama ternyata merasakan air hangat sebagai panas, sedangkan kelompok kedua justru menyatakan air hangat itu sebagai dingin. Pengalaman sebelumnya terbukti mempengaruhi persepsi dan penilaian seseorang.

Kehidupan keluarga juga demikian. Jika terbiasa mengajak keluarga ke luar negeri saat liburan, anak dan istri Anda mungkin tidak tertarik atau kurang antusias ketika ditawari bertamasya dalam negeri.

Sebaliknya, mereka yang selalu jalan-jalan di dalam negeri, kegirangan jika akan menghabiskan liburan di luar negeri, walaupun ke Singapura atau Malaysia hanya 1,5 jam–2 jam penerbangan. Padahal ke Raja Ampat atau Pulau Komodo di dalam negeri jauh lebih mahal daripada melancong ke dua negara jiran di atas.

Jika ulang tahun seorang anak selalu dibelikan hadiah mahal dan dirayakan meriah di restoran besar dengan mengundang saudara dan kawannya, dia akan bersedih jika tidak ada lagi makan dan pesta serta kado mahal. Jika keluarga Anda senantiasa makan di restoran dalam mal mewah, mungkin mereka tidak bersedia menemani jika Anda mengajak bersantap di warung pinggir jalan atau di pojok pasar.

Keputusan keuangan para investor juga bersifat relatif, baik terhadap alternatif lain maupun terhadap pengetahuan, latar belakang, lingkungan, dan pengalaman. Jika seseorang tidak memahami saham, alternatif investasi ini tentu luput dari perhatian dan kalah menarik dibandingkan deposito. Jika orangtua, keluarga besar dan sanak saudara tidak ada yang berinvestasi reksadana, sangat masuk akal jika Anda tidak tertarik.

Jika lingkungan rumah dan kantor seseorang tidak ada yang berinvestasi dalam saham, hampir pasti dia tidak menilai positif investor saham. Jika Anda pernah mengalami kerugian saham hingga 50% setahun seperti tahun 2008 lalu, menyaksikan penurunan nilai portofolio saham 12% pada tahun lalu menjadi sesuatu yang biasa.

Demikian juga jika Anda memiliki pengalaman meraup keuntungan saham hingga 50% lebih dalam beberapa bulan, memperoleh kenaikan portofolio 25% setahun menjadi tidak terlalu menggembirakan.

Jika Anda terbiasa dengan gurihnya saham, return deposito yang sering di bawah tingkat inflasi tentu jauh dari menarik. Padahal pemilik deposito sudah merasa senang memperoleh bunga bersih 6%–7% setahun.

Jika baru saja menjual saham seharga Rp 800 beberapa hari lalu, Anda kemungkinan besar tidak akan membelinya kembali pada harga Rp 1.000. Jika belum menjual seluruh saham itu, Anda mungkin tidak bersedia menjual sisanya pada harga Rp 600.

Pada sebuah kesempatan, seorang kawan pernah menanyakan saya, Bagaimana cara mengurangi risiko besar dalam saham? Memahami besarnya risiko saham, saya menganjurkan siapapun tidak menaruh 100% dana dalam saham. Simpanlah dana tiga bulan pengeluaran bulanan Anda dalam tabungan atau reksadana pasar uang.

Silakan membagi dana tersisa dalam saham dan aset lain. Jika sanggup menghadapi penurunan nilai hingga 50% dari investasi Anda, silakan masukkan 70%–80% dalam saham. Jika tidak, kurangi bobot saham Anda maksimal 40%–60%.

Untuk meminimalkan penyesalan, Harry Markowitz, penemu teori portofolio ternyata membagi dananya sama besar dalam saham dan obligasi. Saya melakukan yang sama, tidak selalu dalam dua aset itu.

Setelah pernah menaruh hampir seluruh aset saya dalam saham sekitar belasan tahun lalu, saya melakukan rebalancing dengan bertambahnya umur. Bobot saham dalam portofolio saya selama lima tahun terakhir hanya sekitar sepertiga. Lainnya properti, obligasi dan valuta asing.

Ketika teman-teman saya yang dananya hampir 90% dalam saham rugi sekitar 50% dari portofolionya di tahun 2008, saya hanya merugi belasan persen dari total portofolio karena mengalokasikan sekitar separuh portofolio dalam aset lain di luar saham. Saat itu saya memegang obligasi dollar yang selalu setia membayar kupon periodik setiap enam bulan, sebelum menjualnya untuk dipindahkan ke properti.

Alokasi aset adalah kunci mengurangi risiko besar saham yang membuat kita lebih tenang dan tidak panik menghadapi goncangan bursa. Kerugian mungkin masih terjadi, tetapi tidak besar lagi dilihat dari total portofolio.

Tidak seperti diversifikasi saham yang merupakan pilihan investor ritel dan saya termasuk yang tidak melakukan, saya merekomendasikan alokasi aset untuk semua investor, termasuk investor ritel. Hanya investor naif yang tidak melakukan alokasi aset.