Kontan Online
  : WIB    --   
indikator  I  

Niki Luhur

Niki Luhur
Pengamat Asia Tenggara

DALAM perjalanan saya baru-baru ini, saya bertemu dengan seorang anak muda Indonesia yang sangat mengesankan. Namanya Niki Luhur dan ia berada di Istanbul sebagai peserta program global Endeavour, yang sedang berusaha mempromosikan konsep High-impact entrepreneurship di negara-negara  berkembang.

Pak Niki yang masih berumur 28 tahun adalah Presiden Direktur PT Multi Adiprakarsa Manunggal yang mengusung bisnis merek Kartuku, yaitu perusahaan jasa pihak ketiga yang membantu melakukan poses transaksi pembayaran.

Saya selalu tertarik kisah sosok pengusaha muda sehingga saya ingin mengetahui lebih banyak tentang dia. Ketika sedang berada di Jakarta, kami mengadakan janji untuk bertemu dan berbicara di kantornya di kawasan Kuningan, Jakarta.

Lahir di Jakarta, Niki lulus dengan predikat magna cum laude dalam bidang Filsafat dan Psikologi dari Tufts University pada 2005. Awalnya dia bergerak di bidang keuangan tapi gairah hidupnya sebenarnya adalah di bidang teknologi. Ini dimulai ketika dia memenangkan kompetisi tingkat mahasiswa yang diselenggarakan oleh Cisco.
Kesempatan itu menghampirinya ketika dia pulang ke Indonesia pada 2006. Dia diminta untuk membantu menjalankan bisnis Kartuku. Sebelumnya, Kartuku hanyalah sebuah perusahaan kecil yang memiliki kantor di Jakarta dan Bandung dengan jumlah staf  yang sedikit.

Dengan cepat Niki memperluas fokus bisnis dari manajemen terminal estate menjadi jaringan solusi pembayaran end-to-end, meskipun bidang itu masih merupakan hal baru di Indonesia saat itu. Kartuku menyediakan produk dan jasa kepada klien perusahaan dalam melakukan pembayaran yang aman melalui metode yang tidak konvensional kepada perusahaan lain, pelanggan atau karyawan.

Sambil berbicara, Niki menunjukkan alat yang disebut mobile POS reader yang diharapkan bisa dirilis di kuartal kedua tahun 2013. Ini adalah semacam mini-ATM yang dapat dijalankan melalui perangkat ponsel pribadi. Saya membayangkan betapa mudahnya melakukan transaksi jika memiliki alat ini.

Tentu saja dalam menjalankan bisnis bidang teknologi ini, adalah penting bagi Niki untuk membujuk klien agar tidak hanya percaya Kartuku, tetapi juga untuk beralih dari metode tradisional dalam melakukan pembayaran. Banyaknya tantangan itu membuat Niki harus bekerja keras pada awalnya, tetapi usahanya itu sudah lunas terbayarkan.

Kartuku sekarang memiliki 39 kantor yang tersebar di lebih dari 108 kota di Indonesia dengan total 336 karyawan. Klien mereka termasuk bank-bank besar di Indonesia seperti Bank Mandiri dan CIMB Niaga, serta peritel seperti Carrefour dan Okeshop. Kartuku menargetkan bisa mencapai 100.000 point of sales pada akhir tahun ini dan rata-rata 25 juta transaksi dalam setahun. Bahkan Niki juga memiliki rencana membawa Kartuku go public 3 tahun hingga 5 tahun ke depan.

Ketika ditanya tentang tantangan utama perusahaannya, Niki mengatakan bahwa yang paling utama adalah sumber daya manusia. Dia merasa bahwa banyak manajer di Indonesia yang mengabaikan hal ini. Baginya, pemimpin bisnis harus bertanya pada diri sendiri: Bagaimana saya membangun bisnis ini? Bagaimana memotivasi karyawan sehingga mereka tidak hanya bekerja untuk gaji?

Niki kemudian mencoba untuk mengubah struktur manajemen top-down di Indonesia. Dia mengarahkan pekerjanya untuk melihat "gambaran besar" dari bisnis Kartuku, dan mengimplementasikan program-program untuk memotivasi karyawan, seperti program opsi saham dan rencana menyediakan tempat penitipan anak di kantor tahun 2013.

Berbicara dengan Niki, saya merasa bahwa ia merupakan tipe pengusaha yang sangat dibutuhkan Indonesia, yaitu pengusaha yang mampu memberikan nilai tambah dan inovasi.

Pertambangan dan perkebunan kurang maksimal dalam menciptakan pekerjaan yang berpenghasilan tinggi, serta dampak negatif dari segi politik dan lingkungan  terbukti sangat besar. Kontras dengan itu, dalam diri Niki, kita menemukan sosok pengusaha muda terdidik yang kreatif dan inovatif.

Seperti yang pernah saya tulis sebelumnya, tantangan utama bagi Indonesia adalah besarnya jumlah populasi yang tak memiliki rekening bank--diperkirakan sebanyak 30%.

Bisnis seperti Kartuku sangat penting karena mereka mampu membantu menyelesaikan masalah ini. Efek multipliernya jelas tidak bisa diremehkan dalam menyediakan akses, interkonektivitas dan efisiensi untuk individu maupun bisnis.

Niki benar-benar layak untuk digambarkan sebagai "high-impact entrepreneur", yaitu pengusaha yang mampu membawa pengaruh besar dan angin segar. Dan kita hanya bisa berharap semoga dia akan tetap baik-baik saja.