Kontan Online
  : WIB    --   
indikator  I  

Menanti aksi Sri Mulyani

Menanti aksi Sri Mulyani
Kepala Riset Universal Broker Indonesia

Melihat program tax amnesty sedang memasuki masa pelaksanaan dan sudah terlihat sedemikian matang. Enggak kebayang kapal yang baru saja berangkat, tiba-tiba nahkodanya diganti. Namun, akhirnya diumumkan Sri Mulyani menggantikan Bambang Brodjonegoro.

Kekagetan ini, menyebabkan saya sempat kehilangan perspektif di pertengahan pekan kemarin. Dengan kinerja emiten yang cenderung buruk, saya pikir, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pasti bergerak turun, market akan cenderung konsolidasi, karena bursa regional, juga cenderung bergerak turun. IHSG juga sedang berada di resistance kuat.

Eh..ternyata..IHSG menguat begitu juga rupiah... Sri Mulyani effect memang luar biasa.

Kembalinya Sri Mulyani sebagai Menteri Keuangan, ibarat mimpi di siang bolong. Maklum, pertumbuhan ekonomi yang belum membaik, defisit neraca perdagangan, melesetnya target penerimaan, dan komunikasi yang buruk pada beberapa tahun terakhir.

Sebenarnya harapan Menteri Keuangan harus diganti, muncul sejak lama. Namun, Presiden Jokowi lebih percaya kepada Bambang. Kita di pasar modal hanya bisa menerima nasib. Untungnya, ada kambing hitam bernama pertumbuhan ekonomi dunia yang berlangsung lamban.

Padahal, ketika mendukung Jokowi dalam Pilpres 2014, harapan dari pelaku ekonomi dan aktivis pasar modal sangat tinggi. Dengan visi Jokowi yang mementingkan pembangunan infrastruktur, perbaikan ekonomi dan berbagai program pengentasan kemiskinan, gambaran mengenai Indonesia yang lebih makmur, dengan pertumbuhan ekonomi double digit, sudah di depan mata.

Sayang, dengan berbagai kebijakan buruk di awal pemerintahan, terutama kenaikan harga bahan bakar minyak yang tinggi ketika harga minyak sedang turun, semua terasa bubar jalan. Yang ada tinggal "harapan", ke depan bakal lebih baik.

Kembalinya Sri Mulyani seakan menjadi jawaban akan harapan tersebut dan menyadarkan kita bahwa harapan bisa menjadi kenyataan. Prestasi Sri Mulyani sebagai Menteri Keuangan, pernah dicatat Wall Street Journal. "Ms Sri Mulyani cut public debt to 30% of gross domestic product, nearly doubled foreign direct investment in her first year, raised salaries for civil servants based on performance and boosted economic growth, which hit a high of 6,6% in 2007, and helped steer Indonesia through the global crisis as one of the top emerging markets. Tax revenue grew around 35% in 2008 following a sunset policy on tax delinquency that brought in millions of new taxpayers".

Melihat prestasi tersebut, sepertinya tax amnesty bakal berlangsung lebih baik. Investasi diharapkan meningkat dan diperluas dari berbagai negara (tidak hanya dari China) dan pertumbuhan ekonomi bisa lebih baik.

Kembalinya Sri Mulyani, diharapkan mengembalikan kepercayaan terhadap perekonomian Indonesia. Kepercayaan bahwa Jokowi mampu membawa Indonesia kepada pertumbuhan ekonomi tinggi. Itu yang membuat IHSG bergerak naik mencapai 5.300 dan rupiah terus.

Kembalinya Sri Mulyani mungkin bisa menjadikan IHSG 6.000–6.500 menjadi realita. Tapi masih banyak faktor yang harus diperhitungkan, banyak pertanyaan yang masih harus dijawab.

Visi Presiden Jokowi terlihat ke depan. Bagaimana melihat pasar sebagai sarana perbaikan ekonomi masyarakat, bagaimana pembangunan infrastruktur, membangun jalan tol, bendungan, membuat kartu-kartu yang sedemikian banyak.

Tapi, saking ke depannya, yang mengikuti seringkali bingung. Terkait dengan infrastruktur saja deh. Proyek sedemikian besar dan banyak. Hasil nyatanya sangatlah jelas: proyeknya mungkin belum jadi, defisit anggaran terus membengkak.

Di sisi lain, Sri Mulyani terkenal sebagai seorang figur yang prudent dan berani. Kalau mengingat krisis tahun 2008, kita bisa melihat bagaimana Sri Mulyani bisa bertahan di tengah tekanan berbagai pihak.

Memang sangat disayangkan, kemudian muncul kemelut Bank Century. Namun, para pelaku di pasar modal bisa melihat bagaimana Sri Mulyani melawan tekanan dari sebuah grup yang sangat besar, yang saat itu menjadi penguasa pasar modal, terus melakukan suspensi atas pergerakan harga sahamnya.

Nah, dengan kondisi defisit anggaran terus membengkak, timbul pertanyaan, Sri Mulyani akan berusaha memberikan pendapatan pajak dan utang sebesar-besarnya untuk memenuhi ekspansi proyek infrastruktur, atau akan bilang kepada Jokowi, "Pak, proyek infrastrukturnya direm dulu sedikit, duitnya terbatas Pak. Bapak harus mencocokkan keinginan dengan duit yang ada".

Kalau menurut hemat saya, Jokowi sepertinya bakal mengalah. Sri Mulyani mungkin bisa memberikan sumber pendanaan bagi proyek infrastruktur yang lebih besar dan lebih murah dibandingkan menteri yang sebelumnya. Tapi ini hanya feeling. Realitanya masih pertanyaan besar.

Kalau Anda lihat pergerakan IHSG pekan lalu, itu lebih diramaikan Sri Mulyani Effect. Spekulasi Sri Mulyani menjadi Menteri Keuangan. Tapi di akhir pekan, beberapa saham big caps dibanting, seakan-akan bilang, Sri Mulyani Effect adalah bullshit.

Sri Mulyani bukannya tanpa musuh. Keberanian di masa lalu, tentu memunculkan rival-rival. Rival-rival ini belakangan sudah lemah atau dilemahkan.

Pertanyaan berapa lama Sri Mulyani bisa bertahan, sebenarnya ditentukan Presiden Jokowi. Lawan terbesar Sri Mulyani saat ini adalah Presiden Jokowi. Bukan karena Jokowi merasa bahwa Sri Mulyani bakal menjadi pesaing pilpres 2019. Tapi, karena nafsu ekspansif Jokowi itu tadi.

Kesabanran Jokowi sepertinya bakal diuji. Sri Mulyani bakal menerapkan disiplin anggaran yang ketat. Seberapa lama Sri Mulyani bisa bertahan? Tergantung bagaimana Jokowi bisa menahan diri. Semoga saja Jokowi tidak segera bosan akan disiplin anggaran yang diterapkan oleh Sri Mulyani.

Sebenarnya masih banyak pertanyaan yang lain. Tapi hingga Minggu sore kemarin, pertanyaan inilah yang terus menari-nari di kepala saya. Saya hanya ingin bilang, Selamat Datang Kembali Ibu Sri Mulyani, Selamat Berjuang! Semoga Allah meridlai perjuangan kita semua dalam memperbaiki perekonomian Indonesia, mewujudkan Indonesia yang makmur dan bermartabat.

Happy trading, semoga barokah!