: WIB    —   
indikator  I  

Shale gas dan skenario energi global

Shale gas dan skenario energi global
Pengamat Asia Tenggara

SALAH satu artikel yang pernah saya tulis dalam Harian KONTAN adalah tentang shale gas. Sekadar mengingatkan kembali, shale gas adalah gas alam cair atau liquefied natural gas (LNG) yang terbentuk dari formasi serpihan bebatuan melalui proses yang dikenal dengan "fracking."

Dalam tulisan itu, saya sudah mengatakan bahwa gas shale akan mengubah skenario penggunaan energi secara global. Bukan bermaksud untuk menyombongkan diri, tetapi perkataan saya itu benar adanya.

Amerika Serikat (AS) yang merupakan konsumen energi terbesar kedua di dunia setelah China memiliki cadangan shale gas sangat besar, yakni 290 triliun meter kubik (860 trillion cubic feet)  berdasarkan data Badan Informasi Energi AS.
 
Sebagai negara yang selalu haus akan energi dan penciptaan lapangan kerja baru mendorong Amerika untuk melakukan revolusi terhadap shale gas secara serius.
Majalah The Economist edisi Juli 2012 memprediksi bahwa shale gas saat ini telah menyumbang  sepertiga pasokan gas Amerika Serikat,  dan pada tahun 2035 bisa mencapai 50%.

Selain itu, diperkirkanan revolusi shale gas ini bisa menciptakan tiga juta lapangan pekerjaan baru di Amerika Serikat pada 2020.

Apa arti semua ini bagi Asia Tenggara? Satu hal, munculnya shale gas telah menyebabkan jatuhnya harga komoditas energi lain, terutama batubara. Harga batubara telah turun sangat drastis dari rekor tertinggi US$ 192 per metrik ton pada Juni 2008 menjadi US$ 96 per metrik ton pada September 2012.

Dan, rasanya bukan sebuah kebetulan jika harga saham BUMI Plc kemudian anjlok dari GBP 14 pada April 2011 menjadi hanya 147 pound pada akhir September 2012. Begitu juga dengan harga saham Adaro yang menurun terseret penurunan harga komoditas.

Salah satu kelebihan shale gas adalah lebih bersih dari batubara. Hal ini menjadi daya tarik  bagi Jepang  yang kini sedang berusaha untuk mengurangi sumber energi nuklir setelah bencana di Fukushima baru-baru ini.

Selain itu, Amerika akan benar-benar memulai ekspor LNG. Michael A. Levi, anggota Council on Foreign Relations dalam analisisnya di The New York Times menjelaskan shale gas bisa menyumbang US$ 3 miliar untuk perekonomian Amerika.

Hal tersebut tentunya akan mengacaukan lini perdagangan LNG terutama di Asia Tenggara yang merupakan pemain-pemain lama di industri tersebut, termasuk Indonesia yang setiap tahunnya mengekspor batubara kurang lebih 24 miliar ton.

Sampai saat ini, industri LNG Asia Tenggara masih terikat kontrak jangka panjang. Menurut analisis Jeremy Grant dalam Financial Times, hal itu menyulitkan pergerakan permintaan regional terhadap energi karena dalam kontrak-kontrak tersebut, harga energi telah ditentukan bertahun-tahun  yang lalu.

Revolusi pasokan shale gas membuat kontrak-kontrak jangka panjang ini terlihat ketinggalan zaman. Tren saat ini lebih mengarah pada kontrak-kontrak jangka pendek atau spot trading komoditas LNG.  Perkembangan terbaru komoditas LNG ini mulai menjadi sebuah tren.

Sebagai contoh, Singapura kini sedang membangun terminal LNG senilai S$ 1,7 miliae di Pulau Jurong. Malaysia juga sedang membangun terminal penyimpanan, pemuatan, dan regasifikasi di Pangerang, Johor senilai MYR 4.08 miliar. Wilayah ujung selatan semenanjung Melayu dan Singapura ini akan menjadi pusat perdagangan global LNG. Di   2015, Asia Tenggara akan memiliki 10 terminal LNG dengan total kapasitas 34 miliar meter kubik.

Australia juga memiliki proyek pembangunan LNG skala besar. Salah satunya  proyek Gorgon senilai AUD 43 miliar di bagian barat Australia yang dijadwalkan mulai beroperasi pada 2015.

Lalu, bagaimana implikasi dari perkembangan-perkembangan tersebut? Shale gas akan mengubah cara berbisnis di Asia Tenggara terkait dengan pergeseran pada perdagangan dan penyimpanan, dimana menuntut peranan lebih besar dari para pedangang atau pelaku pasar daripada sebelumnya.

Namun pada skala yang lebih luas, perkembangan tersebut juga memiliki konsekuensi secara geopolitik. Shale gas tentunya menjanjikan tingkat kemandirian yang lebih tinggi dan pasar ekspor baru bagi Amerika.
 
Hal ini bisa mengubah arah kebijakan luar negeri AS di Timur Tengah, dan mendorong AS  untuk memberikan perhatian kepada Asia Pasifik sebagai poros Amerika untuk membendung kebangkitan ekonomi China.

Walaupun demikian, masih terdapat beberapa isu terkait perkembangan energi baru ini. Metode fracking yang digunakan untuk mengekstrak gas serpih masih kontroversial di Amerika karena ada kekhawatiran kegiatan tersebut akan mencemari pasokan air dan adanya kemungkinan dampak negatif lainnya.
 
Selain itu, masih ada perdebatan politik yang luas mengenai penggunaan LNG ini,  yaitu apakah Amerika sebaiknya langsung mengekspor komoditas tersebut atau menggunakannya hanya untuk konsumsi domestik.

Namun, tak seorang pun dapat memungkiri bahwa gas serpih merupakan game changer berskala global di industri energi. Sehingga penentu kebijakan dan para pemain dalam industri energi di Asia harus segera bersiap untuk perubahan besar di sektor energi ini.


Close [X]