: WIB    —   
indikator  I  

Memegang rahasia Coca Cola

Memegang rahasia Coca Cola
Kolumnis internasional serial entrepreneur dan pengajar, bisnis, berbasis di California.

Pasti Anda mengenal dengan baik logo dan merek Coca-Cola. Hampir setiap individu di seluruh penjuru dunia mengenal minuman bersoda berwarna hitam ini. Menurut Interbrand, Coca-Cola menduduki ranking ke-3 di tahun 2015, setelah Apple dan Google.

Sejarah minuman soda hitam ini diawali di Atlanta pada tahun 1886 oleh seorang ahli farmasi Dr. John S. Pemberton yang menciptakan sirup khusus yang dicampurkan dengan air soda. Mitranya Frank M. Robinson menamakan minuman tersebut Coca-Cola yang kemudian dicatatkan sebagai merek dagang.

Di awal abad ke-20, satu gelas dijual seharga US$ 5 sen per gelas dengan omzet 9 gelas per hari. Hari ini, volume penjualan Coca-Cola mencapai 1,9 miliar gelas.

Dalam iklan-iklannya, digambarkan kesegaran dan kebahagiaan menyertai minuman, ini seperti dalam kampanye Open Happiness yang telah Anda tonton di bioskop-bioskop dan siaran televisi. Bahkan berbagai ritual kultural, telah ditanamkan sejak tahun 1920-an dan 1930-an oleh para artis ternama, seperti Norman Rockwell, Haddon Sundblom dan NC Wyeth yang menghiasi iklan-iklan mereka.

Coca-Cola identik dengan The Good life in America. Meminum Coca-Cola, berarti Anda telah menikmati sedikit apa yang ditawarkan oleh kultur modern Amerika, termasuk perayaan Natal sekular dengan Santa Klaus berperut lebar khas versi mereka.

Penetrasi dalam kultur Amerika semakin mendalam dengan berbagai konsep, seperti Coke Dates, Coke Clubs, Coke Parties bahkan Coke Collections. Berbagai cenderamata telah menjadi koleksi berharga. The World of Coca-Cola merupakan gabungan amusement park dan museum yang mengkristalkan posisi merek berwarna merah ini sebagai ikon kultural dunia.

Namun, perjalanan Coca-Cola tidak semulus yang dibayangkan. Pada bulan Februari 1950, lima kementerian Prancis melakukan investigasi terhadap minuman tersebut.

Pemerintah Prancis menghentikan izin impor minuman berwarna hitam ini. Bahkan telepon Coca Cola disadap untuk kepentingan investigasi. Alasannya? Coca-Cola diduga merupakan alat Amerikanisasi Eropa. Dan tuduhan ini menyebabkan sentimen produk Prancis di AS sebagai bentuk retaliasi.

Di kantor pusat Coca-Cola di Atlanta (Amerika Serikat), kabar buruk penetrasi pasar Prancis tersebut ditanggapi dengan profesional. Mereka telah cukup terbiasa dengan berbagai halangan, seperti penolakan oleh para produser bir, anggur beralkohol, jus buah dan minuman bersoda lainnya. Di tahun yang sama, hanya sekitar 1/4 dari omzet US$ 230 juta berasal dari luar AS.

Enam pekan setelah salah satu pendiri Coca-Cola Robert Woodruff meninggal dunia di tahun 1985, manajemen menelurkan formula baru yang dikenal sebagai New Coke. Konsep baru ini ternyata tidak berjalan mulus. Terbukti sebanyak 8.000 telepon per hari berdering, yang berisi komplain konsumen. Lima pekan kemudian,

Coke Classic kembali diproduksi. Formula Coke Classic tetap menjadi favorit dunia hingga hari ini dan tetap merupakan rahasia terbesar perusahaan. Bagaimana rahasia formula Coca-Cola dipegang teguh hingga 130 tahun?

Sejak awal pendirian Bisnis, Coca-Cola menggunakan sistem franchise. Perusahaan tersebut hanya menjual konsentrat kepada mitramitra mereka yang disebut bottling partners yang ada di seluruh dunia.

Jadi, Coca-Cola memegang teguh formula, sistem pembotolan, strategi branding, dan strategi bisnis global. Bottling partner menangani manufaktur, distribusi, merchandising dan strategi lokal.

Profit Coca-Cola sebagai franchisor berasal dari volume konsentrat yang mereka jual kepada franchisee. Sedangkan franchisee (bottling partner)

mendapatkan profit dari banyaknya unit ritel yang terjual dalam bentuk botol atau kaleng. Baru-baru ini, Coca-Cola Company mengembangkan beberapa revenue model baru yang lebih dari sekedar profit berdasarkan unit konsentrat yang terjual. Ini mengingat semakin beragam produk yang dijual.

Formula Coca-Cola ada beberapa varian terbaru yang menargetkan pasar perempuan dan para health enthusiasts, yaitu Diet Coke, Coke Light, dan Coke Zero. Selain itu, mereka telah mengakuisisi beberapa merek dalam sektor minuman non-karbonat, seperti Glaceau (Vitamin water) dan Honest Tea (iced tea).

Strategi Bisnis Coca-Cola Company kini telah mengintegrasikan sistem franchise yang direvisi untuk multiproduk. Persyaratan bagi bottling partner juga telah diperketat dengan inisiatif ekologi yang ramah lingkungan, hemat listrik, dan hemat air.

Kita dapat memetik pelajaran berharga dari Coca-Cola. Pelajaran itu adalah fokus kepada core product hingga melegenda sebelum ekspansi sesuai perubahan perilaku konsumen.


Close [X]