Kontan Online
  : WIB    --   
indikator  I  

Nilai versus harga

Nilai versus harga
Staf Pengajar FEB-UI dan Pengamat Pasar Modal

Analisis fundamental mengandung kelemahan utama, yaitu mengabaikan aspek psikologis investor atau faktor sentimen pasar. Berbeda dengan analisis fundamental, analisis teknikal mengajarkan investor jangka pendek atau trader untuk tidak takut membeli saham pada harga tinggi jika kita dapat menjualnya pada harga yang lebih tinggi lagi.

Namun, ketika Anda sudah membeli sebuah saham kemahalan dan kemudian harga terkoreksi, biasanya Anda baru sadar telah bertindak bodoh. Dalam kondisi seperti ini, Anda akan terus berdoa, semoga saja ada orang yang lebih bodoh yang bersedia membeli saham saya pada harga lebih tinggi.

Sesekali mungkin masih ada investor seperti itu. Namun, lebih sering investor lebih bodoh yang ditunggu-tunggu itu tidak muncul. Saat itulah Anda akan merasakan penyesalan mendalam karena telah ikut-ikutan membeli di harga yang sudah tidak wajar lagi.

Investor mestinya menyadari prinsip dasar investasi dalam semua aset itu sejatinya sama, yaitu membandingkan nilai dan harga. Nilai adalah what we get atau worth, sementara harga itu what we pay atau cost.

Dalam ilmu ekonomi, kita mengenal tiga pasar, yaitu pasar barang dan jasa atau sektor riil, pasar finansial, dan pasar tenaga kerja. Sejalan dengan tiga pasar ini, investasi pun dapat dikelompokkan menjadi tiga. Untuk sektor riil, kita mengenal rumah, toko, ruko, apartemen, dan usaha. Sedang produk investasi di pasar keuangan adalah deposito, valuta asing, commercial paper (CP), saham, obligasi, ETF, Dana Investasi Real Estat (DIRE), reksadana, kontrak pengelolaan dana (KPD) dan reksadana penyertaan terbatas (RDPT). Terakhir, di pasar tenaga kerja, investasi dapat berupa studi lanjut, pelatihan, kursus, dan lokakarya.

Selain berbeda produk, ketiga pasar juga berbeda dalam variabel terpentingnya. Dalam pasar barang dan jasa, variabel paling menentukan adalah harga dan ilmu tentang harga. Penetapan harga oleh perusahaan ini dikenal sebagai ekonomi mikro. Sedang di pasar tenaga kerja, variabel yang paling signifikan adalah upah dan gaji. Di pasar keuangan, variabel terpenting adalah tingkat bunga dan padanannya yaitu tingkat diskonto, yield, dan return.

Kita mempunyai belasan istilah menggunakan kata bunga, seperti bunga biasa, bunga tepat, bunga flat, bunga sederhana, bunga majemuk, bunga nominal, bunga efektif, bunga diskrit, bunga kontinu, bunga mengambang, bunga tetap, counter rate, dan prime rate.

Yield dan return juga memiliki belasan hingga puluhan istilah yang menjadi bahasa sehari-hari investor dan praktisi keuangan. Ilmu yang mempelajari tingkat bunga, return, yield, dan seluk-beluknya ini adalah matematika tingkat bunga atau lebih populer dengan nama matematika keuangan. Sangat disayangkan jika mahasiswa bisnis dan akuntansi tidak diajarkan matematika ini dan hanya diberikan matematika ekonomi yang kurang relevan dan pengulangan matematika di SMA.

Kembali ke prinsip investasi membandingkan nilai dan harga. Prinsip dasar ini berlaku untuk investasi di semua pasar. Seseorang bersedia membeli tanah, properti, atau perusahaan tertentu karena memandang nilainya melebihi harga yang ditawarkan. Demikian juga ketika seorang investor membeli saham, ORI, sukuk ritel, dan obligasi korporasi.

Di pasar tenaga kerja, kita juga menyaksikan banyak orang bersedia membayar mahal untuk memperoleh pendidikan berkualitas, karena sudah terbayang gaji yang akan diterimanya ketika bekerja kelak . Biaya sekolah internasional di Jakarta ada yang sampai US$ 27.000 atau Rp 360 juta setahun, umumnya harus dibayar di muka. Namun, sekolah-sekolah ini tetap diminati banyak orang.

Untuk memperoleh gelar MM dari UI, mahasiswa kelas malam perlu dana Rp 100 juta lebih untuk biaya pendidikannya. Biaya sebesar ini 4-5 kali lipat biaya sekolah Magister Manajemen yang kualitasnya mediocre. Biaya pendidikan MBA di Harvard University bahkan setinggi US$128.000 (Rp 1,7 miliar) untuk dua tahun. Tapi, MM-UI dan MBA Harvard yang berbiaya tinggi justru lebih diminati daripada yang murah. Uang kuliah di salah satu program S3 di FEB-UI mencapai Rp 40 juta per semester dan pendaftar selalu berlimpah, sehingga yang diterima hanya belasan persen.

Prinsip ini berlaku universal untuk siapa pun, di mana saja dan kapan saja. Masalahnya, tidak seperti harga, nilai bersifat unobservable. Nilai saham cenderung stabil dalam jangka pendek, sementara harga saham dapat bergerak sangat volatil. Meski demikian, harga akan konvergen kepada nilainya dalam jangka panjang.

Tidak hanya dalam investasi, perbandingan nilai dan harga sejatinya juga kita lakukan saat membeli barang dan jasa, saat perusahaan menentukan gaji karyawan, dan saat karyawan memutuskan bertahan di perusahaan tempat bekerjanya.

Ketika ingin makan di restoran, menginap di hotel berbintang, memesan tiket pesawat terbang, membeli peralatan elektronik, atau memilih kendaraan pribadi, kita selalu membandingkan nilai yang kita peroleh dengan harga yang kita bayarkan. Jadi kita menghitung value for money-nya. Kita sering memburu tiket pesawat dan hotel murah saat ada pameran wisata.

Untuk pasar tenaga kerja, tak ada perusahaan yang bersedia membayarkan gaji seseorang di atas nilai orang itu untuk perusahaan. Di sisi lain, seorang karyawan yang merasa nilai dirinya tinggi juga tidak akan mau menerima pekerjaan dengan gaji yang jauh lebih rendah dari nilainya. Dia akan mencari perusahaan atau pekerjaan yang menggajinya sesuai nilai dirinya. Karenanya, konvergensi harga terhadap nilai juga berlaku di sini. Gaji seseorang dalam jangka panjang akan menuju nilai orang itu di pasar.

Jadi, cermatlah selalu dalam berinvestasi.