Kontan Online
  : WIB    --   
indikator  I  

Untung dilepas, rugi ditahan

Untung dilepas, rugi ditahan
Financial Expert-Prasetiya Business School

Alkisah, Si Telo ingin membeli saham PT Astra International Tbk (ASII). Karena sedang tidak punya uang, ia terpaksa harus menjual sahamnya yang lain. Ada dua pilihan yang bisa ia lakukan. Pertama, menjual saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI). Atau kedua, menjual saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA).

Saat itu, saham BUMI-nya masih menanggung kerugian sekitar 30% sejak dibeli (loser), sedangkan saham BBCA sudah memberikan keuntungan sebesar 30% (winner). Kemungkinan besar Si Telo akan lebih memilih menjual saham Bank BCA untuk merealisasikan paper gain (mencari pride atau kebanggaan) dan menghindari realisasi paper loss dari saham BUMI. Telo berpikir, jika ia menjual saham BUMI dan kemudian harganya ternyata naik, ia akan menyesal.

Kecenderungan mencari pride dan menghindari rasa penyesalan ini disebut "disposition effect" atau "get-eventinis". Ada kecenderungan, seorang investor lazimnya tidak mau menjual saham yang harganya sudah turun sebelum harga saham tersebut kembali ke level saat pertama kali ia beli (get even).

Sepertinya hal ini wajar. Tapi pilihan ini memiliki risiko sendiri, lo. Bahayanya, investor bisa terjebak menjual winners terlalu cepat dan justru memegang losers terlalu lama.

Apa yang menyebabkan fenomena ini? Prospect Theory dari Profesor Daniel Kahneman, pakar psikologi pemenang Nobel Ekonomi 2002, dan Profesor Amos Tverski, menjelaskan bahwa kenaikan harga saham US$1 pada saat investor sedang untung berbeda nilainya dengan penurunan harga saham US$1 pada saat investor sedang rugi. Saat rugi, investor lebih sedih dibandingkan saat dia untung.

Misalnya, A membeli saham X pada harga Rp 100 per saham. Saat harga saham tersebut naik jadi Rp 110, ia pasti gembira. Bagaimana kalau harga saham tersebut bukannya naik, tetapi malah turun menjadi Rp 90 per saham? A tentu akan merasa sedih. Nah, menurut Daniel Kahneman dan Amos Tverski, besaran kegembiraan investor akibat profit dari kenaikan harga saham Rp10 lebih kecil dibanding besaran kesedihan akibat kerugian dari penurunan harga saham Rp10.

Mereka menyebut gejala ini sebagai loss aversion. Investor cenderung lebih takut rugi daripada ingin untung. Saat investor sedang berada di zona profit, ia cenderung lebih takut pada risiko, sehingga bisa dengan sigap menjual saham-saham yang sudah untung. Namun saat investor berada di zona loss, investor justru jadi lebih berani mengambil risiko dengan menahan lebih lama saham yang sedang merugi.

Sebuah penelitian empiris di Amerika Serikat mengamini fenomena ini. Schlarbaum dan kawan-kawan, pada 1978, menganalisis hubungan antara jangka waktu memegang saham (holding period) dengan imbal hasilnya. Hasilnya menarik.

Untuk holding period satu bulan, imbal hasilnya adalah 45%. Untuk holding period 2-6 bulan, 6-12 bulan dan di atas 12 bulan, imbal hasilnya masing-masing mencapai 7,8%, 5,1% dan 4,5%. Ini bukti bahwa investor cepat menjual big winners dan menahan losers hingga harga naik kembali ke level semula atau sedikit lebih tinggi.

Apa implikasi dari bias psikologis ini? Menjual winners terlalu cepat membuat investor kehilangan kesempatan untuk memperoleh keuntungan lebih besar, jika performa saham tersebut terus membaik. Sebaliknya, menahan losers terlalu lama bakal makin merugikan investor jika performa saham tersebut semakin memburuk.

Penelitian di Amerika Serikat pada 1998 oleh Terrance Odean mengonfirmasi hal ini. Ketika investor menjual winners, tahun berikutnya saham-saham tadi bisa menghasilkan keuntungan 2,35% di atas keuntungan indeks pasar. Sebaliknya, saat menjual losers, tahun berikutnya saham-saham ini menghasilkan keuntungan yang 1,06% lebih rendah dari keuntungan indeks pasar.

Sebagai contoh di bursa saham kita, bagi investor yang pernah membeli saham BUMI atau BNBR di kwartal pertama 2008, akan mengerti pedihnya memegang saham losers terlalu lama. Saham-saham tersebut mengalami penurunan harga yang tajam. Hingga kini saham losers tersebut belum berubah jadi winners.

Menghindari risiko dengan menahan losers terlalu lama tidak sama dengan segera menjual saham ketika harga turun tajam, misal 5% hingga 10%. Bisa jadi penurunan ini hanya bersifat sementara akibat sentimen sesaat. Misalnya saham bank di BEI yang sempat tertekan di awal tahun 2011. Ketika kekhawatiran atas high inflation mereda, harga saham bank segera rebound dan melejit hingga saat ini.

Bagi investor jangka panjang, saham-saham blue chip yang mengalami penurunan harga masih bisa di-hold sekitar enam bulan. Jika tidak ada perbaikan kinerja barulah saham tersebut dijual dan dananya dipakai untuk membeli saham lain yang punya prospek lebih cerah.

Sebuah penelitian terbaru (Leal, Louleiro dan Armada, 2016) mengindikasikan, bahwa investor saham di Portugal juga terjangkit virus selling winners too early. Investor Portugal bahkan bukan hanya memegang saham yang rugi terlalu lama, mereka menambah jumlah saham yang sedang merugi. Strategi ini, yang juga sering disebut averaging down, banyak dipakai oleh para trader dan investor saham..

Dengan averaging down, rata-rata harga beli saham menjadi turun sehingga investor yang merugi bisa lebih cepat kembali ke posisi impas (break even) alias tidak untung tapi juga tidak rugi, bahkan untung. Perilaku investor membeli lebih banyak saham loser bisa menjadi strategi investasi yang buruk karena mengalokasikan terlalu banyak dana ke saham yang sejatinya kurang bagus.