Kontan Online
  : WIB    --   
indikator  I  

Mimpi ketemu Cak Lontong

Mimpi ketemu Cak Lontong
Pengamat Pasar Modal

Hare gene, katanya yang namanya seorang pemimpin itu harus bisa marah-marah. Karena untuk membenahi masalah yang ada, seorang pemimpin itu tidak cukup hanya berteori, lalu membuat wacana, rencana, program, tetapi juga harus bisa mengeksekusi.

Pemimpin harus berani turun langsung ke bawah, mengeksekusi program yang disusun, mengawasi langsung pelaksanaannya, sehingga ketika timbul masalah bisa mengatasi.

Kalau menurut saya, pemimpin yang cuma bisa membikin program tetapi tidak melakukan eksekusinya, itu namanya bukan pemimpin. Sebagai contoh: Fauzi Bowo membuat program Jakarta Emergency Dregding Initiative (JEDI). Tapi dia bukan pemimpinnya.

Jokowi yang mulai melaksanakan program itu juga bukan pemimpinnya. Karena Jokowi kan sudah tidak di sini lagi, jadi Jokowi bukan pemimpinnya.

Menurut saya pemimpinnya adalah Basuki Tjahaja Purnama, yang melaksanakan eksekusinya. Dia yang berada di puncak pimpinan ketika hasilnya terlihat, kali di Jakarta menjadi bersih. Terserah orang mau bilang apa, pokoknya Ahok adalah pemimpin!

Seorang pemimpin bisa marah-marah ini menjadi sangat pemimpin. Beberapa waktu yang lalu juga sempat beredar berita mengenai pemimpin lain yang marah-marah, dalam bentuk reportase Kompas TV atas kegiatan Ibu Risma.

Beliau saat itu sempat digadang-gadang sebagai calon kuat Gubernur DKI Jakarta. Memang, saat ini usaha penyingkiran Risma dari posisi Walikota Surabaya berhasil digagalkan Basuki Tjahaja Purnama dengan menyetujui maju sebagai calon dari PDIP dalam Pilkada DKI.

Saya takjub melihat video Ibu Risma tersebut. Saya sampai menonton video tersebut bolak-balik di Youtube. Video itu sampai terekam benar di kepala saya.

Saya kemudian melamun, sembari memandang lepas pemandangan Kota Bandung yang mendung dan berkabut. Tiba-tiba, datang Cak Lontong menepuk bahu saya. Tanpa babibu, dia langsung berujar, "Coba Mas Tommy pikirkan, pasar modal kita itu sudah lama enggak maju-maju. Jumlah pemodalnya sulit melewati angka 1 juta penduduk. Sampai jungkir balik juga BEI baru bisa dapet 500.000 hingga minggu kemarin," kata dia.

Saya tentu heran dan langsung protes. "Loh? Cak Lontong, sampeyan itu siapa? Kok suruh-suruh saya?" seru saya.

"Saya ini komisioner OJK," kata dia. Setelah itu, tanpa bisa direm, Cak Lontong langsung nyerocos ke saya. Dia menanyakan proses membuka akun sebagai investor membutuhkan waktu berapa lama.

Saya pun menjawab apa adanya. Pembukaan akun alau cepat bisa 5-7 hari. Tapi kalau nasabahnya seenaknya, pembukaan akun bisa sampai 2-3 minggu. Formulir buka akun, kan, harus bolak-balik dari nasabah ke sekuritas sampai lengkap. Kalau nasabah mengisinya lewat formulir online, itu bisa beberapa kali kirim bolak balik sehingga butuh setidaknya seminggu. Lantas form dikirim ke bank untuk buka Rekening Dana Nasabah. Itu butuh minimal tiga hari kerja. Setelah itu diproses ke KSEI untuk pembukaan rekening efek. Paling cepat butuh waktu dua minggu.

Mendengar jawaban saya, Cak Lontong tampak heran. "Bagaimana bisa selama itu? Kalau lama begitu kan pemodalnya bisa batal buka rekening. Dalam dua minggu, harga saham juga bisa kemana-mana? Coba Mas Tommy bayangkan, ada investor mau buka rekening saat harga masih rendah. Ketika akun sudah jadi, harga sudah tinggi. Dia beli, terus nyangkut. Rugi kan? Iya kalau dia diam saja. Kalau kemudian menuntut perusahaan sekuritas, apa nggak tutup perusahaan sekuritasnya?" protes Cak Lontong.

Cak Lontong terus berceloteh. Menurut dia, proses pembukaan akun yang lama ini membuat susah investor. Apalagi kalau investor itu investor pemula. Kalau sampai duit si investor pemula malah nyangkut, alih-alih hasil investasinya berkembang, malah investor jadi stres. "Pak Tommy, orang yang sahamnya nyangkut itu enggak enak. Dosa kalau bikin orang sampai tidak bahagia," kata Cak Lontong lagi.

Bukan cuma investor nyangkut yang bakal susah. Menurut Cak Lontong, kalau tenaga marketing sekuritas itu ternyata adalah tenaga marketing lepas yang tidak mendapat gaji tetap dari perusahaan sekuritas, dia juga bisa ikut susah. Kalau nasabah ternyata gagal didapat, investor gagal bertransaksi, dia mau kasih makan apa ke keluarganya, anak istrinya?

Cak Lontong masih terus nyerocos sambil terheran-heran. Malah, Cak Lontong mulai marah-marah. Di zaman internet seperti sekarang, membuka akun saja masih butuh 2-3 minggu. "Masa di zaman online begini mau jadi investor saja butuh waktu 2-3 minggu? Saya enggak mau tahu, pokoknya Pak Tommy harus perbaiki!" kata Cak Lontong sambil marah-marah. Menurut dia, untuk apa membangun sistem sampai mengeluarkan biaya ratusan miliar bahkan triliunan, kalau masih butuh waktu yang lama untuk menjadi seorang investor.

Cak Lontong pun berpesan ke saya, jangan sampai saya ikut menciptakan investor yang nyangkut. ""Tolong jangan merasa dirinya paling bisa, paling hebat. Akhirnya nanti orang lain yang jadi rugi kalau Pak Tommy sok pintar dan sok berkuasa. Orang-orang seperti Pak Tommy ini ada agar pasar modal kita menjadi lebih maju, investor berdatangan, pemerintah tidak kesulitan kalau mau cari dana pembangunan," kata dia.

Tiba-tiba, terdengar suara istri saya, "Mas, bangun dong. Anaknya harus dianter balik ke boarding school, kalau nggak mau dihukum". Weleh, ternyata semua tadi hanya mimpi. Untung bukan realita. Bisa hancur hidup saya kalau dimarahi pejabat OJK seperti itu.