Kontan Online
  : WIB    --   
indikator  I  

Buy what you know

Buy what you know
Financial Expert Prasetiya Mulya Business School

Jika Anda merasa bahwa memilih saham itu sulit, belajarlah kepada Peter Lynch. Ia adalah seorang fund manager atau pengelola dana investor terhebat.

Peter Lynch mengawali karier sebagai pegawai magang di Fidelity Investments pada 1966. Pada 1977 Lynch dipercaya sebagai fund manager yang mengelola reksadana Magellan Fund senilai US$ 18 juta. Saat Lynch pensiun pada 1990, nilai aset Magellan Fund telah menjadi US$ 14 miliar, tersebar di lebih dari 1.000 macam saham.

Selama kurun waktu tersebut, Magellan fund memberikan rata-rata imbal hasil 29,2% per tahun. Imbal hasil ini jauh di atas rata-rata imbal hasil portofolio pasar, bila diukur dengan indeks saham S&P 500, yang hanya 11% per tahun. Selama 13 tahun tersebut, Lynch berhasil mengalahkan pasar (beat the market) di 11 tahun antaranya. Artinya imbal hasil reksadana yang ia kelola melebihi imbal hasil pasar (S&P 500).

Tak heran, ketika ia memutuskan pensiun sebagai fund manager pada usia 44 tahun, banyak investor yang merasa kehilangan. Siapa lagi yang dapat memberikan imbal hasil 29,2% per tahun kecuali Peter Lynch?

Peter Lynch hanya mau berinvestasi pada saham yang dia mengerti. Menurutnya, tempat terbaik untuk mencari saham bagus adalah di sekitar tempat tinggalnya, misalnya mal.

Seseorang sering menemukan saham bagus di mal, sebelum analis di Wall Street menemukan saham tersebut. "Saya menemukan beberapa dari saham terbaik saya saat makan atau berbelanja," kata Lynch. "Anda tidak harus menjadi pemrogram untuk tahu Microsoft ada ke manapun Anda melihat. Semua komputer baru dilengkapi sistem operasi Microsoft."

Di buku One up on Wall Street, Peter Lynch membuka rahasia sukses membeli saham Hanes, perusahaan apparel, di tahun 1970-an. Saat itu Hanes mencoba menjual stoking wanita dengan merek Leggs di tempat yang tak lazim, yaitu supermarket.

Hanes menaruh Leggs bersama permen karet, baterai dan alat cukur di rak dekat kasir. Strategi ini didasarkan pada hasil riset bahwa wanita 12 kali lebih sering pergi ke supermarket daripada department store.

Ketika sang isteri menceritakan tentang Leggs, Lynch segera mencium potensi sukses produk ini. Setelah melakukan sedikit riset tambahan terhadap Hanes, Lynch memutuskan untuk membeli saham ini. Leggs menjadi salah satu produk konsumer terlaris di AS pada dekade 1970 dan Lynch menikmati keuntungan dari kenaikan harga saham Hanes sebesar 500%.

Kisah menarik lain adalah saat Peter Lynch mengumpulkan siswa SMU di Massachusetts tahun 1990. Ia memberi mereka modal untuk membeli saham.

Salah satu kelompok siswa membentuk portofolio saham yang kinerjanya ternyata bagus sekali. Portofolio saham mereka menghasilkan keuntungan 70% setahun, jauh di atas indeks pasar (S&P 500) yang hanya 26%. Mereka bahkan mengalahkan mayoritas reksadana yang dikelola oleh fund manager profesional.

Peter Lynch lalu mencari tahu rahasia atau alasan para siswa tersebut dalam memilih saham. Ternyata mereka memilih saham perusahaan-perusahaan yang menghasilkan produk yang mereka gunakan sehari-hari. Misalnya, Mc Donald, Dysney, Nike, Wal Mart, IBM, National Pizza, Kellog, Hasbro. Ternyata siswa SMU menerapkan strategi yang mirip dengan Lynch, yakni "Buy what you know"

Penasaran dengan strategi minimalis tetapi hasilnya maksimal ini? Mari kita coba membentuk portofolio saham dengan cara seperti itu. Pilihlah saham yang produknya, baik barang atau jasa, kita gunakan sehari-hari.

Sebagai contoh, kita susun portofolio yang terdiri atas saham Bank BCA (karena kita pakai ATM-nya dan punya KPR-nya), Bank BRI (punya kartu kreditnya), Indofood CBP (sering makan larut malam dengan Indomie), Sari Roti (sarapan dengan roti tawarnya setiap hari), Astra International (punya Toyota Avanza, mobil sejuta umat), Unilever (pakai sabun mandi dan cuci, odol, serta samponya), Telkom (telepon seluler pakai Telkomsel).

Kita juga pilih saham Jasa Marga (tiap hari masuk tol), Bumi Serpong Damai (tinggal di daerah ini), Kalbe Farma (obat-obatan yang sering dipakai), Matahari Department Store (andalan untuk keperluan sandang keluarga) dan saham Elang Mahkota Teknologi (SCTV, saluran favorit untuk nonton sinetron). Kinerja portofolio 12 saham tersebut selama lima tahun terakhir tersaji pada tabel.

Ternyata hasilnya luar biasa. Portofolio kita bertumbuh rata-rata 22,7% per tahun, jauh di atas rata-rata pertumbuhan IHSG per tahun yang cuma 8,3%.

Namun menemukan perusahaan yang menjanjikan hanya separuh bagian dari langkah investasi. Separuh lainnya adalah melakukan riset terhadap perusahaan yang ingin dibeli. Kita akan belajar dari Peter Lynch untuk hal ini di artikel saya berikutnya. Stay tune!