: WIB    —   
indikator  I  

Menuju Indonesia yang marah...eh...ramah

Menuju Indonesia yang marah...eh...ramah
Pengamat Pasar Modal

Indonesia itu negeri yang indah. Tuhan seakan menghamparkan ribuan pulau di sekitar garis katulistiwa. Tidak seperti Filipina dan Hong Kong yang langganan kena taifun, Tuhan juga melindungi Indonesia dari angin jahat ini. Meski, tetap saja Tuhan meletakkan Indonesia di tengah sabuk api aktif, yang rawan gempa dan rawan letusan gunung berapi.

Indonesia juga terkenal memiliki penduduk yang ramah. Senyum Indonesia sudah lama jadi pelengkap keindahan dan kekayaan alam yang dimilikinya. Lalu, Pilkada 2014 berlangsung.

Saat itu, kekuatan yang bertarung adalah kekuatan lama melawan kekuatan baru. Saya enggak mau berbicara mengenai kekuatan lama ini. Kalau Anda orang lama di pasar modal, pasti sudah tahu. Sedang kekuatan baru adalah kekuatan yang mendukung pembangunan infrastruktur, melakukan pembangunan ekonomi berbasis kerakyatan, memangkas subsidi, dan lain sebagainya. Karena ekonomi baru ini dinilai lebih rasional, pasar modal mendukung ekonomi baru ini. Kalau kekuatan baru terlihat di atas angin, harga saham dan IHSG naik. Kalau kekuatan lama di atas angin, harga saham dan IHSG bergerak turun.

Kekuatan baru ini kemudian memenangkan pertarungan. Ketika itu, pada saat Jokowi dilantik menjadi Presiden, IHSG ditutup di 5.040,53. Setelah itu, apakah lalu IHSG bergerak naik?

Kemarin, di tanggal 20 Oktober 2016, 2 tahun setelah Jokowi diangkat jadi Presiden, IHSG mengakhiri pergerakan di level 5.403,69. Sekilas terlihat, dalam dua tahun masa pemerintahan Jokowi, IHSG bisa naik 363,16 poin. Ini setara dengan kenaikan sebesar 7,2%. Bagus?

Kalau cuma sekedar melihat kenaikannya memang terlihat bagus. Tapi, kalau melihat volatiltasnya, di mana IHSG sempat mencapai titik terendah di 4.033,59 atau terkoreksi 19,97% sebelum kembali naik, rasanya masih banyak kekurangan yang seharusnya diperbaiki. Ada beberapa hal yang menjadi sorotan kami selama dua tahun terakhir ini.

Pertama, komunikasi kebijakan yang buruk. Arus informasi saat ini bisa mengalir cepat. Perkembangan internet, media sosial berlangsung sedemikian hebat. Saat ini orang di seluruh Indonesia memiliki kecepatan yang sama dalam mengakses informasi, selama dia memiliki akses internet. Berita enggak penting di media sosial bisa berdampak besar secara nasional ketika berita itu di-blow up dengan benar. Apalagi tingkat pendidikan masyarakat tidak merata. Alhasil, berita apapun, kalau diolah sedikit saja, pengaruhnya bisa sedemikian besar.

Masalahnya, pemerintahan Jokowi belum juga menyadari cara komunikasi yang baik. Buktinya, harga saham masih sering turun cuma karena ada pejabat negara, baik Menteri atau bahkan Jokowi sendiri, yang mengeluarkan pernyataan tanpa berpikir bagaimana reaksi masyarakat (pasar) terhadap informasi tersebut.

Terakhir, harga nikel dunia sampai sempat jatuh ketika PJS Menteri ESDM memberi pernyataan tak jelas mengenai ekspor komoditas petambangan dalam bentuk konsentrat. Apa ndak jadi gila masyarakatnya kalau terus seperti itu?

Kedua, masalah perencanaan dan pengelolaan anggaran yang buruk. Tapi masalah ini sebenarnya sudah bisa dianggap selesai ketika Sri Mulyani kembali diangkat jadi Menteri Keuangan. Problem memang masih ada, yakni mengembalikan anggaran ke level yang lebih realistis. Ini tidak semudah membalikkan telapak tangan. Terlebih lagi, masih banyak pengamat ekonomi, dan kadang juga wartawan, yang gagal move on. Mereka dengan santainya bilang target pemerintah tidak realistis, padahal yang bikin target bukan Ibu Sri Mulyani.

Ketiga, masalah Indonesia yang marah-marah. Saya bukan ahli ekonomi. Tapi, saya sering merasa IHSG bisa naik kencang kalau ekonomi kita menuju ke arah yang lebih baik. IHSG bisa naik lebih kencang kalau rakyat merasa kondisi keamanan terlihat kondusif. Kalau negara aman, ekonomi melenggang. Negara aman, rakyat lebih nyaman melakukan kegiatan ekonomi. Pertumbuhan ekonomi berlangsung stabil.

Masalahnya, setelah Pilpres 2014, caci-maki, umpatan, penyebaran kebencian, masih terus berlangsung. Di satu sisi, mereka yang gagal move on terlihat terus berusaha bertarung.

Di sisi lain, teori korban akan jadi pemenang yang berhasil digunakan SBY untuk memenangkan Pilpres 2004, masih terus dipakai oleh sebagian pihak. Mereka ini, berusaha untuk mengumpat dirinya sendiri, kemudian melakukan pembelaan bahwa dia teraniaya. Padahal... mereka sendiri yang memancing dan membuat pertarungan di medan di mana mereka bisa terinjak. Tapi ketika diinjak, mereka teriak paling keras. Mau sampai kapan kita terus gaduh dan marah-marah seperti ini?

Kita sudah memasuki akhir Oktober. Di November, orang pasar modal biasanya sudah mulai ngomong outlook pasar modal tahun depan. Outlook IHSG 2017 secara teknikal jelas bagus. Target teknikal saya untuk IHSG tahun depan, sudah mulai di atas level psikologis 6.000.

Masalahnya, saya belum bisa menemukan alasan yang masuk akal bagi IHSG untuk bisa mencapai level tersebut. Outlook IHSG secara fundamental masih belum jelas. Masih sulit melihat dari kinerja emiten karena baru sedikit yang merilis kinerja kuartal tiga. Variabel ekonomi dua bulan terakhir cenderung memburuk. Indeks kepercayaan konsumen terlihat terus turun.

Yang bisa bikin saya optimistis hanya faktor Sri Mulyani. Tapi, apa faktor itu saja cukup? Apalagi ada pemain songong yang membuat harga saham BUMN lapis kedua bergerak liar, sehingga PER jadi tidak masuk akal.

So, saya masih galau menatap tahun depan. IHSG, sih, naik, tapi enggak jelas. Mana Indonesia marah sepertinya akan berlangsung hingga awal 2017, saat Pilkada 2017 diselenggarakan. Saya jadi merindukan Indonesia yang ramah.


Close [X]