Kontan Online
  : WIB    --   
indikator  I  

Kacang Lupa Kulitnya

Kacang Lupa Kulitnya
Pengamat Manajemen dan Kepemimpinan

Pembaca, kita pasti pernah mendengar dan juga mengucapkan pepatah tua di atas. Biasanya, kalimat kacang lupa kulitnya kita atribusikan kepada orang-orang yang melupakan dan mengabaikan sumbangsih pihak lain bagi keberhasilan hidupnya. Bisa saja, itu berlaku bagi seorang anak yang lupa akan jasa orangtuanya atau seorang murid yang alpa akan peran gurunya, dan juga seorang karyawan yang abai akan kontribusi atasannya.

Intinya, saat kesuksesan menjelang, tak jarang orang terdorong untuk membusungkan dada setinggi-tingginya, seolah-olah memproklamasikan bahwa dialah aktor tunggal yang berjasa atas prestasi dirinya. Tak ada sumbangan orang lain, betapa pun dekat dan berjasanya sosok-sosok tersebut.

Sesungguhnya, urusan melupakan jasa ini tak hanya terjadi pada orang lain. Bahkan, kita pun bisa melupakan jasa diri kita sendiri. Melalui studi perilaku yang dilakukannya sepanjang 20 tahun, Dacher Keltner, seorang guru besar psikologi di University of Berkeley, California, (dalam tulisannya Managing Yourself, Dont Let Power Corrupt You, Oktober 2016) menemukan pola perilaku manusia yang mencengangkan sekaligus juga menyedihkan.

Umumnya, seseorang meraih kedudukan dan jabatan yang lebih tinggi karena memiliki sifat dan tindakan yang mengutamakan kepentingan orang lain, semisal empati, kolaboratif, terbuka, adil dan semangat berbagi (sharing). Namun, tatkala mulai merengkuh kekuasaan dan menikmati jabatannya yang sarat privelege, sifat dan tindakan mulia di atas pun segera menghilang. Orang seolah-olah meninggalkan masa lalu dan melupakan kualitas diri yang dulu pernah mengiringi perjalanan kariernya, dan seketika itu juga berubah menjadi sosok yang kasar, mementingkan diri sendiri, dan tak sungkan untuk berperilaku tak etis.

Keltner menyebut fenomena seperti ini sebagai the power paradox, yakni saat kedudukan/jabatan mengooptasi pikiran seseorang untuk bersikap dan bertindak-tanduk menurut azas kekuasaan, sembari meninggalkan nilai-nilai keutamaan hidup sebagai manusia. Dan, gejala seperti ini ternyata tak hanya terjadi dalam lingkungan pekerjaan profesional, namun juga terjadi di arena pendidikan, politik dan juga olahraga.

Dalam konteks korporasi, studi juga menunjukkan bahwa mereka yang menduduki jabatan tinggi tiga kali lebih sering melakukan aktivitas tak elok dibandingkan dengan karyawan pada umumnya. Aktivitas tak menyenangkan dimaksud, antara lain memotong omongan rekan kerja, sibuk melakukan hal lain pada saat rapat bersama, meningkatkan volume suara saat bicara, hingga mengucapkan kata-kata penghinaan yang kasar.

Dengan berjalannya waktu, perilaku tak pantas tersebut akan bergulir dan menggelinding menjadi sikap tak etis, yang perlahan namun pasti akan merusak integritas yang bersangkutan sebagai pemimpin. Kalau sudah demikian halnya, keruntuhan reputasi akan sekadar menunggu waktunya.

Kasus pelanggaran prinsip akuntansi oleh Jeffrey Skilling di Enron, pengadaan bonus ilegal oleh Dennis Kozlowski di Tyco, pesta penuh fantasi Silvio Berlusconi adalah beberapa contoh ikonik perilaku tak etis yang merobohkan tiang integritas kepemimpinan seseorang.

Self-awareness

Benarlah apa yang jauh-jauh hari sudah diingatkan oleh sejarawan dan politisi Inggris abad 19, Lord Acton, bahwa power tends to corrupt, and absolute power corrupts absolutely. Ide ini bukanlah sekadar petuah bijak dari seorang guru moral, namun juga merupakan sebuah tesis yang sudah teruji dalam studi laboratorium sosial.

Secara psikologis, kekuasaan membuat seseorang masuk ke dalam keadaan mental manic, yakni merasa begitu bersemangat, menggebu-gebu, tak ada rasa takut, serba bisa, penuh dengan keinginan, dan seolah-olah tanpa batas. Akibatnya, seseorang juga cenderung berpikir ambisius, bersikap semaunya, bertindak seturut kehendaknya sendiri, bahkan melampaui aturan sosial dan batasan etis.

Tidaklah mengherankan, jika kita menemukan orang yang sedang memangku kekuasaan menganggap dirinya bak makhluk setengah dewa, yakni manusia yang tak hidup dan tunduk pada nilai-nilai kemanusiaan itu sendiri.

Keltner menyimpulkan bahwa pengembangan self-awareness adalah cara terbaik untuk mengatasi gejala power-paradox. Self-awareness adalah kemampuan seseorang untuk memahami dan mengelola dunia di dalam (inner-world) dirinya sendiri, entah itu perasaan, pikiran dan juga kehendak.

Seseorang dengan self-awareness yang tinggi tetap akan berpikir cermat, bertindak tenang, dan berkehendak baik. Ia tak akan larut dalam kondisi manic yang secara laten terkandung dalam kedudukan dan kekuasaan seseorang. Sebaliknya, senantiasa ingat dengan kemuliaan sikap manusia, seperti syukur kepada Yang Ilahi, empati dengan orang lain, serta bekerja bagi kemaslahatan bersama.

Self-awareness mengingatkan kita agar kacang tidak lupa pada kulitnya, yakni kulit kemanusiaan yang sejati. Orang Jawa menyebut self-awareness dengan kata eling.