Kontan Online
  : WIB    --   
indikator  I  

Monopoli Luxottica dan Kacamata

Monopoli Luxottica dan Kacamata
Kolumnis internasional serial entrepreneur dan pengajar bisnis, berbasis di California

Dalam industri kacamata, yang sekarang populer dengan terminologi eyewear, ada ilusi luar biasa. Fenomena ini tidak banyak diketahui publik, padahal setiap individu pasti mempunyai kacamata. Ada kacamata minus, plus, dan sunglass penangkal sinar matahari.

Di optik-optik premium, seperti Optik Tunggal, Optik Seis dan Optik Melawai, harga rangka (frame) mencapai jutaan bahkan puluhan juta rupiah. Ditambah lensa yang dipertipis, anti gores, anti pantulan dan lensa photochromic yang berganti warna ketika terkena sinar matahari, harga akhir sepasang kacamata bisa mencapai jutaan bahkan puluhan juta rupiah.

Pertanyaannya, mengapa harga frame kacamata demikian tinggi? Jawabannya: ada penguasaan pasar yang mendekati monopoli dari manufaktur frame kacamata di Italia, Luxottica (LUX).

Perusahaan publik asal kota Agordo di Italia Utara ini berdiri pada tahun 1961 oleh Leonardo Del Vecchio. Awalnya hanya sebuah bengkel kacamata yang memproduksi komponen-komponen produk semi finished. Di tahun 1971, Luxottica mulai menawarkan frame kacamata pada pameran perdagangan MIDO di Milan.

Hari ini, perusahaan tersebut menguasai 70% pangsa pasar dunia untuk prescription frame, sunglass frame dan sunglass lenses. Mereka tidak bermain dalam sektor prescription lens (lensa minus atau plus). Daftar sebagian merek-merek eyewear produksi Luxottica bisa dilihat di http://www.luxottica.com/en/eyewear-brands.

Pendapatan perusahaan publik ini mencapai US$7,65 miliar dengan operating income US$1,16 miliar di tahun 2014. Total aset US$9,6 miliar dan ekuitas US$4,93 miliar. Perusahaan ini mempekerjakan 77.734 pegawai di mancanegara.

Pernahkah Anda bertanya, mengapa harga sepatu Christian Louboutin belasan juta rupiah per pasang? Tas Hermes ratusan juta rupiah? Apakah ongkos produksinya sangat tinggi? Jawabannya, kemungkinan besar biaya produksi tidak seberapa.

Dalam kasus Luxottica, harga jual bisa puluhan kali lipat production cost. Tampaknya, harga hanya sebuah angka yang berani dibayarkan konsumen.

Produk kacamata merupakan perpaduan seni, teknologi dan kenyamanan yang hanya dapat diperoleh dari produk-produk berkualitas premium. Luxottica mampu menggabungkan ketiganya secara genial.

Strateginya, menguasai produksi dari hulu ke hilir, mengakuisisi kompetitor secara agresif dan mempengaruhi kultur pop global. Rinciannya, satu, Luxottica menguasai manufaktur frame kacamata merek-merek ternama berkat teknologi dan kualitas premium dengan biaya produksi rendah. Bisa dipahami mengapa para desainer fashion dan eyewear company memilih meng-outsource manufaktur kepada mereka. Dari beberapa sumber terpercaya, penulis mendapat informasi, biaya produksi hanya sekitar 1/20 dari harga ritel.

Dua, Luxottica memiliki jaringan ritel. Seperti Lenscrafters, Pearle Vision, Sears Optical, Target Optical, Sunglass Hut, Glasses.com, dan Onesight. Sunglass Hut, dapat dijumpai di Indonesia.

Tiga, Luxottica menguasai 70% pangsa pasar dunia. Sehingga hampir setiap toko kacamata di dunia menjual produk-produk Luxottica agar ada variasi produk untuk pilihan konsumen. Toko kacamata yang tidak menjual produksi Luxottica merasa ketinggalan zaman, mengingat mayoritas produk-produk terkini dan tergaya dengan kualitas premium diproduksi oleh Luxottica.

Empat, Luxottica mengakuisisi Oakley dan Ray-Ban yang merupakan merek-merek legendaris untuk pasar sunglass. Ray-Ban adalah perusahaan Amerika Serikat yang awalnya milik Bausch & Lomb, diakuisisi Luxottica di tahun 1999 senilai US$ 640 juta. Oakley diakuisisi di tahun 2007 senilai US$ 2,1 miliar.

Lima, Luxottica memiliki divisi EyeMed VisionCare, semacam perusahaan asuransi kesehatan mata yang dibundel bersamaan benefit kesehatan perusahaan tempat kerja konsumen. EyeMed ini mempunyai 39 juta anggota di AS.

Enam, kepercayaan para desainer kelas dunia seperti Chanel, Prada, Giorgio Armani, Burberry, Versace, Dolce and Gabbana, Miu Miu, Donna Karan, Stella McCartney, dan Tory Burch yang kerap diberitakan di berbagai media massa dunia ikut melambungkan permintaan besar produk-produk Luxottica.

Hingga artikel ini ditulis, di AS, kompetitor Luxottica tinggal segelintir, yaitu Walmart, Costco, dan Warby Parker (online). Di Indonesia dan Asia, produk-produk buatan China dan Jepang masih mempunyai tempat sekadarnya untuk pangsa pasar menengah ke bawah.

Strategi bisnis tepat, menguasai dari hulu ke hilir, teknologi dan pengaruh kultur pop sangat bisa melambungkan bisnis kecil hingga menggurita. Jenis produk juga sangat menentukan keberhasilan. Kacamata mempunyai nilai krusial akan eksistensi seseorang, sehingga harga hanya suatu angka bagi konsumen.