Kontan Online
  : WIB    --   
indikator  I  

Investor konservatif

Investor konservatif
Senior Advisor PT BNP ParibasInvestment Partners

Kita sudah membahas pengkategorian investor berdasarkan tingkat penerimaan risiko investasi. Investor dengan kategori konservatif memiliki tingkat penerimaan risiko paling rendah, atau bahkan ada yang menyebutnya sebagai risk averse investor alias investor yang tidak senang risiko.

Risiko berinvestasi sering dimaknai sebagai adanya potensi kerugian. Namun sejatinya, risiko investasi berkaitan dengan ketidakpastian imbal hasil.

Mengapa investor konservatif menyukai investasi pada deposito dan tidak menyukai investasi pada saham? Karena imbal hasil deposito sudah dapat dipastikan (dijamin) dan diketahui di muka. Sementara investasi di saham tidak ada yang menjamin karena memang tidak pasti. Hal ini karena adanya fluktuasi harga saham yang naik turun setiap saat. Ketidakpastian akibat fluktuasi harga inilah yang memungkinkan seorang mengalami kerugian.

Bagi investor konservatif, tujuan utama berinvestasi umumnya ada dua. Pertama, untuk menjaga keamanan modal yang ditanamkan. Tidak masalah imbal hasil yang rendah asal tidak merugi. Kedua, lebih mengutamakan pendapatan (income) yang tetap daripada peningkatan nilai investasi. Pendapatan yang tetap seperti bunga deposito atau kupon obligasi yang dibayarkan secara berkala, menjadi pertimbangan utama mereka dalam memilih investasi.

Investor konservatif biasanya terdiri dari mereka yang memiliki akumulasi kekayaan dan ingin melindungi nilai kekayaan tersebut agar tidak berkurang. Kelompok lain, mereka yang harus memanfaatkan pendapatan berkala (hasil bunga atau bagi hasil deposito/obligasi) dari akumulasi dana yang sudah ditempatkan, misalnya dari pesangon atau dana pensiun, untuk biaya hidup.

Seseorang bisa juga masuk dalam kategori investor konservatif karena kurang pengetahuan tentang konsep profil potensi imbal hasil dan risiko investasi serta karakteristik suatu instrumen investasi. Banyak kasus ketika seseorang mau belajar lebih banyak dan bisa memahami tentang karakteristik setiap instrumen investasi, maka tingkat penerimaan risiko mereka meningkat. Tapi, bukan berarti setiap orang harus belajar meningkatkan kategorinya, karena menjadi investor konservatif juga sebuah pilihan, terlepas dari tingkat pengetahuan seseorang.